Komentar saya,
- Pariwisata itu industri yang mendatangkan profit / benefit secara tidak 
langsung, pakai trickle down effect, memang ngga mungkin industri ini cuman 
dipelihara dari revenue tiket masuk; terlalu absurd dan kalau mau di hitung 
beneran semua dari tiket masuk, pasti
harga nya akan jauh lebih mahal (atau setidaknya seharga ancol contohnya).

untuk world heritage , ketika landscape dan lingkungan benar2 harus dijaga 
(sehingga tidak bisa bikin kegiatan perekonomian yang agak massal) saya setuju 
untuk masuknya
disesuaikan dengan harga kegiatan maintenance nya.

satu lagi,
kalau objek wisata itu kita hargai dengan murah sekali masuknya, maka kelakuan 
orang2 yang masuk di dalamnya juga akan sembarangan dan tidak menghargai (tp 
ini pendapat pribadi)

harga murah jika memang mereka ini adalah student / atau anak muda di bawah 25 
th yang bisa merangsang anak2 muda ini berwisata mandiri / group tur atau 
senior citizen.

Saya ngga setuju, harga dibedakan untuk asing dan lokal,....
apalagi pintu di bedakan,....
mungkin kita sadar di belahan dunia lain ada yg mendukung orang2 dunia ketiga 
agar hak2 nya di samakan tapi disatu sisi, ketika mereka pergi ke Indonesia 
mereka ternyata di bedakan, di lihat aneh, dilihat lumbung duit, padahal 
mungkin beberapa mereka juga cuman mahasiswa atau pelajar, yang akan mengurangi 
kemungkinan mereka berkunjung kembali (a.k.a kapok)

Saya setuju kalau di daerah turis memang seharusnya pajak ke kota nya cukup 
tinggi untuk menjadi feedback yang bagus buat kegiatan pemeliharaaan 
lingkungan. karena buat saya kegiatan turism ini jika diukur dengan ekologikal 
footprint, pasti tinggi dan punya dampak langsung terhadap kondisi lingkungan, 
apalagi jika yang kita tuju itu tempat wisata alam.
jadi: lihat objek nya gratis, tapi kasih sumbangan untuk pemeliharaannya besar.

segini masukan...

salam


Tito


--- On Wed, 11/5/08, Gwan Hien Oei <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Gwan Hien Oei <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: Fw: [indobackpacker] semoga bisa diperbaiki (was Re: Pengalaman 
ngga menyenangkan di Borobudur)
To: [email protected], [EMAIL PROTECTED]
Date: Wednesday, November 5, 2008, 2:00 AM


menurut saya sebaiknya pintu masuk dibuat 2. satu pintu untuk turis lokal, satu 
pintu lagi untuk turis asing. jadi pintu masuk dibuat berbeda. kalau pintu 
turis lokal ada kewajiban untuk menunjukkan kartu identitas KTP/SIM/Paspor, 
jadi kalau sudah lewat pintu masuk ya tidak usah diperiksa lagi, karena kan 
sudah menunjukkan di pintu masuk. sedangkan pintu masuk untuk turis asing tidak 
perlu ada kewajiban menunjukkan kartu identitas, siapa tahu ada turis lokal 
yang berbaik hati mau menyumbang lebih lalu membeli tiket turis asing, ya 
silakan saja. jadi dibuat aja berbeda, seperti pengalaman waktu nyebrang lewat 
kereta dari HK-ShenZhen dan sebaliknya. warga lokal HK/SZ ada jalur sendiri, 
sedang warga asing diberi jalur sendiri. jadi tidak perlu ditegur, cukup pakai 
rambu-rambu yang jelas, sehingga tidak ada yang merasa tersinggung. sehalus 
apapun orang menegur kita, tetaplah kita akan terasa oleh tegurannya. meskipun 
halus, tapi dalam hati kita akan berkata
emang kita tidak mirip warga indonesia? trus yang mirip warga indonesia itu 
seperti apa? karena itu penggunaan rambu yang jelas akan mengurangi perasaan 
tidak enak ini.

Kirim email ke