Yang jadi masalah, pada umumnya konsumen tdk tau struktur biayanya seperti
apa. Demikian juga, orang yg di dalam jaringan itu, tidak tau.
Seandainya ada MLM yg terbuka struktur biayanya, mungkin akan lebih mudah
untuk membedakan mana yg bener jualan, mana yg money game.
 
Kalau saya pribadi, akhirnya, hanya berpatokan begini:
1. apakah harganya cukup wajar, dibandingkan dengan barang sejenis di
pasaran. 
2. karena biasanya harga jauh lebih mahal dibandingkan dg barang sejenis,
berikutnya, apakah manfaat/khasiatnya 'cucuk' dg selisih lebih harganya.
3. apakah penghargaan (bonus, poin, dsb) menjual produk lebih tinggi secara
signifikan daripada mengembangkan jaringan. (dlm kasus ekstrem, ada MLM yg
berprinsip: tidak jual produk tdk apa2, yg penting jaringan nambah).
 
Kalau jawabannya tidak, feeling saya, yg seperti itu lebih dekat ke money
game.
 
Wassalam,
Bw


  _____  

From: [email protected] [mailto:[email protected]]
On Behalf Of ASROFI
Sent: Friday, June 19, 2009 5:22 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [kendal-online] Menggapai mimpi dalam dunia MLM





O0o, begitu Pak Kun, wah kalau ada yang begitu tinggalin aja jauh2...

Menurut ilmu yang saya pelajari MLM yang benar tidak seperti itu, MLM yang
benar tidak ngambil keuntungan dalam recruitement. Perlu dicermati juga
sekarang banyak sekali usaha-usaha money games, arisan bersama dll.. ini
bukanlah MLM.

Begini gambaran MLM sederhana :

SAYA = Pengusaha (menggunakan metode pemasaran dengan MLM)
CUSTOMER-A = pelaku MLM (level 1 misalnya)
CUSTOMER-B = pelaku MLM (level 2 sebuT saja)



1.      Saya punya produk, let's say mereknya "kacang cap kuda" saya jual
dengan harga Rp.10.000 / kantong. 


2.      Biaya produksi saya Rp.5.000, Biaya Marketing Rp.3.000, Jadi saya
akan ambil keuntungan Rp.2.000 saja per kantong 

3.      Rp.3.000 yang saya sebut "biaya marketing" itu akan saya gunakan
untuk "marketing campaign" dengan metode MLM 

4.      CUSTOMER-A merupakan "buyer pertama" saya, saya bilang ke dia, hai
CUSTOMER-A kalo kamu mau ngajak sepupu kamu beli kacang cap kuda ini kamu
akan saya bayar Rp.2.000, kalau CUSTOMER-B ngajak "SI-X" maka kamu akan saya
bayar Rp.1.000 dari penjualan dia 

5.      CUSTOMER-B juga mendapat Rp.2.000 per penjualannya. 


6.      Begitu dan seterusnya... susah sekali perhitungannya. Di sini juga
ada biaya pendaftaran dll. Nah MLM yang ga bener atau money games justru
main di sininya, di recruitmentnya.


Nah seperti itulah MLM.

By the way, saya bukan pelaku MLM loh, tapi saya senang belajar banyak hal,
misalnya teknikal komputer ataupun marketing sayangnya saya kurang banyak
belajar sastra jadi mohon maaf kalau bahasa saya susah dicerna.

Mungkin Pak Kun nanti yang bisa lebih mempermudah penjelasan saya di atas.

Oh ya Pak Kun, itu blognya aktif banget ya?..... pingin saya. hihihi.

