Kawan-kawan:
Memang betul bahwa first aid atau PP merupakan hal yang dinamik dan tidak statis... Nah disinilah letak uniknya... Kalau dikatakan hal tersebut dinamik dan tidak statis, mestinya kita para praktisi harus selalu meng-up to date pengetahuan dan ketrampilan kita.
Yang kedua, dalam segala hal kita mengenal yang namanya 'standar' yang merupakan acuan suatu baku mutu dari suatu kegiatan atau produk; mestinya dalam first aid pun ada standar yang diberlakukan... Ingat lho, first aid adalah pertolongan pertama dengan prinsip dan tujuan:
1. Menyelamatkan kehidupan
2. Mencegah keadaan menjadi lebih buruk
3. Mmpercepat kesembuhan
Dengan melihat prinsip dan tujuan ini, maka tindakan-tindakan first aid mestinya harus memiliki tiga hal prinsip di atas.
Kita tidak perlu menyalahkan siapapun dalam ketertinggalan kita dalam dunia pertolongan pertama dan penanganan kedaruratan pra rumah sakit. Namun apakah kita akan selalu berkutat dalam ketinggalan sehingga tenaga kita tidak diakui oleh negara lain? Bukan rahasia lagi bahwa tenaga profesional kita dihargai lebih rendah dari negara lainnya, meskipun kalau soal kemampuan banyak dari kita yang tidak kalah dengan mereka, mengapa? Karena kita tidak mampu menunjukkan standar kita dalam suatu kompetensi.
Mengenai metode pengajaran, sekali lagi bahwa dalam mengajar atau melatih orang dewasa kita harus ingat bahwa yang kita ajar adalah orang awam yang mendengar, melihat dan mengerjakan apa yang kita contohkan atau kita minta. Kalau kita tidak bijaksana dalam hal ini, maka peserta kita hanya akan menangkap apa yang kita katakan, kita lakukan dan kita contohkan; sehingga sewaktu terjadi sesuatu pada hal yang nyata, mereka kadang 'blank' kenapa? Karena waktu di kelas kita tidak pernah memberikan contoh yang sedekat mungkin dengan realitas! Maaf saja, cara pandang seorang yang bekerja di RS dengan orang di lapangan sangat beda mas! Sering sewaktu kami latihan bersama staf RS atau klinik yang bersifat 'menunggu' pasien, terlihat sekali perbedaan cara pikir dan cara kerjanya. Di RS segala sesuatunya telah teratur dengan sistem dan alat yang 'ready to use' tetapi di lapangan? APakah di rumah anda ada sarung tangan? Adakah di rumah anda kain segitiga (mitella)? Nah hal seperti ini
sering dilewatkan oleh instruktur saat melatih awam menjadi first aider; ingat kedaruratan tidak hanya terjadi di saat kita lengkap alatnya, bisa jadi waktu kita sedang pulang ke rumah, saat jalan-jalan ke pasar, atau bahkan lagi pacaran!
Untuk mengajar awam, ingatlah prinsip dari Konfusius ini:
"Saya mendengar dan saya lupa...
Saya melihat maka saya ingat...
Karena saya melakukan maka saya mengerti..."
Artinya, untuk tingkatan awam, usahakan dalam mengajar tidak terlalu banyak teori yang 'njelimet' dan 'teoretis' karena sebagai orang dewasa, mereka akan lebih mengerti kalau mereka melakukan sesuatu yang serealistis mungkin dengan kehidupan mereka...
Maaf bila imil ini sangat panjang....
AS
yunus budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
yunus budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ass.....
Saya tidak mau berbicara salah atau benar yah, tapi
cuma berpendapat neh. Mengenai materi first aid di
kegiatan ekstrakurikuler sekolah yang sudah out of
date katanya itu, menurut saya mengenai first aid itu
bukanlah sesuatu yang kaku atau rigid, berbagai
penyempurnaan dilakukan bukan menyalahkan hal
sebelumnya tetapi sekali lagi menyempurnakan, baik
dalam hal ketepatan, efektifitas ataupun efisiensinya.
