Mau nanggapin..kali ini serius dan tanpa HENTAI (sebisa mungkin..)
        
        

        Salam Sejahtera...
        
        Pada Sabtu, 22 September 2007, Erianto Rachman menulis:
        
        > Sekarang kita tau mengapa Dia disebut Maha Esa.
        
        Kita ? Saya rasa yang Anda maksud adalah menurut keyakinan garis
Abraham / Nabi 
        Ibrahim (Islam, Yahudi dan Kristen [Katolik dan Protestan]).
Umat Hindu, Buddhis, 
        Zoroaster dan lainnya tentunya memiliki pengalaman tersendiri.
        
        Rekan-rekan Buddhis dan Hindu di sini mungkin bisa menyuarakan
itu. Sekalian 
        tolong diajak teman baru kita yang dari RRC (People Republic of
China) / Taiwan.
        
>>>> Saya bkn mewakili siapa2 di sini. Menurut saya, faktor 'Tuhan' itu
kompleks. Secara tidak sadar, faktor Tuhan ini
ditempeli 'sifat2' oleh manusia agar manusia lebih 'mengerti' siapa atau
apa yg dimaksud dengan 'Tuhan' ini. Kata 'Esa' diberikan untuk
menggambarkan sifat Tuhan ini, tetapi pada saat yg sama, manusia
memberikan label 'maha kuasa' bagi sang Tuhan ini.

Menurut saya, jgn2, pemahaman manusia akan Tuhan itu dibatasi oleh
batasan2 yg dibuat agama...




        > Alam semesta ini tercipta karena sebuah kehendak. Maka
jadilah.
        
        Mungkin saja karena 'kecelakaan'. Pada masanya gereja Katolik
pernah beranggapan 
        bahwa manusialah (Bumi) makhluk yang diutamakan. Nyatanya Paus
Johannes Paulus II 
        kemudian mengakui bahwa tindakan mereka pada Galileo Galilei
adalah hal yang tidak 
        dapat dibenarkan.
        
>>>> no comment

        > Kalau Zat yang satu itu adalah cikal bakal alam semesta dan
segala isinya
        > ini, maka kita adalah bagian dari-Nya.
        
        Hmmm... ini mengingatkan saya pada "The Matrix"... yang juga
menyentuh paham 
        kebuddhaan, bahwa pada akhirnya segala makhluk -dalam hal ini
yang 'berkesadarn' 
        seperti manusia- akan bersatu (absorbed) dengan Sang Pencipta.

>>>> lebih mirip ajaran New Age..
        
        > Human, the Final Frontier, these are the journeys of the last
humans, its
        > destiny, to learn and gain new meanings and new values, to
fatefully go
        > where no others has gone before.
        
        Salah adegan mengesankan dalam SW adalah ketika dilakukan rapat
konfederasi, 
        ketika Puteri Amidala berbicara di depan senat. Perhatikanlah
ada berapa banyak 
        senator yang mewakili sistem masing-masing ! Pada saat itu,
kira-kira di mana 
        terletak keberadaan UFP pada garis waktu yang sama ?
        
        Manusia -kalau keberadaannya masih berlanjut- terus akan
berevolusi, termasuk 
        dalam ragawinya. Yang kita jadikan ukuran pada saat ini, bisa
jadi hanya menjadi 
        bagian terkecil pada saat itu (1.000.000 tahun setelah
sekarang).
        
        Perbatasan Terakhir yang Terakhir (The Ultimate Final Frontier),
berada di luar
        pemikiran kita, jauh sekali...
        
>>>> Waktu adegan itu, saya terpaku pada mbak Amidala...ga merhatiin
para senator2 .

Kirim email ke