menurut saya sebaiknya pintu masuk dibuat 2. satu pintu untuk turis lokal, satu 
pintu lagi untuk turis asing. jadi pintu masuk dibuat berbeda. kalau pintu 
turis lokal ada kewajiban untuk menunjukkan kartu identitas KTP/SIM/Paspor, 
jadi kalau sudah lewat pintu masuk ya tidak usah diperiksa lagi, karena kan 
sudah menunjukkan di pintu masuk. sedangkan pintu masuk untuk turis asing tidak 
perlu ada kewajiban menunjukkan kartu identitas, siapa tahu ada turis lokal 
yang berbaik hati mau menyumbang lebih lalu membeli tiket turis asing, ya 
silakan saja. jadi dibuat aja berbeda, seperti pengalaman waktu nyebrang lewat 
kereta dari HK-ShenZhen dan sebaliknya. warga lokal HK/SZ ada jalur sendiri, 
sedang warga asing diberi jalur sendiri. jadi tidak perlu ditegur, cukup pakai 
rambu-rambu yang jelas, sehingga tidak ada yang merasa tersinggung. sehalus 
apapun orang menegur kita, tetaplah kita akan terasa oleh tegurannya. meskipun 
halus, tapi dalam hati kita akan berkata
 emang kita tidak mirip warga indonesia? trus yang mirip warga indonesia itu 
seperti apa? karena itu penggunaan rambu yang jelas akan mengurangi perasaan 
tidak enak ini.
contoh luar negeri seperti di HK ataupun Singapore, semua jalan dan tujuan 
mempunyai rambu-rambu dan petunjuk yang jelas, sehingga bila anda berada disana 
akan merasa aman dan tidak akan kuatir untuk tersesat atau disesatkan orang 
lain. selain itu harusnya petugas benar-benar mengatur para pedagang, tidak 
boleh berdagang keluar dari wilayah yang sudah ditetapkan, sehingga para 
pengunjung merasa nyaman. tirulah Singapore yang tidak punya apa-apa tapi bisa 
mengemasnya menjadi sangat menarik dan membuat nyaman para pendatang.
 
GH
 
 


--- On Tue, 11/4/08, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Fw: [indobackpacker] semoga bisa diperbaiki (was Re: Pengalaman ngga 
menyenangkan di Borobudur)
To: [email protected]
Date: Tuesday, November 4, 2008, 10:13 PM






Soal perbedaan harga, saya tidak terlalu keberatan, foreigner itu juga
saya yakin tidak terlalu keberatan, mengingat nilai tukar rupiah masih
rendah dibandingkan dengan uang mereka. Masalahnya saya pikir lebih
kepada, bagaimana caranya, tips and trick buat si petugas ini untuk
membedakan antara wisdom dan wisman ? Apa sebatas dari penampilan saja,
atau dari bahasa yang dipakai ? Atau dari warna kulit ? Atau dari apa ???

Maaf, tanpa bermaksud mendiskreditkan yah.. yang saya bicarakan ini
kenyataan, mungkin untuk memberikan gambaran kesulitan si petugas
membedakan wisman dan wisdom, saya pernah bertemu dengan serombongan
wisatawan di daerah Pangandaran. Wajah mereka sudah khas oriental, lalu
saat berbicara antara mereka sendiri mereka menggunakan bahasa bukan bhs
Indonesia ( mandarin or something like that lah..saya kurang tau) tapi
ternyata mereka semua adalah WNI asal Jambi ?? Nah loh ??? Kalau sudah
begitu...gimana cara membedakannya, selain kartu identitas ?
Kritik buat petugasnya sih, mungkin pendekatan secara personal lebih
efektif, tidak perlu kasar - kasar untuk menanyakan identitas seseorang
bukan ?? Serta kembali introspeksi diri sendiri saja juga lah....sekali
lagi minta maaf, bukan bermaksud mendiskreditkan atau SARA yah...

Nah yang paling membuat saya bete kalo pergi ke tempat wisata memang saat
di "kejar-kejar" pedagang asongan itu lho...
Pengalaman serupa juga saya alami sewaktu mengunjungi Borobudur bersama
keluarga 2 tahun lalu. Enggak usah yang turis bule, kita aja yang orang
lokal di uber - uber sama pedagang asongan. Halah... serasa artis aja !!
Terus terang, saya yakin kejadian sejenis bukan cuma terjadi di Borobudur.
Bahkan terjadi juga di Bali yang masyarakatnya sebagian besar sangat sadar
bahwa mereka menggantungkan hidup dari pariwisata. Saat ke Besakih dan
Tanah Lot, saya diberondong oleh pedagang asongan yang notabene adalah
anak - anak sementara para ibunya mengamati dari jauh.... membuat saya
jadi jatuh iba dan akhirnya membeli juga dari mereka sekaligus tidak habis
pikir.... ada saja akalnya...

Sepertinya ada salah kaprah bahwa orang asing (bule dan sejenisnya) serta
orang kota selalu datang dengan kantong - kantong penuh uang, sudah
begitu mendarah daging sampai mereka lupa bahwa wisatawan perlu dibuat
nyaman supaya mau datang kembali dan otomatis bisa membuat dagangan mereka
laku bukan cuma sekali seumur hidup.
Saya rasa ini masalah kurangnya pembinaan dari dinas pariwisatanya saja
dan kurangnya kepedulian terhadap nasib pariwisata bangsa sendiri.

Mungkin ada anggota milis yang kerja di sudin pariwisata ?

Thanks & regards, Julia
julia.sendjaja@ croda.com

..

This email and any files transmitted with it may be confidential and may also 
be privileged. It is intended solely for the use of the individual or entity to 
whom they are addressed.
If you are not the intended recipient, please email the sender immediately by 
replying to this message and delete the material from any computer.

The message is attributed to the sender and may not necessarily reflect the 
view of Croda International Plc, its subsidiaries or associates.

Part of Croda International Plc, registered in England no: 206132
Registered Office: Cowick Hall, Snaith, Goole, East Yorkshire DN14 9AA

[Non-text portions of this message have been removed]


















[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke