*Mengapa Harus Dibaca 33 Kali?* An-Nisa : 103-104 Sesungguhnya, kalau mau membalik atau membaca acak, mau mengurangi atau menambah tidak ada Nash yang tegas melarang. Masalahnya, bahwa bacaan itu sudah paket dari Nabi Muhammad SAW langsung. Ibarat resep yang sudah jadi dan tinggal menelan saja. Soal kenapa dan kenapa ? Hanya Allah dan RasulNya saja yang mengetahui.
Tapi, jika boleh dikira-kira, maka begini: Bacaan tasbih (Subhanallah), adalah ungkapan seorang hamba mensucikan Tuhannya. Tuhan yang Maha Sempurna dan bersih dari segala sifat kurang. Pensucian ini adalah refleksi tulus dengan harapan jiwa hamba tersebut bisa bersih dan tajam melihat maslah, jernih melihat Tuhan, melihat segala pemberian Tuhan. jernih melihat rahmat Tuhan. Dan ternyata Tuhan serba Maha Memeberi, tak terbatas dan tak hitungan. Setelah begitu bersih, begitu jernih mampu melihat betap Tuhan serba memberi, barulah jiwa itu bisa bersyukur, bisa berucap terima kasih, bisa memuji keMaha-MuliaanNya. Memang hanya jiwa yang jernih saja yang mampu bersyukur. Hanya jiwa yang bersih saja yang pandai berterima kasih. Ekspresi berterima kasih itulah diungkap dalam kata-kata "al-Hamdu lillah" (Segala puji hanya bagai Allah). Ternyata si hamba itu sudah menyadari keadaan dirinya di hadapan Tuhan. Diri seorang hamba yang lemah dan Diri Dzat Tuhan Yang Maha Segala. Tak ada apa-apanya diri ini di hadapan Tuhan. Betapa Maha Mulia, betapa Maha Pengasih, betapa Maha Kuasa, Perkasa tak tertandingi. Dari kesadaran itulah, lahir ungkapan yang lkeluar dari lubuk hati paling dalam, bahwa Tuhan sungguh Maha Besar. Itulah ungkapan "Allah Akbar". Soal 33 kali murni sebuah adonan, sebuah formula yang seimbang dan terukur. Ibarat obat yang diresep dokter ahli. Sungguh sangat seimbang disesuaikan dengan keadaan penyakit. Terukur dan pas. Tidak berlebih dan tidak pula kurang. Apalagi jika ditaati dan diamalkan sesuai petunjuk. Yang tahu kenapa tablet sekecil ini cukup diminum sekali sehari, sedangkan kapsul yang besar-besar malah tiga kali sehari?.Hanya dokter pembuat resep saja yang tahu itu. Pasien tidak perlu mengetahui, cukup mentaati saja. Bila "Subahanallah" dibaca 33 kali setiap usai shalat, "Al-hamdu lilah" 33 kali dan "Allah Akbar" juga demikian, maka masing-masing akan terbaca sebanyak 165 kali dalam sehari-semalam. Atau, secara kumulatif terbaca sebanyak 495 kali. Jika aktif dilakukan dalam satu minggu, maka total berjumlah 3465 kali. Jika dibaca aktif dalam satu bulan, jumlahnya 14.850kali. Sebuah angka cukup efektif menembus sanubari, jika benar-benar dibaca secara sungguhan dan diresapi. Logikanya, jiwa sesorang muslim mesti bisa bersih, bisa pandai bersyukur, bisa menyadari keterbatasan jika dia membaca wiridan di atas secara aktif dan teresapi dalam satu bulan. Dilanjutkan dengan membaca kalimah tahlil " La ilah illa Allah", Tiada Tuhan selain Allah". Sekian kali. Lalu berdoa. Berdoa memohon kebaikan di Dunia dan kebaikan di Akhirat. Sungguh rangkaian bacaan yang bagus dan sangat religius. Haruskah wiridan dilakukan dengan duduk setelah usai shalat seperti kebiasaan kita? Ya tidak. Bisa saja Anda berwiridan, membaca-baca kalimah thayyibah sambil tiduran, dengan jalan-jalan, termasuk dengan jungkiran sekalipun. Ayat studi ini memberi kebebasan cara berdzikir, yakni sambil berdiri, duduk atau tiduran " fadzkuru Allah qiyama wa qu'uda wa 'ala junubihim ". Cuma harus disadari, lha wong segera setelah shalat, dalam keadaan sangat kondusif, barusan berbisik-bisik dengan Tuhan, tinggal meneruskan saja tidak mau, apalagi setelah berpisah lama dan terpental dari situasi kondusif? Apa tidak malah lupa?[]
