Ikutan ya...........
 
Memang masalah terbesar kita adalah kebersihan.  Obyek wisatanya cantik, tapi 
sampah, masih berserakan.
(Toh ada bagian kebersihan, kasihan dia makan gaji buta, nggak dikasih 
kesempatan nyapu (he ??)). 
Masyarakat masih senang buang sembarangan. Terkadang dari mobil mewah sampahpun 
di lempar ke jalan.
Bagaimana kalau kita menggalang kebersihan di kalangan sendiri dulu, tanpa 
membuang sampah, walaupun itu kulit kacang saja ?
 
 
Hari H-1 Lebaran, saya & anak keliling Jakarta yang berkurang penduduknya & 
jalanan gak macet.
Anak saya nyeletuk : "Lebaran depan kesini lagi, tapi mulai hari H-3, biar aku 
bisa menikmati kecantikan Jakarta seutuhnya"
Kebetulan dia senang gedung/bangunan bersejarah atau dengan arsitektur unik.
 
Salam,
Ery

--- On Mon, 10/13/08, riko vu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: riko vu <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [indobackpacker] Unek unek Pariwisata Indonesia
To: "indobackpacker" <[email protected]>
Date: Monday, October 13, 2008, 6:27 AM






Ikutan nimbrung boleh yah....

ada beberapa faktor menurut saya kenapa pariwisata kita ini amburadul (walaupun 
menurut saya walapun amburadul tapi menjamin beberapa objek wisata yang indah 
dapat dikunjungi dengan murah).
Pertama, karena indonesia sangat luas dan sangat besar sehingga perlu 
pemerintah daerah untuk memetakan tempat-tempat wisata yang ada di tempatnya 
masing2. hal ini sepertinya tidak pernah di lakukan. sehingga dulu saya coba 
menstimulasi para tripper (saya tidak menggunakan istilah backpacker karena 
untuk mengakomodasi semua orang yang suka jalan/berpariwisata ) untuk menggali 
dan memetakan objek2 wisata di daerahnya masing2 dan membuat Journey untuk 
mengeksplore daerahnya masing2. makanya saya menggagas membuat Jakarta Journey 
yang Alhamdulillah berlangsung 2 kali (walaupun beberapa email yang masuk 
kesaya sempat mencibir, apa yang mau di eksplore di jakarta? toh ternyata 
banyak yang antusias ikutan tuh... bernostalgia ke TMII, norak-norakan di 
monas, liat2 burung di pulau seribu, tinggal di pulau dll dsb). harapannya 
setiap daerah juga membuat journey seperti ini, tapi kenyataannya sampai 
sekarang sepertinya belum ada tuh......
Kedua, secara cost, berwisata keluar negeri mungkin lebih murah dan lebih 
prestisius dibandingkan berwisata di dalam negeri. sekedar gambaran, penginapan 
backpacker kualitasnya jauh lebih bagus dari pada penginapan di Indonesia dan 
yang pasti mereka mengutamakan keamanan buat tamunya.
Ketiga, objek wisata kita yang akan sudah terkenal luas biasanya akan menjadi 
sangat jorok, kotor, dan sangat.... komersil. sedangkan yang ingin kita jual 
yah objek wisata tersebut, sedangkan objek wisata yang masih alami, indah dan 
terawat hanya di ketahui oleh segelintir orang (komunitas) yang saling share 
melalui mulut ke mulut, email ke email bukan melalui departemen pariwisata. 
contoh nih: awal di temukannya dreamland di bali, tripper bule sangat 
merahasiakannya karena khawatir jika di ketahui masyarakat lokal hasilnya akan 
menjadi sangat komersil. sekarang liat hasilnya.... .???? sudah gila-gilaan 
komersilkan wilayah tersebut. salah satu contoh lagi.... sebuah pulau yang 
ditemukan rekan2 divers yang memiliki alam bawah laut yang indah dekat dengan 
Jakarta (yah ga jauh-jauh banget sih) akhirnya menjadi cottage mewah yang 
sangat mahal sehingga rekan2 divers yang dulu setelah menyelam lalu kemping di 
pulau tersebut menjadi tidak bisa berlabuh di
pulau tersebut karena harus bayar. (yah akhirnya pulau tersebut menjadi cottage 
yang kurang terawat, abis mahal sih walaupun akhir ini jadi semakin murah 
karena sering kasih promo dan penawaran. can you guest the island?)
Dll yang mungkin masih banyak hal-hal yang perlu di perbaiki.

Intinya sih saya mau bilang kalo mau mengangkat budaya dan pariwisata sekitar 
kita, yah kita sendiri yang angkat nanti juga ngetop sendiri tuh budaya dan 
pariwisata.
ditunggu daerah-daerah untuk mengadakan journey yang mengangkat budaya dan 
pariwisata daerahnya masing-masing.
nanti kita tripper seluruh indonesia akan berbondong-bondong datang memeriahkan 
acara. gimana ada yang berani???

Regards,
Bang Rik
penggagas Jakarta Journey.

[Non-text portions of this message have been removed]

 














      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke