----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------
Precedence: bulk
MARIO V CARRASCALAO: "TAK AKAN ADA PERANG, MUNGKIN PERANG BATU!" (4/4)
(P): Jadi bagaimana konsep pembangunan yang tepat bagi Timor Timur?
(MVC): Semua yang saya katakan tadi adalah rencana-rencana di atas kertas,
yang bisa dikatakan seperti lingkaran setan. Sehingga kalau kita punya
manajer-manajer yang tidak trampil, maka prioritas tersebut gagal semua.
Saat menjabat gubernur, beberapa kali saya menerima rakyat yang datang
meminta bantuan uang sebesar Rp 300 untuk bayar BP3 anaknya di sekolah.
Coba kita lihat! Kebijakan pemerintah seperti itu, pembangunannya maju
pesat, Tapi tidak ada satu sistem perkreditan di Timor Timur untuk menjawab
kebutuhan orang Timor Timur. Seolah-olah semua orang punya tanah, punya
rumah, sehingga untuk mengajukan kredit harus ada jaminan. Maka untuk
memperoleh jaminan seperti itu justru jangan mempersulit orang memperoleh
sertifikat yang bisa dipakai sebagai jaminan. Hal seperti ini yang
menghambat. Contoh sederhananya seperti ini. Kalau rakyat itu memberikan
tanah kepada misi katolik, maka itu menjadi hak miliknya misi. Tapi hukum
RI menyatakan itu tidak bisa menjadi hak milik, Tapi hanya hak pakai. Hal
seperti ini tidak sesuai dengan adat orang Timor. Timor Timur itu kepadatan
penduduknya kira-kira 50 orang per km persegi, Tapi yang di jalankan malah
program Keluarga Berencana (KB), yang tidak sesuai dengan doktrin katolik
dan kristen yaitu tumbuh dan memperbanyak diri. Selain itu, dari
falsafahnya, keluarga Timor Timur itu dari struktur tradisional sistim
gotong royongnya ada, dan berdasarkan kekeluargaan yang saling membantu.
Saat Indonesia masuk, semuanya di rubah. Suco di jadikan desa, dimana
pimpinan yang sebenarnya tidak diakui oleh rakyat. Banyak kasus yang kalau
dibicarakan sehari tidak akan selesai. Hal seperti itu, selama saya jadi
gubernur, saya menyadarinya. Karena saya berada dalam sistem seperti itu,
sehingga banyak yang bisa saya berikan sebagai jawaban atas pertanyaan yang
sering muncul. Satu hal yang menjadi pertanyaan saya adalah kenapa
pemerintah Indonesia tidak mencoba mencari jawaban dari kenyataan bahwa,
selama ini justru yang paling aktif melawan Indonesia, bahwa Timor Timur
sebagai bagian dari Indonesia adalah orang-orang yang merupakan hasil
didikan Republik Indonesia. Apa kah ini masuk akal?. Kalau tidak masuk akal,
apa penyebabnya? Seharusnya cari itu, hingga memberikan jawaban.
(P): Ada sinyalemen bahwa secara ekonomi Timor Timur belum siap untuk
berdiri sendiri..
(MVC): Itu hanya merupakan isu-isu yang dilemparkan untuk menakuti kita.
Orang Timor Timur ekonominya di nolkan pada tahun 1976. Sebab simpanan orang
dalam bentuk escudo (mata uang portugis -red.), setelah perang tidak laku
lagi. Orang Timor Timur banyak menyimpan uang logam itu dalam bambu atau di
tanam. Tapi waktu itu tidak bisa di pakai, karena Indonesa bilang tidak
berlaku. tidak ada satu usaha pun untuk menggantikan uang itu. Akhirnya yang
bisa hidup layak itu kami-kami, pegawai negeri, yang dikasih gaji besar
oleh pemerintah, sehingga bisa hidup kembali. Sedangkan rakyat tidak.
Selain itu, saat rakyat baru mulai membangun, muncul pesaing yang lebih
hebat dari rakyat dalam perdagangan kecil. Pesaing-pesaing itu, punya
koneksi di bank, tahu sistim pemerintahan, sehingga memperoleh kredit lebih
mudah, lebih sophisticated juga. Sedangkan kita tidak punya pengalaman dalam
perdagangan, sehingga orang-orang kita baru mau bangkit, akhirnya jatuh
lagi. Banyak masalah sebetulnya. Tapi yang penting bahwa pembangunan yang
dilakukan di Timor Timur tidak memberikan jawaban.
