Mas Anas, Yosephina, Erika, Diesty, Adi

Sengaja saya memberikan contoh ektrem tentang infrastruktur karena
ingin menegaskan bahwa jika kita menunggu infrastruktur dibangun dulu
baru membangun citra dan imej, rasanya sudah terlambat beberapa
langkah. Saya percaya infrastruktur itu bisa mengikuti asalkan kita
membangun dengan mendengarkan nilai lokal. Poin yang saya ingin
sampaikan, janganlah kita menunggu infrastruktur dengan tidak
melakukan apa-apa. Atau kita menjadi backpacker yang 'manja'. Bukankan
ada tantangan tersendiri mencobai sesuatu yang susah, unknown, dan
terkadang membuat keingin tahuan makin besar?

Poin lain adalah seorang backpacker itu tidak musti kere. Ada nilai
etika yang saya pegang, yakni jika kita melakukan backpacking atau
kegiatan adventures, saya berusaha uang yang saya bayar dirasakan oleh
penduduk tanpa melalui beberapa tangan di tengah. Biarpun mahal, jika
uang itu adalah untuk yang saya tinggali, no problem. Jadi maaf buat
yang selalu mengatakan backpacker itu selalu murah. Sekali lagi saya
tegaskan tidak.

Saya berikan perbandingan antara trekking di Thailand. Dalam tiga hari
dalam kondisi 'tidak layak' tadi saya disuguhi kehangatan penduduk
suku Lisu. Ketidak nyamanan itu 'terbayar' dengan kenangan manis yang
tak akan saya lupakan. Berapa biaya? silakan ditengok disini
http://www.chiangdao.com/nest/natastrek.htm belum termasuk tambahan
transpor ke lokasi dan penginapan setelahnya.

Jika pemerintah hanya memberikan perhatian pada 'turis kaya' (ie
berduit memilih tempat yang "umum") itu juga cukup menggelikan, karena
terkadang bule miskin aja dikatagorikan kaya hanya karena ia bule.
Padahal pangsa pasar turis 'tak berduit' itu lebar banget, seperti
dari Malaysia, Singapura juga Vietnam. Apakah mereka kaya? wah saya
kira ya mereka ini samalah dengan kita, memanfaatkan free admin fee
dari Airasia atau Tiger Airways. Seorang uncle Ho -supir taksi di
Singapura bahkan ingin berlibur di Jogja setelah ada direct flight
Changi-Adisucipto.

Sebenarnya saya agak pesimis dengan pemerintah. Saya merasakan
keputus-asaan yang sama dengan teman-teman. Harapan saya, presiden
manapun yang terpilih bakal menyadari kekurangan ini. Kita punya
potensi tapi tidak menyadari, atau tidak tahu?

Terus-terang ada poin tersembunyi yang saya ingin capai. Yakni untuk
adik-adik yang memulai backpacking, terutama yang kuliah, sekolah atau
baru pengen mencicip. Mereka diberi kesempatan untuk melihat
negara/tempat lain, sebuah kesempatan yang langka. Saya berharap dari
perjalanan backpacking, akan melahirkan calon-calon birokrat di masa
datang yang lebih peduli dan punya visi kedepan. Apalagi jika mereka
mau mencoba 'ngere' merasakan kegetiran masyarakat bawah. Mungkin
menjadi tidak serakah, mungkin menjadi lebih bijak, mungkin menjadi
seorang peduli lingkungan. Mungkin meluaskan pandangan tentang
Indonesia, melihat dari luar, mencintai lebih dalam. Jadi jangan malu
posting catper yah?

Jika saya bermimpi semua orang jadi backpacker, wah bakalan ambruk
ekonomi. Betul, tidak semua orang bisa mengikuti backpacker yang
sesungguhnya. Setiap orang punya level sendiri-sendiri, dan itu saya
hormati. Ohya sedikit cerita, saya sendiri udah menikah dan malah
makin kenceng backpacking karena mantan pacar kebetulan berhobi yang
sama. Bagi saya, menikah dan (semoga) punya anak tidak akan mengganti
life style backpacking. Ada seorang kawan bilang, jika pengen tahan
sakit ya sering-seringlah keluar. Semakin menghadapi kondisi tak ramah
semakin terbangun antibodi. Nah cuman yang kayak gitu kan tidak
berlaku pada semua orang. He he he...

Backpacker hanya salah satu alternatif saja, yang lebih peduli pada
ecotourism, adventures dan cultural. Tapi bukan berarti orang yang
ngga backpacker juga ngga peduli. Semua kembali kepada kondisi fisik,
kemauan dan seberapa jauh keingin tahuan menjelajah dunia dan
Indonesia.

Salam,
Ambar B

2009/6/30 Yosephine Rima <[email protected]>:
> Mba Ambar
> Saya sendiri ga masalah dengan infrastruktur & transport yang seadanya
> karena memang disitulah keluar jiwa seninya seorang backpacker.
> Pernah menginap di gubug yang cuma dilapisin gedeg yang super tipis dengan
> kamar mandi terbuka dan cuma bermodalkan sarung dan malamnya hujan lagi!
> tapi semua dibawa senang hati karena yang berangkat rombongan nekad modal
> dan jiwa.
> Tapi masalahnya yang mau menikmati keindahan Indonesia yang bejibun kan ga
> hanya golongan backpacker aja.

Kirim email ke