Pak Kun, saya coba bantu yang sedikit saya tau :D
Isu sawah menjadi salah satu penyumbang gas rumah kaca itu terjadi ketika
revolusi hijau ada, ketika booming populasi di dunia, disertai kebutuhan padi
dan bahan pangan yang luar biasa, sehingga kemudian kebutuhan akan pupuk buatan
(artificial) sangat pesat untuk menandingi permintaan bahan pangan yang tinggi
ini. Di sisi lain, sawah itu kan seperti area rawa ya, padi perlu genangan air
untuk tumbuh dimasa2 awal, dimana pemupukan juga dilakukan disaat-saat itu
(koreksi saya jika salah, karna bukan orang agriculture). Genangan air dan
pupuk yg berlebihan menyebabkan anaerobik (tanpa oksigen) memacu bakteri
methanogenic bekerja untuk mendaur ulang pupuk yang berlebihan tersebut dan
menghasilkan methana (CH4) ke atmosfir (tolong dicek juga penjelasan awam saya
ini). Methana kan salah satu dari golongan gas rumah kaca. Perlu diketahui,
bahwa usia CH4 di atmosfir itu 24 kali lebih lama dari pada karbon dioksida
CO2. Sehingga efeknya berlipat 24 kali dari CO2.
Itulah kenapa meski jumlahnya di atmosfir tidak sebanyak CO2 tapi karna usia
hidupnya lebih lama maka CH4 dianggap tidak kalah bahaya dengan CO2.
Isu padi dan peternakan menjadi pemicu pemanasan global itu hal yang benar,
tapi kalau ditujukan untuk negara berkembang saya rasa itu tidak sepenuhnya
benar. Mari kita tengok populasi sapi terbesar di dunia ada dimana? pasti di
negara maju; Australia, Amerika, New Zeland dll, kenapa? karna index konsumsi
protein hewani orang-orang negara maju sangat jauh lebih besar dari pada
kita-kita yang tinggal di negara berkembang, bahkan saking berlebihannya
produksi sapi mereka sampai di ekspor ke negara kita. Jadi isu 20% penyumbang
gas rumah kaca di negara Amerika berasal dari Sapi itu adalah hal yang benar :)
Kalau isu pembakaran hutan itu menjadi pemicu pemanasan global bisa saya lihat
dari dua sisi:
1. Menurut IPCC, siklus karbon biomasa itu adalah nol, kenapa? karna
proses pembakaran yang menghasilkan karbon ke atmosfir dengan proses penyerapan
kembali karbon oleh tanaman yang baru tumbuh/ditanam sangat cepat, bisa dalam
hitungan dibawah 7tahun. Sehingga tidak dignifikan jika dibandingkan dengan
siklus CO2 (100 tahunan)
2. Hal yang ironis di negara-negara berkembang, khususnya Indonesia
yakni tanaman yang kita bakar/terbakar tidak kemudian diganti dengan penanaman
tanaman baru (reboisasi) atau kalau tidak mau dikatakan seperti itu, proses
reboisasinya sangat lambat dibandingkan dengan kebakaran hutan yang terjadi.
Sehingga siklus karbon menjadi tidak seimbang alias tidak menjadi nol. Ini
kemudian yang memacu negara-negara maju memasukkan karbon hasil kebakaran hutan
di Indonesia menjadi salah satu pemasok gas rumah kaca.Demikian opini saya
sebagai orang yang awam di bidang pertanian :) saya kira Pak Kun malah lebih
jago. Oh iya mau nanya Pak kapan ya UPN buka pendaftaran, adek saya tertarik
untuk masuk di pertanian UPN. Matur nuwun
Salam,
Ery Wijaya
http://erywijaya.wordpress.com/
________________________________
From: muhamad kundarto <[email protected]>
To: ilmu tanah <[email protected]>; milist dosen UPN
<[email protected]>; alumni faperta
<[email protected]>; kendal online
<[email protected]>; milist alumni <[email protected]>
Sent: Wed, 21 April, 2010 23:10:18
Subject: [kendal-online] Misteri PEMANASAN GLOBAL
Sepuluh tahun lalu, ada isue sawah sebagai penipis ozon karena dianggap
penyumbang gas metan. Ternyata anggapan ini hanyalah isue memojokkan terhadap
keberadaan padi, karena bangsa asia sudah terbiasa makanan pokoknya padi.
Ceritanya biar si Gandum merajai wilayah asia, khususnya dengan masuknya
makanan roti dan mie instan.
Kemudian beberapa bangsa di asia membuat penelitian tandingan, yang intinya
sawah punya multifungsi, bukan sekedar penghasil beras belaka. Malah gerakan
ini terespon sampai pencanangan ketahanan pangan dengan cara membuat kawasan
sawah lestari.
Nah, beberapa tahun terakhir ini kita disibukkan dengan isu pemanasan global.
Argumennya 100 tahun terakhir terjadi pencemaran luar biasa, sehingga suhu
meningkat, es mencair, permukaan laut naik, terjadi perubahan iklim, dll,
sehingga seluruh dunia diharapkan dapat melakukan mitigasi dan adaptasi secara
global.
Terhadap isue ini, ada 2 misteri yang menarik untuk disimak.
Pertama, negara-negara barat seakan kompak, tentu dengan argumen hasil riset,
bahwa pertanian (sawah), kehutanan (pembakaran hutan) dan peternakan (kotoran
ternak) dianggap menjadi sumber pencemar super tinggi bagi penipisan ozon,
bahkan melebihi pencemaran industri negara-negara barat. Ada kesan,
negara-negara berkembanglah yang jadi faktor utama penyebab pemanasan global.
Kedua, benarkah pemanasan global ini hanya karena faktor pencemaran. Isu
ramalan bangsa maya yang hitungan tahunnya berakhir 2012 jadi heboh setelah
difilmkan. Namun data yang lebih akurat dari BMKG yang menginformasikan 2012
dan sekitarnya (maju-mundur) akan terjadi ledakan-ledakan di permukaan
matahari. Ini peristiwa biasa dari matahari, secara periodik. Tapi dampaknya
dapat berimbas sampai bumi. Dampak ini selain gelombang elektromagnetik, bisa
juga turut meningkatkan suhu bumi secara drastis.
Terhadap misteri yang pertama, kita kan tahu bahwa sejak jaman nenek moyang
dahulu aktifitas pertanian-peternaka n-kehutanan sudah dilakukan. Kok tiba-tiba
diklaim sebagai penyebab utama pencemaran lingkungan?
Misteri kedua, mungkin memang pencemaran akan menaikan suhu, tapi tidak
sedrastis pada kisaran 2012 ini. Jadi bisa saja karena faktor alamiah.
Mohon yang punya data lebih akurat untuk disharing.
Untuk menjadi pencerahan kita semua.....
nuwun
m Kun