Kesimpulannya, jika materi yang ada pada (sebut saja
PMR atau KSR)saat ini itu sudah out of date sepertinya
tidak juga seh menurutku. Contoh yang dikatakan mas
Agung Sarono tentang penggunaan torniket itu sudah
tidak dianjurkan, ia memang efek dari penggunaan alat
ini cukup atau lumayan berbahaya, tetapi dalam kondisi
sebenarnya penggunaan torniket itu sangat fleksibel,
sangat kondisional dan bahkan sangat efektif pada
beberapa kondisi, banyak seh alasan yg ingin
dikemukakan tapi terlalu panjang kalo ingin
diutarakan. Berikutnya mengenai pengajaran penggunaan
alat2 pada pelatihan, yg dianggap tidak efektif.
Sebuah pertolongan memang dalam keadaan multikondisi,
akan tetapi sebuah standar prosedur dan alat2 itu
tampaknya mutlak diberikan, jika nantinya tidak ada
alat2 itu nantinya, improvisasi dapat dilakukan dengan
memperhatikan standar2 tersebut toh. Dan bukankah
dalam setiap pelatihan selalu ditekankan bahwa dalam
pertolongan nantinya Improvisasi mutlak diperlukan, so
tampaknya metode pelatihan seperti itu menurut saya
masih cukup baik untuk saat ini.
Juga mengenai istilah P3K, PP, atau PPGD. Yah itu
semua memang hanya terminologi, hanya istilah. Tetapi
untuk profesional menurut saya semua itu memiliki
nilai yang berbeda sehingga apresiasi yang dilakukan
nantinya pun akan memiliki perbedaan yang nyata. Dan
memang PP dengan PPGD itu berbeda, ada lagi
P3B,pertolongan korban banyak, dan sebagainya...semua
itu memiliki perbedaan yang jika disamakan atau
diabaikan, kesalahan fatal lah yg akan terjadi. Ok
deh...cukup sekian dari saya. Terima kasih.
Wass..Wr.Wb
--- lelita sari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Halo teman-teman,
> apa yang disampaikan oleh Mas agung adalah sangat
> benar, karena saya sudah sejak tahun 1993 mengikuti
> perkembangan pelatihan-pelatihan P3K yang
> diselenggarakan disekolah, di pecinta alam,
> rata-rata pengetahuan dan ketrampilan yang
> disampaikan sudah out of date.
> Kebanyakan lagi para anggota PMR dan KSR dilatih
> oleh pelatihnya bukan untuk menolong tapi untuk
> mengikuti dan memenangkan lomba. Hasilnya pada saat
> dihadapkan pada kasus yang sesungguhnya kebanyakan
> tidak percaya diri untuk melakukan tindakan
> pertolongan pertama.
> banyak hal-hal yang salah kaprah diajarkan oleh para
> pelatih, misalanya menolong orang pingsan. Diajarkan
> harus dibawa ketempat teduh, pakaian yang mengikat
> dilonggarkan, diberi minum dan di beri wangi-wangian
> atau amoniak..
> Pingsan adalah mekanisme alamiah tubuh untuk
> mengalirkan darah yang terkumpul di tungkai untuk
> dialirkan kembali ke otak. Pertolongan pertama yang
> tepat adalah tinggikan tungkai dan kipasi, jangan
> dikerumuni. Melepas pakaian yang mengikat, secara
> logika orang pakai ikat pinggang kan nggak sampai
> kesesakan, pakai dasi juga nggak mencekik, pakai BH
> kan juga gak kenceng-kenceng. Jadi ngapain harus
> dibuka-buka ? Wangi-wangian hanya digunakan untuk
> mengetahui alias mengetes apakah orang tersebut
> sudah sadar atau belum, bukan untuk menyadarkan. Lha
> kalau orangnya koma mau dikasih wangi-wangian
> sebotol juga nggak akan sadar. Minum hanya boleh
> diberikan pada orang yang sadar penuh, karena
> dikhawatirkan pada orang yang setengah sadar minum
> akan masuk kesaluran pernapasan. Ini yang banyak
> terjadi pada kasus-kasus kecelakaan lalu lintas,
> terjadi KP3 (kecelakaan pada pertolongan pertama)
> Banyak sekali hal-hal yang harus diluruskan, oleh
> karena itu pensosialisasian (?) yang baik sangatlah
> diperlukan.
> Untuk para anggota pecinta alam, biasanya materi
> pertolongan pertama di dalam pendidikan dasar mereka
> hanya diberikan dalam hitungan sejam dua jam. Untuk
> sekedar pengetahuan it's oke, tapi untuk bisa sampai
> melakukan tindakan pertolongan pertama dibutuhkan
> suatu latihan yang panjang dan rutin. Karena untuk
> bisa memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan
> pada seseorang yang cedera apalagi di tempat yang
> terpencil (mis:gunung) dibutuhkan pengetahuan dan
> skill yang prima.
> Oke saya rasa itu tambahan dari saya..
> Itu artinya kita harus lebih giat belajar dan
> berlatih dan menyebarluaskan pertolongan pertama ini
> di masyarakat.
> salam
> Lita
>
> Agung Sarono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kawan-kawan:
> Untuk masalah P3k atau PP atau PPGD sebenarnya
> hanyalah masalah istilah... Di masyarakat awam yang
> paling umum ya P3K, kalau anda bilang anda terlatih
> first aid atau PP atau PPGD, mereka akan mengerutkan
> dahi...
> Yang penting adalah bagaimana sebenarnya hal itu
> dilakukan...
> Selama ini pelatihan dari beberapa provider
> (khususnya yang menggunakan buku MFR sebagai acuan
> dasar) sering melatih peserta menangani kedaruratan
> dengan level sebagai first responder yang sebenarnya
> tidak tepat... Contoh, menangani orang dengan cedera
> kepala dan tulang belakang, sering mereka diajarkan
> mengangkat dengan menggunaka alat / tandu yang
> khusus (seperti spinal board) padahal alat tersebut
> tidak ada di masyarakat... dan mengangkat pada kasus
> cedera tulang belakang tidaklah wajib (istilahnya
> 'nice to know' bukan 'must know' atau 'should know')
> Seorang first aider adalah orang yang dilatih untuk
> melakukan pertolongan pertama dengan menggunakan
> alat seadanya, kalau ada alat ya bagus, tetapi kalau
> tidak? Ya harus menggunakan apa saja yang ada!
> Nah inilah yang kadang masih belum dimengerti oleh
> para instruktur first aid, mereka menggunakan teknik
> medis untuk awam, akhirnya ya jaka sembung mbawa
> gitar... Nggak nyambung jreng!...
> Untuk pertolongan pertama yang diajarkan di sekolah
> sebagai ekstrakurikuler sering sudah out of date!
> Contoh menangani gigitan binatang berbisa dengan
> mengikat torniket, padahal ini sudah tidak
> disarankan lagi! Jadi nampaknya para praktisi
> kedaruratan pra rumah sakit sudah saatnya menentukan
> tingkatan untuk awam (FA) dan awam terlatih (MFR);
> atau paramedis.
> Ada yang mau nambahin?
> AS
>
> nurul muafidah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Salam hormat,
> Apa yang anda tanyakan sebenarnya bukanlah
> pertanyaan yang wajar. Apakah anda pernah
> mempelajari P3K di sekolah ? mungkin di SMU atau di
> SMP ? di SMU dan SMP terdapat ekstrakurikuler yg
> menekuni dan belajar mengenai P3K. tidak harus
> memiliki background medis seperti dokter atau
> perawat. dan tidak harus menempuh pendidikan sebagai
> dokter atau perawat. tapi pendidikan tersebut memang
> harus dipelajari dan memahami P3K.
> Mungkin dengan mengikuti pendidikan di PMI pasti
> akan dipelajari P3K. tapi yang sering saya dapatkan
> di internet. selalu ada pelatihan mengenai P3K.
