saya setuju, pendapat anda benar juga. kalau cuma mengharapkan pendapatan dari tiket masuk, benar terlalu absurd, kalau dihitung benaran pasti jatuhnya jadi mahal. juga untuk tiket masuk yang terlalu murah, menurut saya memang akan membuat pengunjung tidak menghargai tempat tersebut, tapi tidak semua pengunjung mempunyai pendapat dan sifat seperti itu, tapi kecenderungan itu memang ada benarnya. untuk pintu yang dibedakan memang kalau pengunjung dari asing cuma sedikit, pintu tersebut sia-sia, tapi kalau sudah agak banyak dan lokal juga sangat-sangat banyak sehingga mau masuk saja harus antri maka pintu tersebut akan berguna, mereka tidak menganggap itu perbedaan, tapi mereka menganggap itu fasilitas, sama seperti anda kalau mau nonton Bola, Sirkus atau naik kereta api, ada kelas ekonomi, bisnis atau eksekutif, apa itu pembedaan lalu ingin persamaan hak? kenapa tidak ada yang protes karena tiket dibedakan? tentu karena ada beda kelas maka ada beda fasilitas. misalnya kalau dari pintu eksekutif atau asing mereka akan mendapatkan souvenir dan boleh masuk waktu subuh, tapi souvenir juga harus terbatas dan tidak dijual umum dan dari segi design juga harus sering ganti desain jangan itu-itu aja selama bertahun-tahun, atau kalau perlu ada serinya, mirip seperti serinya Disneyland, sehingga jangankan yang asing, yang lokal seperti sayapun kalau ingin mengejar sunrise dan souvenir tersebut saya jadi rela bayar tiket yang lebih mahal. itu karena bisa lihat sunrise dan ada souvenir edisi terbatas, apalagi kalau souvenir tersebut sampai berseri, tiap periode mempunyai souvenir yang berbeda. dan saya malah bangga kalau bisa masuk lewat pintu eksekutif/asing tersebut meskipun saya lokal, dan saya tidak akan merasa dibedakan, dibanding bila saya ditegur/ditanya kamu warga indonesia atau asing, karena :1. saya bisa mendapatkan souvenir edisi terbatas/berseri. 2.ikut membantu dengan cara membayar lebih untuk melestarikan peninggalan budaya bangsa. karena itu pintar-pintar kita untuk memanajenya. jadi harus memiliki manajemen lintas bidang, seperti marketing, landscape, hiburan, seni dan desain, dll. kalau marketingnya pintar mereka bisa menumbuhkan rasa nasionalis bagi pengunjung lokal sehingga mereka akan memilih tiket yang lebih mahal, tapi memang pengunjung lokal seperti ini tidak banyak, paling mereka yang mampu saja dan terbuka hatinya yang mau membeli tiket ini. omong-omong jangankan $11, kalau memang saya dapat souvenir khusus dan tidak mendapatkan gangguan apapun sehingga saya bisa tenang menikmati tempat wisata tersebut, saya rela bayar $15 untuk tiket masuk, kenapa saya jauh-jauh ke Borobudur yang jelas tiket pp sudah menghabiskan uang lebih dari 1juta, penginapan diatas 200rb/malam, tapi $15 tidak mau bayar? ini kan aneh, kalau $15 tidak mau bayar ya lebih baik tidak usah berangkat jadi jauh lebih hemat lagi. jadi jangan pesimis soal harga tiket, positive thinking pasti hasilnya bisa besar kalau dikelola dengan benar. dan saya yakin seyakin-yakinnya, masih jauh lebih banyak penduduk indonesia yang peduli terhadap Borobudur, cuma mereka tidak tahu cara membantunya, jadi dengan era informasi sekarang ini saya yakin pengelola Borobudur/wisata indonesia akan cepat belajar, menurutku mereka juga ikutan buka/baca forum-forum tentang wisata dan disana mereka akan tahu kekurangannya, dan semoga forum Indobackpacker ini bisa mengubah wajah dunia pariwisata Indonesia menjadi lebih baik. jadi kritiklah sebanyak-banyaknya untuk kemajuan Wisata Indonesia, kalau ada kritik diharapkan juga ada yang memberi solusi, siapa tahu ada yang berwenang terhadap dunia wisata indonesia yang ikut membaca dan terbuka hatinya. GH
--- On Wed, 11/5/08, gito muhammad <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: gito muhammad <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [indobackpacker] semoga bisa diperbaiki (was Re: Pengalaman ngga menyenangkan di Borobudur) To: [email protected] Date: Wednesday, November 5, 2008, 2:12 AM Komentar saya, - Pariwisata itu industri yang mendatangkan profit / benefit secara tidak langsung, pakai trickle down effect, memang ngga mungkin industri ini cuman dipelihara dari revenue tiket masuk; terlalu absurd dan kalau mau di hitung beneran semua dari tiket masuk, pasti harga nya akan jauh lebih mahal (atau setidaknya seharga ancol contohnya). untuk world heritage , ketika landscape dan lingkungan benar2 harus dijaga (sehingga tidak bisa bikin kegiatan perekonomian yang agak massal) saya setuju untuk masuknya disesuaikan dengan harga kegiatan maintenance nya. satu lagi, kalau objek wisata itu kita hargai dengan murah sekali masuknya, maka kelakuan orang2 yang masuk di dalamnya juga akan sembarangan dan tidak menghargai (tp ini pendapat pribadi) harga murah jika memang mereka ini adalah student / atau anak muda di bawah 25 th yang bisa merangsang anak2 muda ini berwisata mandiri / group tur atau senior citizen. Saya ngga setuju, harga dibedakan untuk asing dan lokal,.... apalagi pintu di bedakan,.... mungkin kita sadar di belahan dunia lain ada yg mendukung orang2 dunia ketiga agar hak2 nya di samakan tapi disatu sisi, ketika mereka pergi ke Indonesia mereka ternyata di bedakan, di lihat aneh, dilihat lumbung duit, padahal mungkin beberapa mereka juga cuman mahasiswa atau pelajar, yang akan mengurangi kemungkinan mereka berkunjung kembali (a.k.a kapok) Saya setuju kalau di daerah turis memang seharusnya pajak ke kota nya cukup tinggi untuk menjadi feedback yang bagus buat kegiatan pemeliharaaan lingkungan. karena buat saya kegiatan turism ini jika diukur dengan ekologikal footprint, pasti tinggi dan punya dampak langsung terhadap kondisi lingkungan, apalagi jika yang kita tuju itu tempat wisata alam. jadi: lihat objek nya gratis, tapi kasih sumbangan untuk pemeliharaannya besar. segini masukan... salam Tito --- On Wed, 11/5/08, Gwan Hien Oei <gwan_hien_oei@ yahoo.com> wrote: From: Gwan Hien Oei <gwan_hien_oei@ yahoo.com> Subject: Re: Fw: [indobackpacker] semoga bisa diperbaiki (was Re: Pengalaman ngga menyenangkan di Borobudur) To: indobackpacker@ yahoogroups. com, julia.sendjaja@ croda.com Date: Wednesday, November 5, 2008, 2:00 AM menurut saya sebaiknya pintu masuk dibuat 2. satu pintu untuk turis lokal, satu pintu lagi untuk turis asing. jadi pintu masuk dibuat berbeda. kalau pintu turis lokal ada kewajiban untuk menunjukkan kartu identitas KTP/SIM/Paspor, jadi kalau sudah lewat pintu masuk ya tidak usah diperiksa lagi, karena kan sudah menunjukkan di pintu masuk. sedangkan pintu masuk untuk turis asing tidak perlu ada kewajiban menunjukkan kartu identitas, siapa tahu ada turis lokal yang berbaik hati mau menyumbang lebih lalu membeli tiket turis asing, ya silakan saja. jadi dibuat aja berbeda, seperti pengalaman waktu nyebrang lewat kereta dari HK-ShenZhen dan sebaliknya. warga lokal HK/SZ ada jalur sendiri, sedang warga asing diberi jalur sendiri. jadi tidak perlu ditegur, cukup pakai rambu-rambu yang jelas, sehingga tidak ada yang merasa tersinggung. sehalus apapun orang menegur kita, tetaplah kita akan terasa oleh tegurannya. meskipun halus, tapi dalam hati kita akan berkata emang kita tidak mirip warga indonesia? trus yang mirip warga indonesia itu seperti apa? karena itu penggunaan rambu yang jelas akan mengurangi perasaan tidak enak ini. [Non-text portions of this message have been removed]