(P): Tapi secara fisik kita bisa melihat adanya pembangunan yang pesat...
(MVC): Bangun asal bangun, memang banyak yang berhasil, seperti kesehatan
lebih baik. Tapi belum seluruhnya. Sekarang orang dipaksa untuk membeli obat
sendiri. Intinya, pembangunan itu bertujuan untuk membangun manusia yang
cerdas dulu. Sehingga dia bisa menghasilkan untuk dia sendiri, dan suatu
saat kemakmuran itu akan merata. Tapi kita juga melihat bahwa pendidikan
jauh lebih maju dari jaman Portugis. Perhubungan juga jauh lebih maju. Tapi
kalau kita tanya ke orang-orang di desa-desa kebahagiaannya dimana? Struktur
kehidupan tradisional sudah dihancurkan. Kalau kita ke Lospalos,
tempat-tempat seperti desa Pitileti, yang dulu sangat indah dan benar-benar
mencerminkan kehidupan adat, sekarang tidak ada lagi. Tinggal satu desa
saja yang masih ada dengan beberapa rumah adat, yaitu desa Rasa. Rumah-
rumah adat itupun sudah sangat tua, karena rakyat tidak mampu lagi untuk
membangun kembali. Rumah-rumah itu mahal itu. Tapi mulai hilang. Rakyat
dipindahkan dari tempat tertentu yang layak bagi mereka, akhirnya di
pindahkan ke pinggir jalan. Orang yang terbiasa hidup di daerah dingin di
pindahkan ke daerah panas. Akhirnya, terserang penyakit malaria dan
meninggal. Apa kah itu yang dinamakan pembangunan?. Pembangunan yang benar
itu, kita datang ke tempat itu dan melihat kekurangannya apa. Kalau
kekurangan air, kita usahakan untuk menyediakannya. Kalau tetap tidak bisa,
baru di pindah. Karena air merupakan kebutuhan pokok. Bukan memindahkan
penduduknya begitu saja. Apalagi penduduknya belum siap, transmigrasi sudah
masuk di sana. Belum ditanya status kepemilikan tanahnya bagaimana, sudah
diberikan kepada orang lain. Dengan demikian, pembangunan yang dilaksanakan
betul-betul tidak menjawab kebutuhan orang Timor Timur. Kalau keadaan saat
ditinggalkan Portugis, kemudian Indonesia datang dengan uang sebanyak itu,
membangun sesuai kebutuhan orang Timor Timur, maka Timor Timur itu akan
cepat maju. Tidak konsekuennya pembangunan di Timur Timur, bisa dilihat
dari hasil kerajinan yang tidak bisa dipasarkan, karena tidak diciptakannya
kondisi untuk adanya parawisata. Maka, Tais, ukiran-ukiran itu tidak bisa di
jual, karena tidak ada yang beli.
(P): Setelah Indonesia mengeluarkan opsi untuk melepas Timor Timur, banyak
orang mulai mempertanyakan bagaimana proses terjadinya integrasi. Bagaimana
Anda melihatnya?
(MVC): Seperti yang saya katakan di RCTI dalam dialog dengan Ibu Dewi
Fortuna. Pilihan itu sudah bagus, kalau Indonesia mau melepas Timor Timur.
Karena hal itu demi kepentingan bangsa Indonesia. Tapi upaya ini agar
nantinya tidak lagi menodai citra Indonesia akibat pelepasan Timor Timur
maka ambillah beberapa langkah. Ceritakan kepada rakyat Indonesia, berbagai
proses rekayasa yang dijalankan dari awalnya. Kalau tidak mau merubah sikap,
ya... sudahlah. Minimal sejarah bisa menceritakan sebenarnya, bagaimana
terjadinya integrasi Balibo, bagaimana terjadinya Dewan Rakyat. Bagaimana
proses penyeberangan dua partai ke perbatasan. Sejarah juga akan mengungkap
bagaimana pidatonya Pak Arnaldo dos Reis de Araujo, yang aslinya dalam
bahasa Portugis yang ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia di DPR
isinya jadi lain. Bagaimana tentang isi pidatonya Pak Arnaldo Araujo disaat
kunjungan Pak Amir Machmud ke Dili. Ketika itu Pak Arnaldo menyiapkan
pernyataan. Tapi kepada beliau, disodorkan pernyataan yang isinya berlainan.
Rekayasa-rekayasa seperti ini banyak terjadi. Semua ini harus dikemukakan
kepada rakyat Indonesia. Sehingga rakyat Indonesia itu, jangan berpikir
bahwa, benar telah dilaksanakan suatu konsultasi kepada rakyat Timor Timur,
dan rakyat Timor Timur yang minta integrasi.
(P): Jadi yang minta integrasi itu siapa?
(MVC): Yang minta integrasi itu kami, karena kebutuhan waktu itu. Hanya
tidak ada suatu follow up untuk mendukung apa yang kami lakukan. Memang kita
yang minta bantuan tentara Indonesia agar menyelamatkan penduduk Timor
Timur yang berada dalam keadaan perang. Tapi saat tentara Indonesia masuk,
malah perangnya diperpanjang. Akibat perlakuan tentara yang brutal, maka
makin lama orang makin tidak senang dengan ABRI. Akhirnya apa yang
diharapkan itu tidak bisa menjadi kenyataan.
(P): Sebagai seorang pejabat tinggi di Indonesia, barangkali ada rasa kuatir
akan keamanan pribadi lantaran pernyataan Anda yang dinilai sangat keras dan
kritis?
(MVC): Bagi saya itu, mau dikeluarkan hari ini, silahkan. Saya orang yang
tidak pernah melanggar unsur loyalitas. Saya selalu terbuka, kalau
ditanyakan, ya...saya kemukakan. Hal ini bukan saat ini saja, sebelum era
reformasi pun saya selalu bicara terbuka kepada beliau-beliau agar mau
mengambil langkah-langkah yang tepat. Sekarang terbukti kan. Sekarang baru
banyak pejabat itu membenarkan saya. Contohnya, saat Pak Theo Syafei
pertama ke TimTIm, langsung mencurigai saya. Setelah Xanana ditangkap dan di
interogasi selama satu minggu, tanggal 27 Nopember, pukul 2 sore, beliau
menelepon saya dan mengatakan: "ternyata Pak Mario tidak terlibat". Memang
saya tidak terlibat. Saya itu menjadi gubernur Timor Timur untuk semua
orang, bukan untuk satu kelompok yang dinilai pro atau kontra. Maka
pernyataan-pernyataan saya sekarang ini pun tidak asing lagi bagi mereka.
Karena mereka sudah tahu, siapa saya. Semua itu selalu saya sampaikan
dengan maksud untuk membantu negara Indonesia. Tapi kalau ada orang yang
merasa lebih tahu dari saya, termasuk kelompok yang datang ke Jakarta ini,
yang hanya bicara yang enak-enak saja. Pejabat Indonesia tidak akan
percaya dengan segala pernyataan tentang, siap hidup atau mati dengan
Indonesia. Jangan merasa bahwa, karena kita sudah tumbuh di alam Indonesia,
kemudian mau jadi lebih Indonesia dari orang Jawa,orang Sumatera dan orang
Maluku. Mungkin anak cucu kita kelak, Pemerintah Indonesia tidak akan
percaya itu. Kita harus merasa lebih Timor Timur daripada orang Indonesia.
Kalau saya, lahirnya di Timor, kalau ada sikap emosional saya itu lebih ke
Timor, tapi, itulah saya. Dan saya juga suka rakyat Indonesia. Tapi kalau
saya di suruh pilih, maka sori, saya itu orang Timor Timur. Jadi kalau tidak
senang dengan pernyataan saya, tak apa-apa. Kalau sekarang saya sudah tidak
diperlukan lagi di Indonesia, silahkan keluarkan saya. Saya tidak akan mati.
Terus-terang saja, setelah tidak jadi duta besar lagi, saya sudah mau
kembali ke Timor Timur. Jadi petanipun tidak apa-apa. Tapi mereka yang
mengangkat saya. Jadi saya siap saja. Kalau pindah, Oke.
(P): Eksodusnya warga pendatang dari Timor Timur dikatakan akibat teror
yang dilakukan orang Timor Timur terutama kelompok pro-kemerdekaan. Sejauh
mana hal ini bisa di percaya?
(MVC): Dari dulu di Timor Timur itu banyak orang Cina, orang Arab dan
pedagang lainnya. Rakyat Timor Timur itu tidak pernah menciptakan teror atau
kekacauan dengan mereka. Rakyat Timor Timur itu rakyat baik itu. Yang
namanya anti-pendatang dan anti macam- macam itu diciptakan setelah
integrasi oleh orang-orang yang punya kepentingan tertentu. Itu yang membuat
hal-hal seperti itu terjadi. Seperti memperpanjang perang. Dari dulu itu,
tidak pernah ada clash antar-agama. Toleransi beragama sangat tinggi. Lihat
saja mesjid pertama di Kampung Alor itu. Pembangunan mesjid itu juga
memperoleh bantuan dari uskup pertama Dili yaitu, Don Jaime Garcia Goullart.
Tanya saja sama orang-orang Arab di Dili. Maka tidak pernah kita lihat orang
Timor Timur itu berkelahi karena agama, ras atau pun suku. Maka sekarang
kita harus kembali ke suasana seperti dulu itu. Kalau tidak orang lain
masuk dan memanfaatkan keadaan itu untuk mengadu kita. Seperti sekarang ini.
(P): Jadi Anda melihat bebasnya Timor Timur dari Indonesia, di lain pihak
juga membantu Indonesia dalam politik internasional?
(MVC): Memang saat sekarang ini Indonesia perlu mengambil langkah seperti
itu. Agar bisa memperbaiki citranya dan mencapai target-target yang
Indonesia sendiri ingin capai dalam era reformasi ini. Hal ini saya rasa
tidak bisa kita bantah karena mahasiswa dengan reformasi totalnya tidak akan
berhenti sebelum perubahan total terjadi di Indonesia. Saya dulu terlibat
dalam gerakan mahasiswa di Portugal untuk menjatuhkan pemerintah Salazar.
Sehingga idealisme pemuda itu kita tahu sangat tinggi itu. Ini tidak akan
bisa dilawan oleh Pemerintah . Saya rasa Indonesia juga demikian. Maka coba
kita kihat hasil polling di RCTI, dimana 69% masyarakat Indonesia merasa
bahwa yang terbaik, Indonesia melepaskan Timor Timur. Ini seharusnya
disadari oleh kelompok-kelompok yang datang ke Jakarta, yang di katakan
sebagai utusan rakyat itu.
(P): Apa imbauan Anda buat rakyat dan mahasiswa Timor Timur dalam menghadapi
situasi saat ini?
(MVC): Dalam rangka menghadapi situasi seperti saat ini, kita harus
melakukan suatu introspeksi tentang segala perkembangan yang ada, dimana
kita sendiri ikut terlibat didalamnya. Sehingga akhirnya kita mengambil
keputusan yang tepat, yaitu sesuai dengan arah angin. Jangan kita lawan arah
angin atau arus yang merupakan kepentingan Republik Indonesia. Karena itu
Indonesia bersedia mengorbankan beberapa hal agar Indonesia bisa bertahan.
Karena itu, kita harus bersatu. Kalau sekarang ada yang di dalam jalan, ada
yang di pinggir jalan, dan ada yang tidak mau di pinggir jalan pun bisa
masuk untuk mengambil keputusan tentang apakah mau jadi orang Indonesia atau
mau jadi orang Timor Timur. Kalau ada orang Timor Timur yang mau jadi orang
Indonesia, terserah. Yang penting kita harus bersatu untuk memperjuangkan
apa yang sekarang akan diberikan oleh Indonesia. Nah... ini diberikan
Indonesia bukan untuk tidak di terima, tapi untuk di terima. Dan jangan ada
balas dendam, jangan mengambil sikap anti pendatang, jangan bersikap
seperti orang primitif. Manusia modern itu yah... jangan seperti itu. Bagi
para pendatang, mereka juga ada tempatnya, asal mau mengakui dan taat pada
ketentuan baru dan realitas baru di Timor Timur, pasti kita terima. Sebab
Timor Timur kan memerlukan mereka.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 10 Mar 1999 jam 21:54:02 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++