> Perlu saudara ketahuai bahwa P3K sudah tidak
> digunakan lagi dalam pertolongan pertama. karena di
> dalamnya terdapat permasalahan dan kekurangan dalam
> materi maupun pelaksanaan di lapangan. sekarang
> telah direvisi dan diperbaiki menjadi Pertolongan
> Pertama (PP). Saudara dapat browsing di website
> Palang Merah Indonesia.
> Apalagi sekarang banyak sekali pelatihan yang
> pesertanya memiliki latar belakang pendidikan medis.
> terima kasih
> lelita sari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Sejawat yang terhormat,
> untuk pertolongan pertama sebaiknya tetap dilakukan
> pelatihan. Karena P3K adalah ketrampilan yang sulit
> jika dipelajari hanya melalui membaca atau melihat
> filmnya. Kecuali anda memiliki basic atau latar
> belakang medis tentu tidak akan terlalu sulit
> mengaplikasikan apa yang anda baca atau lihat dalam
> tindakan nyata.
> Pelatihan bisa dilakukan dengan bekerja sama dengan
> instansi lain yang memang memiliki kualifikasi untuk
> melakukan pelatihan pertolongan pertama.
> Jika anda berminat saya bisa membantu.
> Terima kasih
> Salam
> Lelita
>
> Þµjåñggåmåñî$ <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kepada rekan rekan....
>
> Baru baru ini saya membentuk tim kesiapsiagaan dan
> tanggap darurat
> untuk perusahaan saya bekerja,dalam hal tanggap
> kebakaran...saya
> berbagi cara penanggulangan kebakaran dllnya namu
> untuk hal P3K dan
> penanganan kondisi darurat huruhara saya kurang
> mengereti....
> mohon pencerahan dimana saya dapatkan tip tip atau
> informasi melakukan
> P3K dan penanganan darurat huru hara tanpa harus
> ikut pelatihan (
> mungkin dalam bentuk gambar seperti komik atau
> lainnya )
>
> terima kasih.
>
>
>
>
>
>
>
>
> 25 Juni 2005: 2 Tahun IndoFirstAid.com
> =======================================
> Donaatur IndoFirstAid
> Bank BNI cab UGM Yogya 0038436942 A/n. Yudhistira O.
>
> Kirimkan pesan melalui [email protected]
>
>
>
>
> (Anytime anywhere We are ready to help)
> Click: http://asarono.tripod.com
>
>
> ---------------------------------
> Discover Yahoo!
> Have fun online with music videos, cool games, IM &
> more. Check it out!
>
> 25 Juni 2005: 2 Tahun IndoFirstAid.com
> =======================================
> Donaatur IndoFirstAid
> Bank BNI cab UGM Yogya 0038436942 A/n. Yudhistira O.
>
> Kirimkan pesan melalui [email protected]
>
>
>
> ---------------------------------
> Yahoo! Groups Links
>
> To visit your group on the web, go to:
> http://groups.yahoo.com/group/indofirstaid/
>
> To unsubscribe from this group, send an email to:
> [EMAIL PROTECTED]
>
> Your use of Yahoo! Groups is subject to the
> Yahoo!
=== message truncated ===
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
25 Juni 2005: 2 Tahun IndoFirstAid.com
=======================================
Donaatur IndoFirstAid
Bank BNI cab UGM Yogya 0038436942 A/n. Yudhistira O.
Kirimkan pesan melalui [email protected]
(Anytime anywhere We are ready to help)
Click: http://asarono.tripod.com
Click: http://asarono.tripod.com
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
25 Juni 2005: 2 Tahun IndoFirstAid.com
=======================================
Donaatur IndoFirstAid
Bank BNI cab UGM Yogya 0038436942 A/n. Yudhistira O.
Kirimkan pesan melalui [email protected]
Yahoo! Groups Links
http://groups.yahoo.com/group/indofirstaid/
[EMAIL PROTECTED]

