Soal perbedaan harga, saya tidak terlalu keberatan, foreigner itu juga saya yakin tidak terlalu keberatan, mengingat nilai tukar rupiah masih rendah dibandingkan dengan uang mereka. Masalahnya saya pikir lebih kepada, bagaimana caranya, tips and trick buat si petugas ini untuk membedakan antara wisdom dan wisman ? Apa sebatas dari penampilan saja, atau dari bahasa yang dipakai ? Atau dari warna kulit ? Atau dari apa ???
Maaf, tanpa bermaksud mendiskreditkan yah.. yang saya bicarakan ini kenyataan, mungkin untuk memberikan gambaran kesulitan si petugas membedakan wisman dan wisdom, saya pernah bertemu dengan serombongan wisatawan di daerah Pangandaran. Wajah mereka sudah khas oriental, lalu saat berbicara antara mereka sendiri mereka menggunakan bahasa bukan bhs Indonesia ( mandarin or something like that lah..saya kurang tau) tapi ternyata mereka semua adalah WNI asal Jambi ?? Nah loh ??? Kalau sudah begitu...gimana cara membedakannya, selain kartu identitas ? Kritik buat petugasnya sih, mungkin pendekatan secara personal lebih efektif, tidak perlu kasar - kasar untuk menanyakan identitas seseorang bukan ?? Serta kembali introspeksi diri sendiri saja juga lah....sekali lagi minta maaf, bukan bermaksud mendiskreditkan atau SARA yah... Nah yang paling membuat saya bete kalo pergi ke tempat wisata memang saat di "kejar-kejar" pedagang asongan itu lho... Pengalaman serupa juga saya alami sewaktu mengunjungi Borobudur bersama keluarga 2 tahun lalu. Enggak usah yang turis bule, kita aja yang orang lokal di uber - uber sama pedagang asongan. Halah... serasa artis aja !! Terus terang, saya yakin kejadian sejenis bukan cuma terjadi di Borobudur. Bahkan terjadi juga di Bali yang masyarakatnya sebagian besar sangat sadar bahwa mereka menggantungkan hidup dari pariwisata. Saat ke Besakih dan Tanah Lot, saya diberondong oleh pedagang asongan yang notabene adalah anak - anak sementara para ibunya mengamati dari jauh.... membuat saya jadi jatuh iba dan akhirnya membeli juga dari mereka sekaligus tidak habis pikir.... ada saja akalnya... Sepertinya ada salah kaprah bahwa orang asing (bule dan sejenisnya) serta orang kota selalu datang dengan kantong - kantong penuh uang, sudah begitu mendarah daging sampai mereka lupa bahwa wisatawan perlu dibuat nyaman supaya mau datang kembali dan otomatis bisa membuat dagangan mereka laku bukan cuma sekali seumur hidup. Saya rasa ini masalah kurangnya pembinaan dari dinas pariwisatanya saja dan kurangnya kepedulian terhadap nasib pariwisata bangsa sendiri. Mungkin ada anggota milis yang kerja di sudin pariwisata ? Thanks & regards, Julia [EMAIL PROTECTED] . This email and any files transmitted with it may be confidential and may also be privileged. It is intended solely for the use of the individual or entity to whom they are addressed. If you are not the intended recipient, please email the sender immediately by replying to this message and delete the material from any computer. The message is attributed to the sender and may not necessarily reflect the view of Croda International Plc, its subsidiaries or associates. Part of Croda International Plc, registered in England no: 206132 Registered Office: Cowick Hall, Snaith, Goole, East Yorkshire DN14 9AA [Non-text portions of this message have been removed]