ASROFI

Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah
Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta
Selatan
Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal

Mobile  : +6281 311 661 479
Yahoo : asrofism
G-Talk : m...@asrofi. <mailto:[email protected]> web.id
Email : m...@asrofi. <mailto:[email protected]> web.id
Blog : www.asrofi.web. <http://www.asrofi.web.id> id
Office : www.sentraproperty. <http://www.sentraproperty.com> com



2009/6/19 muhamad kundarto <mask...@yahoo. <mailto:[email protected]> com>







mungkin saya perlu buat analog sederhana..
saya kulakan/beli kaos dari pembuatnya 10rb.
lalu saya jual ke mas asrofi 30rb. jadi saya untung 20rb.
----- sampai langkah ini, etiskah saya mengambil untung sebanyak 200%?------
suara hati mas asrofi mengatakan "wah gak adil, kok aku rugi banyak akibat
itu.."
lalu aku jawab "jika mas asrofi ingin untung, suruh orang lain beli kaos itu
50rb, nanti akan dapat untung 20rb juga lho..."
---- begitu seterusnya
itu hanya gambaran yang gak pas banget,
tapi bagi level 1 yang paling bawah, kalo ingin berubah nasibnya karena
tanpa sadar rugi besar akibat gabung, ya harus mencari level bawahannya.
 
aku masih awam dengan hukum dagang
sejauh mana (%) mengambil untung
apakah kayak undian, mimpi dapat untung setinggi langit dengan pengorbanan
sekecil2nya..
 
mungkin yang lain dapat memberikan wejangan
 
kun 


--- On Fri, 6/19/09, ASROFI <m...@asrofi. <mailto:[email protected]>
web.id> wrote:



From: ASROFI <m...@asrofi. <mailto:[email protected]> web.id> 

Subject: Re: [kendal-online] Menggapai mimpi dalam dunia MLM

To: kendal-online@ <mailto:[email protected]> yahoogroups.com

Date: Friday, June 19, 2009, 1:10 PM 


Menurut hemat saya ga ada yang salah pada MLM, MLM hanya merupakan sebuah
metode marketing saja, cuman bedanya ini melibatkan konsumen, MLM seolah2
menyulap konsumen menjadi marketing. 

Masalah yang sering muncul adalah karena konsumen ini dari berbagai macam
latar belakang dan belajar marketing mendadak maka sering kaget. Banyak
diantara mereka yang berlebih2an dalam menyampaikan sesuatunya, bahkan ada
yang sampai berkata bumbastis layaknya  tukang sulap, saya rasa ini wajar
saja, itu hanya kekurang-tahuan mereka saja. Hampir setiap perusahaan MLM
sebenarnya sudah membuat pakem2 positipnya, tapi sayangnya terkadang tidak
sampai dengan jelas di level bawah.

Marketing memang berat, kalo kita baik kita dapet surga akhirat yaitu mereka
yang menyampaikan produknya dengan benar, tidak melebih2kan, tapi terkadang
marketing menjebak kita seperti para pemain MLM yang berkata bumbastis,
penjual obat yang memastikan kesembuhan. Saya rasa perusahaan2 besar semacam
XL juga sering terjebak dosa dalam menyampaikan informasi ke pelanggan.

MLM itu sendiri bukan hanya di Indonesia, MLM besar di Amerika, begitu juga
di Malaysia. Robert T. Kiyosaki Orang Kanada Penulis buku Best Seller "Rich
Dad Poor Dad" yang dikenal pakar keuangan itu pun sempat menulis buku
tentang MLM dengan judul "Business School".

Karena Robert T. Kiyosaki pernah menulis buku tentang MLM itu maka dia
menjadi sangat dikenal di kalangan orang MLM.

Kalau kita punya produk dan siap menjualnya dengan pola MLM saya rasa juga
tidak masalah, MLM walau ribet di sistem pembayaran komisi para
marketer(dalam hal ini konsmen yang disulap jadi marketer) tapi efisien
dalam pengeluaran biaya iklan.

Marketing... ... ujung tombak sebuah bisnis.... awas... jangan bermarketing
dengan cara berbohong! 


ASROFI

Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah
Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta
Selatan
Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal

Mobile  : +6281 311 661 479
Yahoo : asrofism
G-Talk : m...@asrofi. web.id
<http://us.mc1114.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> 
Email : m...@asrofi. web.id
<http://us.mc1114.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> 
Blog : www.asrofi.web. id <http://www.asrofi.web.id/> 
Office : www..sentraproperty <http://www.sentraproperty.com/> . com



2009/6/19 ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co.
<http://us.mc1114.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>
uk>




MLM hampir ada di mana-mana Pak Pur, sebagai contoh Amway, ada di US, ada di
Jepang, di Thailand, ada di mana-mana hehehe..cuman di Indonesia masih kalah
sama Tianshi kayaknya. Tapi yang jelas "kitab sucinya" masih sama mesti
beda-beda perusahaan, yaitu buku-buku karangan Robert T. Kiyosaki.

 
Salam, 


Ery Wijaya
http://erywijaya. wordpress. com/ <http://erywijaya.wordpress.com/> 

 <http://ery-wijaya.web.ugm.ac.id/>  <http://kamase.org/> 




  _____  

From: PakPur <pak...@gmail. com
<http://us.mc1114.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> >
To: kendal-online@ yahoogroups.
<http://us.mc1114.mail.yahoo.com/mc/[email protected]
> com
Sent: Friday, 19 June, 2009 10:05:17
Subject: Re: [kendal-online] Menggapai mimpi dalam dunia MLM


Mas Kun yang bijak & milisser KOL Ysh ..
Mhn maaf, numpang berpendapat ... mhn dikoreksi jika ada kesalahan
Ada satu pertanyaan menggelitik di benak saya, yakni : apakah produk MLM ini
juga ada di luar negeri. Saya mencontohkan, Jepang misalnya, di mana saya
berasumsi bhw di Jepang yg katanya orang2nya giat belajar dan bekerja,
tentunya lebih percaya pada hasil karya/kerja, daripada .. maaf ... ber-MLM.
Atau mungkin Korea ?
Kenapa saya tergelitik demikian ? Saya liat dan amati di Indonesia ini ..
tak cuma MLM, namun semua iklan dan bujuk rayu yang sifatnya "mimpi" plus
"ogah kerja tapi dapet duit" .. laris luar biasa ...Saya pikir MLM ini hanya
salah satu bentuk dari cara cepat kaya dgn (mungkin) segala cara atau cara2
tertentu. Sepertinya ini sangat terkait dgn "mental dedikasi/etos kerja"
... yg spertinya cukup tipis di Indonesia.
Saya mengamati, tidak banyak sih .. hanya beberapa ... para pelaku MLM kelas
"atas" sepertinya dihuni oleh orang-orang yang sama. Hampir di semua produk.
Saya jadi heran sekaligus khawatir, karena ada kemungkinan para "level
terbawah" hanyalah difungsikan sebagai mass object.
Jika kita mau sedikit googling, kita akan mendapatkan banyak testimoni yg
mirip2 penipuan. Sepertinya ini juga terkait dgn mental masyarakat kita yg
umumnya masih mendewakan materi. Sehingga tolok ukur pekerjaan - proses ...
melulu diukur dari uang dan/atau materi yang didapatkan. Kita sepertinya
lupa bahwa rejeki itu tak semata-mata uang .. namun juga ada kesehatan,
kepuasan, penghargaan akan eksistensi diri, kejujuran, dan seterusnya yang
semuanya adalah kebaikan, rahmat dari-Nya.
Mohon maaf jika kurang berkenan.

Salam
PakPur





Pada 19 Juni 2009 09:37, muhamad kundarto <mask...@yahoo. com
<http://us.mc1114.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > menulis:





"Siapa sich orang yang tidak ingin kaya?", begitu sebuah pertanyaan yang
sering meluncur dari mulut marketing MLM (multilevelmarketin g).
kemudian kita dibawa pada logika potensi diri dan kisah sukses, yang
biasanya merujuk pada buku best seller. Wow..... mak nyuss terdengar di
telinga, sampai kadang angan-angan dan mimpi kita melampung ke langit
ketujuh.
Presentasi, yang biasanya face to face (empat mata) ini, biasanya ditutup
dengan sebuah pertanyaan komitmen untuk masuk menjadi anggota dan hampir
pasti diminta membayar uang sekian puluh ribu sampai jutaan. Tergantung.
Tergantung jumlah mimpi yang dijanjikan. 
 
Jumlah uang yang dibayarkan tergantung konteksnya. Mungkin ada yang namanya
beaya pendaftaran. Mungkin juga dengan membeli produk tertentu. Namun yang
jelas harga pembelian jauh melambung dibandingkan harga sewajarnya dari
barang tersebut. Andai harga barang seribu, mungkin harus bayar tiga ribu.
Selisih dua ribu itu sebenarnya untuk dibagi secara proporsional pada
beberapa level di atasnya.
 
Bagi calon anggota baru, biasanya yang terbayang adalah bonus super besar
apabila dia sudah menduduki level tertentu dengan mengikuti pohon vektor.
Misalnya level 2 apabila punya anak buah 3 orang level 1. Level 3 punya 3
orang level 2. Dan seterusnya.. ...
 
Kalau kita coba hitung sesuai logika di atas, maka level 5 hakekatnya sudah
merekrut 111 orang. Andai iuran per orang adalah 100 ribu, maka uang yang
terkumpul sebagai akibat level 5 ini adalah 11.100.000 rupiah. Akibat
"pretasi" ini, level 5 akan mendapat bonus uang yang tentu nilainya di bawah
11,1 juta tersebut. Karena bonus juga akan terdistribusi pada level 4, 3,
dan 2.
 
Setiap ada presentasi kolektif (baca: di hadapan banyak orang), biasanya
akan diekploitasi segelintir orang yang sukses dengan bonus, penghasilan
bulanan atau mobil mewahnya. Namun jelas tidak akan diomongnya berapa banyak
orang-orang yang berada di level paling bawah. Katakanlah level 5 tadi, yang
di bawahnya ada 111 orang, atau minimal ada 81 orang level 1 yang
jelas-jelas menanggung kerugian, kecuali bonus "mimpi" (baca: kalau nanti
level 5, akan dapat bonus sekian juta. kalau.....)
 
Haruskah keberuntungan segelintir orang harus mengorbankan kerugian banyak
orang?
Katanya, sistem dagang yang benar itu harus menguntungkan kedua belah pihak.
Satu pihak dapat barang bagus, satu pihak dapat uang bagus (baca: untung).
 
Fenomena lain,
Banyak orang juga lupa akan 'sejarah' atau 'jalan' yang mengantarkan dia ke
jenjang kesuksesan. Ada yang melupakan orangtua yang mendidiknya saat tidak
bisa apa-apa menjadi orang sekolahan yang cerdas dan mampu menatap dunia
dengan optimis.
Ada juga banyak orang di berbagai waktu yang memotivasi dan membantu jalan
kesuksesan. Tapi semua banyak di lupakan..... .
Fenomena ini yang rupanya 'ditangkap' oleh dunia MLM, dimana jerih payah
membangun networking akan dihargai dengan bonus/uang.
 
Andai anda adalah pembuat produk (produsen), lalu saya bantu memasarkan
(marketing) ke konsumen A, harusnya selama A masih membeli produk anda, aku
selalu dapat bonus, karena jalan penjualan ke A lewat jasaku.
Yang biasanya terjadi, hanya 'salam tempel' sekali, setelah itu si marketing
dilupakan oleh produsen.... .....
Yang parah juga banyak, si marketing gak dapat apa-apa.....
 
Itulah sedikit cerita dunia yang kadang tidak tegas antara mana yang hitam
dan mana yang putih....
 
Ki Asmoro Jiwo
 








Kirim email ke