Mas Kun yang bijak & milisser KOL Ysh ..
Mhn maaf, numpang berpendapat ... mhn dikoreksi jika ada kesalahan
Ada satu pertanyaan menggelitik di benak saya, yakni : apakah produk MLM ini
juga ada di luar negeri. Saya mencontohkan, Jepang misalnya, di mana saya
berasumsi bhw di Jepang yg katanya orang2nya giat belajar dan bekerja,
tentunya lebih percaya pada hasil karya/kerja, daripada .. maaf ... ber-MLM.
Atau mungkin Korea ?
Kenapa saya tergelitik demikian ? Saya liat dan amati di Indonesia ini ..
tak cuma MLM, namun semua iklan dan bujuk rayu yang sifatnya "mimpi" plus
"ogah kerja tapi dapet duit" .. laris luar biasa ...Saya pikir MLM ini hanya
salah satu bentuk dari cara cepat kaya dgn (mungkin) segala cara atau cara2
tertentu. Sepertinya ini sangat terkait dgn "mental dedikasi/etos kerja"
... yg spertinya cukup tipis di Indonesia.
Saya mengamati, tidak banyak sih .. hanya beberapa ... para pelaku MLM kelas
"atas" sepertinya dihuni oleh orang-orang yang sama. Hampir di semua produk.
Saya jadi heran sekaligus khawatir, karena ada kemungkinan para "level
terbawah" hanyalah difungsikan sebagai *mass object*.
Jika kita mau sedikit *googling*, kita akan mendapatkan banyak testimoni yg
mirip2 penipuan. Sepertinya ini juga terkait dgn mental masyarakat kita yg
umumnya masih mendewakan materi. Sehingga tolok ukur pekerjaan - proses ...
melulu diukur dari uang dan/atau materi yang didapatkan. Kita sepertinya
lupa bahwa rejeki itu tak semata-mata uang .. namun juga ada kesehatan,
kepuasan, penghargaan akan eksistensi diri, kejujuran, dan seterusnya yang
semuanya adalah kebaikan, rahmat dari-Nya.
Mohon maaf jika kurang berkenan.

Salam
PakPur




Pada 19 Juni 2009 09:37, muhamad kundarto <[email protected]> menulis:

>
>
> "Siapa sich orang yang tidak ingin kaya?", begitu sebuah pertanyaan yang
> sering meluncur dari mulut marketing MLM (multilevelmarketing).
> kemudian kita dibawa pada logika potensi diri dan kisah sukses, yang
> biasanya merujuk pada buku best seller. Wow..... mak nyuss terdengar di
> telinga, sampai kadang angan-angan dan mimpi kita melampung ke langit
> ketujuh.
> Presentasi, yang biasanya face to face (empat mata) ini, biasanya ditutup
> dengan sebuah pertanyaan komitmen untuk masuk menjadi anggota dan hampir
> pasti diminta membayar uang sekian puluh ribu sampai jutaan. Tergantung.
> Tergantung jumlah mimpi yang dijanjikan.
>
> Jumlah uang yang dibayarkan tergantung konteksnya. Mungkin ada yang namanya
> beaya pendaftaran. Mungkin juga dengan membeli produk tertentu. Namun yang
> jelas harga pembelian jauh melambung dibandingkan harga sewajarnya dari
> barang tersebut. Andai harga barang seribu, mungkin harus bayar tiga ribu.
> Selisih dua ribu itu sebenarnya untuk dibagi secara proporsional pada
> beberapa level di atasnya.
>
> Bagi calon anggota baru, biasanya yang terbayang adalah bonus super besar
> apabila dia sudah menduduki level tertentu dengan mengikuti pohon vektor.
> Misalnya level 2 apabila punya anak buah 3 orang level 1. Level 3 punya 3
> orang level 2. Dan seterusnya.....
>
> Kalau kita coba hitung sesuai logika di atas, maka level 5 hakekatnya sudah
> merekrut 111 orang. Andai iuran per orang adalah 100 ribu, maka uang yang
> terkumpul sebagai akibat level 5 ini adalah 11.100.000 rupiah. Akibat
> "pretasi" ini, level 5 akan mendapat bonus uang yang tentu nilainya di bawah
> 11,1 juta tersebut. Karena bonus juga akan terdistribusi pada level 4, 3,
> dan 2.
>
> Setiap ada presentasi kolektif (baca: di hadapan banyak orang), biasanya
> akan diekploitasi segelintir orang yang sukses dengan bonus, penghasilan
> bulanan atau mobil mewahnya. Namun jelas tidak akan diomongnya berapa banyak
> orang-orang yang berada di level paling bawah. Katakanlah level 5 tadi, yang
> di bawahnya ada 111 orang, atau minimal ada 81 orang level 1 yang
> jelas-jelas menanggung kerugian, kecuali bonus "mimpi" (baca: kalau nanti
> level 5, akan dapat bonus sekian juta. kalau.....)
>
> Haruskah keberuntungan segelintir orang harus mengorbankan kerugian banyak
> orang?
> Katanya, sistem dagang yang benar itu harus menguntungkan kedua belah
> pihak. Satu pihak dapat barang bagus, satu pihak dapat uang bagus (baca:
> untung).
>
> Fenomena lain,
> Banyak orang juga lupa akan 'sejarah' atau 'jalan' yang mengantarkan dia ke
> jenjang kesuksesan. Ada yang melupakan orangtua yang mendidiknya saat tidak
> bisa apa-apa menjadi orang sekolahan yang cerdas dan mampu menatap dunia
> dengan optimis.
> Ada juga banyak orang di berbagai waktu yang memotivasi dan membantu jalan
> kesuksesan. Tapi semua banyak di lupakan......
> Fenomena ini yang rupanya 'ditangkap' oleh dunia MLM, dimana jerih payah
> membangun networking akan dihargai dengan bonus/uang.
>
> Andai anda adalah pembuat produk (produsen), lalu saya bantu memasarkan
> (marketing) ke konsumen A, harusnya selama A masih membeli produk anda, aku
> selalu dapat bonus, karena jalan penjualan ke A lewat jasaku.
> Yang biasanya terjadi, hanya 'salam tempel' sekali, setelah itu si
> marketing dilupakan oleh produsen.........
> Yang parah juga banyak, si marketing gak dapat apa-apa.....
>
> Itulah sedikit cerita dunia yang kadang tidak tegas antara mana yang hitam
> dan mana yang putih....
>
> Ki Asmoro Jiwo
>
>
>  
>

Kirim email ke