dahoeloe ketika era thn 1963 saya paling suka dengan kue 'bandos' dan srabi., 
itu loh adonan tepung beras sama santan dan gula, trus dipanggang dlm cetakan 
utk bandos ,klo srabi dlm cetakan wajan kecil, itu semua berada di dlm pasar 
pegandon.
-juga di tengah pasar pas berhadapan dng pintu masuk pasar nGGandon, ada toko 
buku nama nya "Toko Buku AL'FIRDAUS.
berbagai macam buku ada di situ, saya klo mo cari buku vovel yg 
ber boso djowo, misale karya : Any Asmara,widi widayat,supartobroto,kus 
sudarsono, any, dan beberapa majalah 
"MekarSari.PanjebarSemangat,JoyoBoyo'SketMasa,TerangBulan,Diskorina
semua itu ada di toko buku tersebut, saya masih ingat yg punya toko nama nya 
"Mohc.TALQIS"...<klo tdk salah loh>.
-dan ketika itu klo mau beli koran saya harus naik speda,dan juga jalan laki 
utk pergi ke KotaKendal yg jauh nya dari ndesaku di soekodono jarak nya 4km, 
langgananku di toko buku KENCANA, saya hanya pengin mbeli koran 'SUARA MERDEKA' 
MINGGUPAGI'
dan berbagai komik ceritera wayang Mahabrata-Ramayana karya ,RA Kosasih 
terbitan Melody di Bandung.
- DAN MASIH ADA LAGI YAITU TOKO BUKU 'hn' yg khusus menjual buku-buku utk 
pelajaran sekolah 'SR'smp'SMa..,dll.
-moga saja sekarang masih ada toko toko buku tsb.
-juga kue bandos dan srabi, tapi paling asyik yaitu ada sebuah warung yg nama 
nya terrkenal disebut "WAROENG ANGGAK'e"
letaknya di depan mesjid besar Kendal, dekat SMP bHINEKA.
 
Salam buat MasMandor Jamal di  Bugangin Kendal
juga dumateng Pak UPIN di PANGKALPINANG BangkaBelitung.
 
BAMBANG ASMU'IE  H. MAKSOEM
Sungailiat Bangka

--- Pada Sen, 5/1/09, imron_m <[email protected]> menulis:

Dari: imron_m <[email protected]>
Topik: [kendal-online] Ngopi ala kendal: kopi tubruk dan kue espres
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 5 Januari, 2009, 2:39 AM






Di jakarta, pengin nyantai sambil ngopi mah gampang. Cafe-cafe
bertebaran di mana-mana.
Kalau lagi di kantor, tinggal nyeberang jalan, ada starbuck dan cafe
suryo. Kopi hitam jadi sasaran. Jangan manis, biar cita rasa kopinya
tidak sembunyi di balik gula. Sebelum nyeruput kopi, gigit dikit kue
sebesar koin 100an --senantiasa disertakan-- yang manis itu. Cukup
membuat rasa manis 1-2 seruput. KAlau lapar dan untuk menghilangkan
eneg kebanyakan kopi, kue tiramizu atau yang lain dalam daftar menu
bisa jadi pilihan.
Nah, dua minggu akhir tahun kemarin saya liburan di kendal. Jelas
tidak ada tempat ngopi macam di Jakarta. Kalaupun ada starbuck di
Kendal, saat ini pasti tidak akan melangkahkan kaki ke sana.. Sebuah
solidaritas kecil untuk Palestina. Pun kalau ada suryo cafe di Kendal,
juga rasanya tidak akan tergoda. Maklum, program 2009 adalah hidup
hemat biar bisa punya modal buka warung seperti Pak Yusuf Iskandar.
Sebagai alternatif, pas ngantar istri ke Pasar Pegandon, saya beli
kopi tubruk curah, tanpa merek. Saya juga beli kue tradisional
lainnya. Salah satunya kue espres. Itu lho yang bentuknya bulat,
pipih, warna putih, dibuat dari campuran gula dan tepung (orang kendal
menyebut) erut, atau tepung sagu ya? Tidak lupa beli gorengan.
Entah dari mana idenya, saya menjadikan kue espres itu sebagai
pengantar minum kopi tubruk pahit. Rasanya? Asli, enak. Anak-anak saya
juga menjadikan kue espres sebagai teman minum teh kepyur. Gorengan
juga tidak kalah mantap dibanding tiramizu atau kue model kafe lainnya.
Pagi tadi anak saya telepon bu liknya di Pegandon. Minta dikirimin kue
espres.
Sangat banyak cita rasa lokal. Tetapi kenapa ya jadi kurang gengsi
untuk dikonsumsi dan kurang seksi untuk dielaborasi dari sisi bisnis....

 














      Selalu bersama teman-teman di Yahoo! Messenger. Tambahkan mereka dari 
email atau jaringan sosial Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke