Halo teman-teman,
apa yang disampaikan oleh Mas agung adalah sangat benar, karena saya sudah sejak tahun 1993 mengikuti perkembangan pelatihan-pelatihan P3K yang diselenggarakan disekolah, di pecinta alam, rata-rata pengetahuan dan ketrampilan yang disampaikan sudah out of date.
Kebanyakan lagi para anggota PMR dan KSR dilatih oleh pelatihnya bukan untuk menolong tapi untuk mengikuti dan memenangkan lomba. Hasilnya pada saat dihadapkan pada kasus yang sesungguhnya kebanyakan tidak percaya diri untuk melakukan tindakan pertolongan pertama.
banyak hal-hal yang salah kaprah diajarkan oleh para pelatih, misalanya menolong orang pingsan. Diajarkan harus dibawa ketempat teduh, pakaian yang mengikat dilonggarkan, diberi minum dan di beri wangi-wangian atau amoniak..
Pingsan adalah mekanisme alamiah tubuh untuk mengalirkan darah yang  terkumpul di tungkai untuk dialirkan kembali ke otak. Pertolongan pertama yang tepat adalah tinggikan tungkai dan kipasi, jangan dikerumuni. Melepas pakaian yang mengikat, secara logika orang pakai ikat pinggang kan nggak sampai kesesakan, pakai dasi juga nggak mencekik, pakai BH kan juga gak kenceng-kenceng. Jadi ngapain harus dibuka-buka ? Wangi-wangian hanya digunakan untuk mengetahui alias mengetes apakah orang tersebut sudah sadar atau belum, bukan untuk menyadarkan. Lha kalau orangnya koma mau dikasih wangi-wangian sebotol juga nggak akan sadar. Minum hanya boleh diberikan pada orang yang sadar penuh, karena dikhawatirkan pada orang yang setengah sadar minum akan masuk kesaluran pernapasan. Ini yang banyak terjadi pada kasus-kasus kecelakaan lalu lintas, terjadi KP3 (kecelakaan pada pertolongan pertama)
Banyak sekali hal-hal yang harus diluruskan, oleh karena itu pensosialisasian (?) yang baik sangatlah diperlukan.
Untuk para anggota pecinta alam, biasanya materi pertolongan pertama di dalam pendidikan dasar mereka hanya diberikan dalam hitungan sejam dua jam. Untuk sekedar pengetahuan it's oke, tapi untuk bisa sampai  melakukan tindakan pertolongan pertama dibutuhkan suatu latihan yang panjang dan rutin. Karena untuk bisa memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan pada seseorang yang cedera apalagi di tempat yang terpencil (mis:gunung) dibutuhkan pengetahuan dan skill yang prima.
Oke saya rasa itu tambahan dari saya..
Itu artinya kita harus lebih giat belajar dan berlatih dan menyebarluaskan pertolongan pertama ini di masyarakat.
salam
Lita

Agung Sarono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kawan-kawan:
Untuk masalah P3k atau PP atau PPGD sebenarnya hanyalah masalah istilah... Di masyarakat awam yang paling umum ya P3K, kalau anda bilang anda terlatih first aid atau PP atau PPGD, mereka akan mengerutkan dahi...
Yang penting adalah bagaimana sebenarnya hal itu dilakukan...
Selama ini pelatihan dari beberapa provider (khususnya yang menggunakan buku MFR sebagai acuan dasar) sering melatih peserta menangani kedaruratan dengan level sebagai first responder yang sebenarnya tidak tepat... Contoh, menangani orang dengan cedera kepala dan tulang belakang, sering mereka diajarkan mengangkat dengan menggunaka alat / tandu yang khusus (seperti spinal board) padahal alat tersebut tidak ada di masyarakat... dan mengangkat pada kasus cedera tulang belakang tidaklah wajib (istilahnya 'nice to know' bukan 'must know' atau 'should know')
Seorang first aider adalah orang yang dilatih untuk melakukan pertolongan pertama dengan menggunakan alat seadanya, kalau ada alat ya bagus, tetapi kalau tidak? Ya harus menggunakan apa saja yang ada!
Nah inilah yang kadang masih belum dimengerti oleh para instruktur first aid, mereka menggunakan teknik medis untuk awam, akhirnya ya jaka sembung mbawa gitar... Nggak nyambung jreng!...
Untuk pertolongan pertama yang diajarkan di sekolah sebagai ekstrakurikuler sering sudah out of date! Contoh menangani gigitan binatang berbisa dengan mengikat torniket, padahal ini sudah tidak disarankan lagi! Jadi nampaknya para praktisi kedaruratan pra rumah sakit sudah saatnya menentukan tingkatan untuk awam (FA) dan awam terlatih (MFR); atau paramedis.
Ada yang mau nambahin?
AS

nurul muafidah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam hormat,
Apa yang anda tanyakan sebenarnya bukanlah pertanyaan yang wajar. Apakah anda pernah mempelajari P3K di sekolah ? mungkin di SMU atau di SMP ? di SMU dan SMP terdapat ekstrakurikuler yg menekuni dan belajar mengenai P3K. tidak harus memiliki background medis seperti dokter atau perawat. dan tidak harus menempuh pendidikan sebagai dokter atau perawat. tapi pendidikan tersebut memang harus dipelajari dan memahami P3K.
Mungkin dengan mengikuti pendidikan di PMI pasti akan dipelajari P3K. tapi yang sering saya dapatkan di internet. selalu ada pelatihan mengenai P3K.
Perlu saudara ketahuai bahwa P3K sudah tidak digunakan lagi dalam pertolongan pertama. karena di dalamnya terdapat permasalahan dan kekurangan dalam materi maupun pelaksanaan di lapangan. sekarang telah direvisi dan diperbaiki menjadi Pertolongan Pertama (PP). Saudara dapat browsing di website Palang Merah Indonesia.
Apalagi sekarang banyak sekali pelatihan yang pesertanya memiliki latar belakang pendidikan medis.
terima kasih
lelita sari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sejawat yang terhormat,
untuk pertolongan pertama sebaiknya tetap dilakukan pelatihan. Karena P3K adalah ketrampilan yang sulit jika dipelajari hanya melalui membaca atau melihat filmnya. Kecuali anda memiliki basic atau latar belakang medis tentu tidak akan terlalu sulit mengaplikasikan apa yang anda baca atau lihat dalam tindakan nyata.
Pelatihan bisa dilakukan dengan bekerja sama dengan instansi lain yang memang memiliki kualifikasi untuk melakukan pelatihan pertolongan pertama.
Jika anda berminat saya bisa membantu.
Terima kasih
Salam
Lelita

Þµjåñggåmåñî$ <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kepada rekan rekan....

Baru baru ini saya membentuk tim kesiapsiagaan dan tanggap darurat
untuk perusahaan saya bekerja,dalam hal tanggap kebakaran...saya
berbagi cara penanggulangan kebakaran dllnya namu untuk hal P3K dan
penanganan kondisi darurat huruhara saya kurang mengereti....
mohon pencerahan dimana saya dapatkan tip tip atau informasi melakukan
P3K dan penanganan darurat huru hara tanpa harus ikut pelatihan (
mungkin dalam bentuk gambar seperti komik atau lainnya )

terima kasih.








25 Juni 2005: 2 Tahun IndoFirstAid.com
=======================================
Donaatur IndoFirstAid
Bank BNI cab UGM Yogya 0038436942 A/n. Yudhistira O.
Kirimkan pesan melalui [email protected]




(Anytime anywhere We are ready to help)
Click: http://asarono.tripod.com


Discover Yahoo!
Have fun online with music videos, cool games, IM & more. Check it out!

25 Juni 2005: 2 Tahun IndoFirstAid.com
=======================================
Donaatur IndoFirstAid
Bank BNI cab UGM Yogya 0038436942 A/n. Yudhistira O.
Kirimkan pesan melalui [email protected]



Yahoo! Sports
Rekindle the Rivalries. Sign up for Fantasy Football

25 Juni 2005: 2 Tahun IndoFirstAid.com
=======================================
Donaatur IndoFirstAid
Bank BNI cab UGM Yogya 0038436942 A/n. Yudhistira O.
Kirimkan pesan melalui [email protected]




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke