Wah, dadi njuk kepingin melu nyruput kopine..... Kalau di Kendal itu kopinya kira-kira darimana ya..... Siapa tahu ada yang bisa dikembangkan lebih lanjut..... (pokoke bisnis wae sing ono ning pikiran ki...). Ya..ya.., saya ingat tentang kue espress ini. Beberapa waktu yang lalu waktu ke Kendal saya sengaja cari balung kuwuk. Adik saya membantu mencarikannya. Panganan ndeso iki jannnn... kemripik lan gurih tenan. Pulang ke Jogja saya bawa 10 bungkus besar balung kuwuk. Dua kali ke Kendal, dua kali ngangkut balung kuwuk. Sayang "packing"-nya masih terkesan seadanya. Sedang saya gagas untuk di-"repacking" untuk dijual kembali. Potensinya bisa mengglobal. Siapa tahu kue espress juga punya potensi yang sama... Nuwun sharing-nya, mas. Salam, Yusuf
--- On Sun, 1/4/09, imron_m <[email protected]> wrote: From: imron_m <[email protected]> Subject: [kendal-online] Ngopi ala kendal: kopi tubruk dan kue espres To: [email protected] Date: Sunday, January 4, 2009, 11:39 PM Di jakarta, pengin nyantai sambil ngopi mah gampang. Cafe-cafe bertebaran di mana-mana. Kalau lagi di kantor, tinggal nyeberang jalan, ada starbuck dan cafe suryo. Kopi hitam jadi sasaran. Jangan manis, biar cita rasa kopinya tidak sembunyi di balik gula. Sebelum nyeruput kopi, gigit dikit kue sebesar koin 100an --senantiasa disertakan-- yang manis itu. Cukup membuat rasa manis 1-2 seruput. KAlau lapar dan untuk menghilangkan eneg kebanyakan kopi, kue tiramizu atau yang lain dalam daftar menu bisa jadi pilihan. Nah, dua minggu akhir tahun kemarin saya liburan di kendal. Jelas tidak ada tempat ngopi macam di Jakarta. Kalaupun ada starbuck di Kendal, saat ini pasti tidak akan melangkahkan kaki ke sana.. Sebuah solidaritas kecil untuk Palestina. Pun kalau ada suryo cafe di Kendal, juga rasanya tidak akan tergoda. Maklum, program 2009 adalah hidup hemat biar bisa punya modal buka warung seperti Pak Yusuf Iskandar. Sebagai alternatif, pas ngantar istri ke Pasar Pegandon, saya beli kopi tubruk curah, tanpa merek. Saya juga beli kue tradisional lainnya. Salah satunya kue espres. Itu lho yang bentuknya bulat, pipih, warna putih, dibuat dari campuran gula dan tepung (orang kendal menyebut) erut, atau tepung sagu ya? Tidak lupa beli gorengan. Entah dari mana idenya, saya menjadikan kue espres itu sebagai pengantar minum kopi tubruk pahit. Rasanya? Asli, enak. Anak-anak saya juga menjadikan kue espres sebagai teman minum teh kepyur. Gorengan juga tidak kalah mantap dibanding tiramizu atau kue model kafe lainnya. Pagi tadi anak saya telepon bu liknya di Pegandon. Minta dikirimin kue espres. Sangat banyak cita rasa lokal. Tetapi kenapa ya jadi kurang gengsi untuk dikonsumsi dan kurang seksi untuk dielaborasi dari sisi bisnis....

