mungkin saya perlu buat analog sederhana.
saya kulakan/beli kaos dari pembuatnya 10rb.
lalu saya jual ke mas asrofi 30rb. jadi saya untung 20rb.
----- sampai langkah ini, etiskah saya mengambil untung sebanyak 200%?------
suara hati mas asrofi mengatakan "wah gak adil, kok aku rugi banyak akibat 
itu.."
lalu aku jawab "jika mas asrofi ingin untung, suruh orang lain beli kaos itu 
50rb, nanti akan dapat untung 20rb juga lho..."
---- begitu seterusnya
itu hanya gambaran yang gak pas banget,
tapi bagi level 1 yang paling bawah, kalo ingin berubah nasibnya karena tanpa 
sadar rugi besar akibat gabung, ya harus mencari level bawahannya.
 
aku masih awam dengan hukum dagang
sejauh mana (%) mengambil untung
apakah kayak undian, mimpi dapat untung setinggi langit dengan pengorbanan 
sekecil2nya..
 
mungkin yang lain dapat memberikan wejangan
 
kun 

--- On Fri, 6/19/09, ASROFI <[email protected]> wrote:


From: ASROFI <[email protected]>
Subject: Re: [kendal-online] Menggapai mimpi dalam dunia MLM
To: [email protected]
Date: Friday, June 19, 2009, 1:10 PM








Menurut hemat saya ga ada yang salah pada MLM, MLM hanya merupakan sebuah 
metode marketing saja, cuman bedanya ini melibatkan konsumen, MLM seolah2 
menyulap konsumen menjadi marketing. 

Masalah yang sering muncul adalah karena konsumen ini dari berbagai macam latar 
belakang dan belajar marketing mendadak maka sering kaget. Banyak diantara 
mereka yang berlebih2an dalam menyampaikan sesuatunya, bahkan ada yang sampai 
berkata bumbastis layaknya  tukang sulap, saya rasa ini wajar saja, itu hanya 
kekurang-tahuan mereka saja. Hampir setiap perusahaan MLM sebenarnya sudah 
membuat pakem2 positipnya, tapi sayangnya terkadang tidak sampai dengan jelas 
di level bawah.

Marketing memang berat, kalo kita baik kita dapet surga akhirat yaitu mereka 
yang menyampaikan produknya dengan benar, tidak melebih2kan, tapi terkadang 
marketing menjebak kita seperti para pemain MLM yang berkata bumbastis, penjual 
obat yang memastikan kesembuhan. Saya rasa perusahaan2 besar semacam XL juga 
sering terjebak dosa dalam menyampaikan informasi ke pelanggan.

MLM itu sendiri bukan hanya di Indonesia, MLM besar di Amerika, begitu juga di 
Malaysia. Robert T. Kiyosaki Orang Kanada Penulis buku Best Seller "Rich Dad 
Poor Dad" yang dikenal pakar keuangan itu pun sempat menulis buku tentang MLM 
dengan judul "Business School".

Karena Robert T. Kiyosaki pernah menulis buku tentang MLM itu maka dia menjadi 
sangat dikenal di kalangan orang MLM.

Kalau kita punya produk dan siap menjualnya dengan pola MLM saya rasa juga 
tidak masalah, MLM walau ribet di sistem pembayaran komisi para marketer(dalam 
hal ini konsmen yang disulap jadi marketer) tapi efisien dalam pengeluaran 
biaya iklan.

Marketing... ... ujung tombak sebuah bisnis.... awas... jangan bermarketing 
dengan cara berbohong! 


ASROFI

Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah
Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta Selatan
Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal

Mobile  : +6281 311 661 479
Yahoo : asrofism
G-Talk : m...@asrofi. web.id
Email : m...@asrofi. web.id
Blog : www.asrofi.web. id
Office : www.sentraproperty. com



2009/6/19 ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk>









MLM hampir ada di mana-mana Pak Pur, sebagai contoh Amway, ada di US, ada di 
Jepang, di Thailand, ada di mana-mana hehehe..cuman di Indonesia masih kalah 
sama Tianshi kayaknya. Tapi yang jelas "kitab sucinya" masih sama mesti 
beda-beda perusahaan, yaitu buku-buku karangan Robert T. Kiyosaki.

 Salam, 


Ery Wijaya
http://erywijaya. wordpress. com/









From: PakPur <pak...@gmail. com>
To: kendal-online@ yahoogroups. com
Sent: Friday, 19 June, 2009 10:05:17
Subject: Re: [kendal-online] Menggapai mimpi dalam dunia MLM






Mas Kun yang bijak & milisser KOL Ysh ..
Mhn maaf, numpang berpendapat ... mhn dikoreksi jika ada kesalahan
Ada satu pertanyaan menggelitik di benak saya, yakni : apakah produk MLM ini 
juga ada di luar negeri. Saya mencontohkan, Jepang misalnya, di mana saya 
berasumsi bhw di Jepang yg katanya orang2nya giat belajar dan bekerja, tentunya 
lebih percaya pada hasil karya/kerja, daripada .. maaf ... ber-MLM. Atau 
mungkin Korea ?
Kenapa saya tergelitik demikian ? Saya liat dan amati di Indonesia ini .. tak 
cuma MLM, namun semua iklan dan bujuk rayu yang sifatnya "mimpi" plus "ogah 
kerja tapi dapet duit" .. laris luar biasa ...Saya pikir MLM ini hanya salah 
satu bentuk dari cara cepat kaya dgn (mungkin) segala cara atau cara2 tertentu. 
Sepertinya ini sangat terkait dgn "mental dedikasi/etos kerja"  ... yg 
spertinya cukup tipis di Indonesia.
Saya mengamati, tidak banyak sih .. hanya beberapa ... para pelaku MLM kelas 
"atas" sepertinya dihuni oleh orang-orang yang sama. Hampir di semua produk. 
Saya jadi heran sekaligus khawatir, karena ada kemungkinan para "level 
terbawah" hanyalah difungsikan sebagai mass object.
Jika kita mau sedikit googling, kita akan mendapatkan banyak testimoni yg 
mirip2 penipuan. Sepertinya ini juga terkait dgn mental masyarakat kita yg 
umumnya masih mendewakan materi. Sehingga tolok ukur pekerjaan - proses ... 
melulu diukur dari uang dan/atau materi yang didapatkan. Kita sepertinya lupa 
bahwa rejeki itu tak semata-mata uang .. namun juga ada kesehatan, kepuasan, 
penghargaan akan eksistensi diri, kejujuran, dan seterusnya yang semuanya 
adalah kebaikan, rahmat dari-Nya.
Mohon maaf jika kurang berkenan.

Salam
PakPur





Pada 19 Juni 2009 09:37, muhamad kundarto <mask...@yahoo. com> menulis:













"Siapa sich orang yang tidak ingin kaya?", begitu sebuah pertanyaan yang sering 
meluncur dari mulut marketing MLM (multilevelmarketin g).
kemudian kita dibawa pada logika potensi diri dan kisah sukses, yang biasanya 
merujuk pada buku best seller. Wow..... mak nyuss terdengar di telinga, sampai 
kadang angan-angan dan mimpi kita melampung ke langit ketujuh.
Presentasi, yang biasanya face to face (empat mata) ini, biasanya ditutup 
dengan sebuah pertanyaan komitmen untuk masuk menjadi anggota dan hampir pasti 
diminta membayar uang sekian puluh ribu sampai jutaan. Tergantung. Tergantung 
jumlah mimpi yang dijanjikan. 
 
Jumlah uang yang dibayarkan tergantung konteksnya. Mungkin ada yang namanya 
beaya pendaftaran. Mungkin juga dengan membeli produk tertentu. Namun yang 
jelas harga pembelian jauh melambung dibandingkan harga sewajarnya dari barang 
tersebut. Andai harga barang seribu, mungkin harus bayar tiga ribu. Selisih dua 
ribu itu sebenarnya untuk dibagi secara proporsional pada beberapa level di 
atasnya.
 
Bagi calon anggota baru, biasanya yang terbayang adalah bonus super besar 
apabila dia sudah menduduki level tertentu dengan mengikuti pohon vektor. 
Misalnya level 2 apabila punya anak buah 3 orang level 1. Level 3 punya 3 orang 
level 2. Dan seterusnya.. ...
 
Kalau kita coba hitung sesuai logika di atas, maka level 5 hakekatnya sudah 
merekrut 111 orang. Andai iuran per orang adalah 100 ribu, maka uang yang 
terkumpul sebagai akibat level 5 ini adalah 11.100.000 rupiah. Akibat "pretasi" 
ini, level 5 akan mendapat bonus uang yang tentu nilainya di bawah 11,1 juta 
tersebut. Karena bonus juga akan terdistribusi pada level 4, 3, dan 2.
 
Setiap ada presentasi kolektif (baca: di hadapan banyak orang), biasanya akan 
diekploitasi segelintir orang yang sukses dengan bonus, penghasilan bulanan 
atau mobil mewahnya. Namun jelas tidak akan diomongnya berapa banyak 
orang-orang yang berada di level paling bawah. Katakanlah level 5 tadi, yang di 
bawahnya ada 111 orang, atau minimal ada 81 orang level 1 yang jelas-jelas 
menanggung kerugian, kecuali bonus "mimpi" (baca: kalau nanti level 5, akan 
dapat bonus sekian juta. kalau.....)
 
Haruskah keberuntungan segelintir orang harus mengorbankan kerugian banyak 
orang?
Katanya, sistem dagang yang benar itu harus menguntungkan kedua belah pihak.. 
Satu pihak dapat barang bagus, satu pihak dapat uang bagus (baca: untung)..
 
Fenomena lain,
Banyak orang juga lupa akan 'sejarah' atau 'jalan' yang mengantarkan dia ke 
jenjang kesuksesan. Ada yang melupakan orangtua yang mendidiknya saat tidak 
bisa apa-apa menjadi orang sekolahan yang cerdas dan mampu menatap dunia dengan 
optimis.
Ada juga banyak orang di berbagai waktu yang memotivasi dan membantu jalan 
kesuksesan. Tapi semua banyak di lupakan..... .
Fenomena ini yang rupanya 'ditangkap' oleh dunia MLM, dimana jerih payah 
membangun networking akan dihargai dengan bonus/uang.
 
Andai anda adalah pembuat produk (produsen), lalu saya bantu memasarkan 
(marketing) ke konsumen A, harusnya selama A masih membeli produk anda, aku 
selalu dapat bonus, karena jalan penjualan ke A lewat jasaku.
Yang biasanya terjadi, hanya 'salam tempel' sekali, setelah itu si marketing 
dilupakan oleh produsen.... .....
Yang parah juga banyak, si marketing gak dapat apa-apa.....
 
Itulah sedikit cerita dunia yang kadang tidak tegas antara mana yang hitam dan 
mana yang putih....
 
Ki Asmoro Jiwo
 





















      

Kirim email ke