Mbak Endang,
 
Saya angsli kampung Kranggan, kidul mesjid Kendal. Rumah saya dulu di belakang 
toko Mariati (sekarang toko Warna Agung).
 
Ya, saya dengar di Kaliwungu banyak balung kuwuk. Saya sempat minta tolong adik 
saya untuk dibanding-bandingkan mana yang bagus. Saya bawa juga krupuk 
tayamum/usek/goreng wedhi. Untuk krupuk ini perlu penanganan khusus dalam 
penyimpanan, soalnya rentan mudah mlempem sehingga tidak kriuk-kriuk lagi, 
melainkan langsng dicemplungke ning bakso atau mie rebus (sisan olehe 
mlempem... he..he..).
 
Memang waktu itu yang ada di pikiran saya adalah bagaimana me-repacking kedua 
jenis camilan itu sehingga "layak" masuk toko. Soal rasa sih OK, tapi tampilan 
masih kelewat ndeso. Nah, ini yang harus disiasati. Sangat-sangat tidak 
tertutup kemungkinan untuk jenis camilan yang lain.
 
Tentang kopi.... wah ini yang membuat saya penasaran kepingin nyoba......
 
Nuwun & salam,
Yusuf
 

--- On Mon, 1/5/09, endang nuraini <[email protected]> wrote:

From: endang nuraini <[email protected]>
Subject: Re: [kendal-online] Ngopi ala kendal: kopi tubruk dan kue espres
To: [email protected]
Date: Monday, January 5, 2009, 6:20 AM











Nuwun sewu nderek nimbrung, Pak Imron Kendalipun Pegandon, nggih? menawi Pak 
Yusuf asli pundi, kok akrab kalih balung kuwuk. Kebetulan aku asli Kaliwungu, 
banyak produsen balung kuwuk di sana. yang pasti gurih dan renyah. ada juga 
teman yang coba packaging krupuk tayamum(pirsa, nggih?) leres, krupuk usek 
alias krupuk goreng pasir. yang sekarang banyak dijajakan di pinggir 
jalan(tetep dengan packaging seadanya). teman saya mencoba nembus pasar 
swalayan, sayang harus ada ijin produksi. dan ternyata waktu diurus, terdeteksi 
menggunakan pewarna sintetis.
jadi berantakan deh.
 
Begitu kalo kurang pengetahuan n tidak menyadari bahaya bahan sintetis. mbok 
tolong kalo ada yang menguasai hal ini sosialisasi ke kampung2. agar tidak 
berlanjut terus dalam ketidaktahuan.
matur nuwun.
 
 
Endang Na
SMK Negeri 2 Kendal

--- Pada Sen, 5/1/09, Yusuf Iskandar <yiskandar_2000@ yahoo.com> menulis:

Dari: Yusuf Iskandar <yiskandar_2000@ yahoo.com>
Topik: Re: [kendal-online] Ngopi ala kendal: kopi tubruk dan kue espres
Kepada: kendal-online@ yahoogroups. com
Tanggal: Senin, 5 Januari, 2009, 8:07 PM









Wah, dadi njuk kepingin melu nyruput kopine..... Kalau di Kendal itu kopinya 
kira-kira darimana ya..... Siapa tahu ada yang bisa dikembangkan lebih 
lanjut..... (pokoke bisnis wae sing ono ning pikiran ki...).
 
Ya..ya.., saya ingat tentang kue espress ini. Beberapa waktu yang lalu waktu ke 
Kendal saya sengaja cari balung kuwuk. Adik saya membantu mencarikannya. 
Panganan ndeso iki jannnn... kemripik lan gurih tenan. Pulang ke Jogja saya 
bawa 10 bungkus besar balung kuwuk. Dua kali ke Kendal, dua kali ngangkut 
balung kuwuk. Sayang "packing"-nya masih terkesan seadanya. Sedang saya gagas 
untuk di-"repacking" untuk dijual kembali. Potensinya bisa mengglobal. Siapa 
tahu kue espress juga punya potensi yang sama...
 
Nuwun sharing-nya, mas.
 
Salam,
Yusuf 


--- On Sun, 1/4/09, imron_m <imro...@yahoo. com> wrote:

From: imron_m <imro...@yahoo. com>
Subject: [kendal-online] Ngopi ala kendal: kopi tubruk dan kue espres
To: kendal-online@ yahoogroups. com
Date: Sunday, January 4, 2009, 11:39 PM




Di jakarta, pengin nyantai sambil ngopi mah gampang. Cafe-cafe
bertebaran di mana-mana.
Kalau lagi di kantor, tinggal nyeberang jalan, ada starbuck dan cafe
suryo. Kopi hitam jadi sasaran. Jangan manis, biar cita rasa kopinya
tidak sembunyi di balik gula. Sebelum nyeruput kopi, gigit dikit kue
sebesar koin 100an --senantiasa disertakan-- yang manis itu. Cukup
membuat rasa manis 1-2 seruput. KAlau lapar dan untuk menghilangkan
eneg kebanyakan kopi, kue tiramizu atau yang lain dalam daftar menu
bisa jadi pilihan.
Nah, dua minggu akhir tahun kemarin saya liburan di kendal. Jelas
tidak ada tempat ngopi macam di Jakarta. Kalaupun ada starbuck di
Kendal, saat ini pasti tidak akan melangkahkan kaki ke sana.. Sebuah
solidaritas kecil untuk Palestina. Pun kalau ada suryo cafe di Kendal,
juga rasanya tidak akan tergoda. Maklum, program 2009 adalah hidup
hemat biar bisa punya modal buka warung seperti Pak Yusuf Iskandar.
Sebagai alternatif, pas ngantar istri ke Pasar Pegandon, saya beli
kopi tubruk curah, tanpa merek. Saya juga beli kue tradisional
lainnya. Salah satunya kue espres. Itu lho yang bentuknya bulat,
pipih, warna putih, dibuat dari campuran gula dan tepung (orang kendal
menyebut) erut, atau tepung sagu ya? Tidak lupa beli gorengan.
Entah dari mana idenya, saya menjadikan kue espres itu sebagai
pengantar minum kopi tubruk pahit. Rasanya? Asli, enak. Anak-anak saya
juga menjadikan kue espres sebagai teman minum teh kepyur. Gorengan
juga tidak kalah mantap dibanding tiramizu atau kue model kafe lainnya.
Pagi tadi anak saya telepon bu liknya di Pegandon. Minta dikirimin kue
espres.
Sangat banyak cita rasa lokal. Tetapi kenapa ya jadi kurang gengsi
untuk dikonsumsi dan kurang seksi untuk dielaborasi dari sisi bisnis....





Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! 
Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!
 














      

Kirim email ke