Setahu saya, di tempat wisata international seperti Borobudur or 
Prambanan gitu memang sudah dipisahkan gatenya. Tariffnya juga beda, 
kalo ga salah turis asing US$10 (sekitar 100rb) dan turis lokal 10rb-
an, jadi beda 10 kali lipat. 

Berdasarkan pengalaman saya waktu mengantar teman saya yg dari luar 
negeri, mereka tidak keberatan kok dan maklum. Sayangnya kok ngga ada 
informasi apa2 ya, seperti free brosur/peta, dll. Yg ada juga 
pedangan asongan yg mengejar2 kita.

Bayangin aja, masa dari turun candi borobudur hingga menuju mobil, 
tuh pedagang keukeuh ngejar terus dan sedikit maksa. Saya cukup paham 
mereka kan cari uang juga tp kalo orang tidak minat masa ya kita 
dipaksa beli juga. 

Well, mudah2an in future pariwisata kita lebih bagus, secara potensi 
cukup bagus hanya kurang serius digarap.....masa kalah sama negara 
tetangga. Ayoo....maju pariwisata Indonesia. 

Salam,
CahyoW
Pemerhati pariwisata Indonesia :-)





--- In [email protected], Gwan Hien Oei 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> menurut saya sebaiknya pintu masuk dibuat 2. satu pintu untuk turis 
lokal, satu pintu lagi untuk turis asing. jadi pintu masuk dibuat 
berbeda. kalau pintu turis lokal ada kewajiban untuk menunjukkan 
kartu identitas KTP/SIM/Paspor, jadi kalau sudah lewat pintu masuk ya 
tidak usah diperiksa lagi, karena kan sudah menunjukkan di pintu 
masuk. sedangkan pintu masuk untuk turis asing tidak perlu ada 
kewajiban menunjukkan kartu identitas, siapa tahu ada turis lokal 
yang berbaik hati mau menyumbang lebih lalu membeli tiket turis 
asing, ya silakan saja. jadi dibuat aja berbeda, seperti pengalaman 
waktu nyebrang lewat kereta dari HK-ShenZhen dan sebaliknya. warga 
lokal HK/SZ ada jalur sendiri, sedang warga asing diberi jalur 
sendiri. jadi tidak perlu ditegur, cukup pakai rambu-rambu yang 
jelas, sehingga tidak ada yang merasa tersinggung. sehalus apapun 
orang menegur kita, tetaplah kita akan terasa oleh tegurannya. 
meskipun halus, tapi dalam hati kita akan berkata
>  emang kita tidak mirip warga indonesia? trus yang mirip warga 
indonesia itu seperti apa? karena itu penggunaan rambu yang jelas 
akan mengurangi perasaan tidak enak ini.
> contoh luar negeri seperti di HK ataupun Singapore, semua jalan dan 
tujuan mempunyai rambu-rambu dan petunjuk yang jelas, sehingga bila 
anda berada disana akan merasa aman dan tidak akan kuatir untuk 
tersesat atau disesatkan orang lain. selain itu harusnya petugas 
benar-benar mengatur para pedagang, tidak boleh berdagang keluar dari 
wilayah yang sudah ditetapkan, sehingga para pengunjung merasa 
nyaman. tirulah Singapore yang tidak punya apa-apa tapi bisa 
mengemasnya menjadi sangat menarik dan membuat nyaman para pendatang.
>  
> GH
>  
>  
> 
> 
> --- On Tue, 11/4/08, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Fw: [indobackpacker] semoga bisa diperbaiki (was Re: 
Pengalaman ngga menyenangkan di Borobudur)
> To: [email protected]
> Date: Tuesday, November 4, 2008, 10:13 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Soal perbedaan harga, saya tidak terlalu keberatan, foreigner itu 
juga
> saya yakin tidak terlalu keberatan, mengingat nilai tukar rupiah 
masih
> rendah dibandingkan dengan uang mereka. Masalahnya saya pikir lebih
> kepada, bagaimana caranya, tips and trick buat si petugas ini untuk
> membedakan antara wisdom dan wisman ? Apa sebatas dari penampilan 
saja,
> atau dari bahasa yang dipakai ? Atau dari warna kulit ? Atau dari 
apa ???
> 
> Maaf, tanpa bermaksud mendiskreditkan yah.. yang saya bicarakan ini
> kenyataan, mungkin untuk memberikan gambaran kesulitan si petugas
> membedakan wisman dan wisdom, saya pernah bertemu dengan serombongan
> wisatawan di daerah Pangandaran. Wajah mereka sudah khas oriental, 
lalu
> saat berbicara antara mereka sendiri mereka menggunakan bahasa 
bukan bhs
> Indonesia ( mandarin or something like that lah..saya kurang tau) 
tapi
> ternyata mereka semua adalah WNI asal Jambi ?? Nah loh ??? Kalau 
sudah
> begitu...gimana cara membedakannya, selain kartu identitas ?
> Kritik buat petugasnya sih, mungkin pendekatan secara personal lebih
> efektif, tidak perlu kasar - kasar untuk menanyakan identitas 
seseorang
> bukan ?? Serta kembali introspeksi diri sendiri saja juga 
lah....sekali
> lagi minta maaf, bukan bermaksud mendiskreditkan atau SARA yah...
> 
> Nah yang paling membuat saya bete kalo pergi ke tempat wisata 
memang saat
> di "kejar-kejar" pedagang asongan itu lho...
> Pengalaman serupa juga saya alami sewaktu mengunjungi Borobudur 
bersama
> keluarga 2 tahun lalu. Enggak usah yang turis bule, kita aja yang 
orang
> lokal di uber - uber sama pedagang asongan. Halah... serasa artis 
aja !!
> Terus terang, saya yakin kejadian sejenis bukan cuma terjadi di 
Borobudur.
> Bahkan terjadi juga di Bali yang masyarakatnya sebagian besar 
sangat sadar
> bahwa mereka menggantungkan hidup dari pariwisata. Saat ke Besakih 
dan
> Tanah Lot, saya diberondong oleh pedagang asongan yang notabene 
adalah
> anak - anak sementara para ibunya mengamati dari jauh.... membuat 
saya
> jadi jatuh iba dan akhirnya membeli juga dari mereka sekaligus 
tidak habis
> pikir.... ada saja akalnya...
> 
> Sepertinya ada salah kaprah bahwa orang asing (bule dan sejenisnya) 
serta
> orang kota selalu datang dengan kantong - kantong penuh uang, sudah
> begitu mendarah daging sampai mereka lupa bahwa wisatawan perlu 
dibuat
> nyaman supaya mau datang kembali dan otomatis bisa membuat dagangan 
mereka
> laku bukan cuma sekali seumur hidup.
> Saya rasa ini masalah kurangnya pembinaan dari dinas pariwisatanya 
saja
> dan kurangnya kepedulian terhadap nasib pariwisata bangsa sendiri.
> 
> Mungkin ada anggota milis yang kerja di sudin pariwisata ?
> 
> Thanks & regards, Julia
> julia.sendjaja@ croda.com
> 
> ..
> 
> This email and any files transmitted with it may be confidential 
and may also be privileged. It is intended solely for the use of the 
individual or entity to whom they are addressed.
> If you are not the intended recipient, please email the sender 
immediately by replying to this message and delete the material from 
any computer.
> 
> The message is attributed to the sender and may not necessarily 
reflect the view of Croda International Plc, its subsidiaries or 
associates.
> 
> Part of Croda International Plc, registered in England no: 206132
> Registered Office: Cowick Hall, Snaith, Goole, East Yorkshire DN14 
9AA
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke