Kalau saya memang percaya padi itu menghasilkan methana, karna di Thailand 
(produsen padi terbesar dunia) telah dilakukan penelitian hal tersebut. 
Kebetulan penelitinya adalah dosen saya yang mengampu mata kuliah Climate 
Change. Sepertinya tipikal sawah kita sama dengan sawah di sini.

Ini ada link bagus yang mengulas padi dan 
metanahttp://www.ru.nl/tracegasfacility/life_science_trace/plant_physiology/methane_oxidation/

Salam, 


Ery Wijaya
http://erywijaya.wordpress.com/






________________________________
From: muhamad kundarto <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thu, 22 April, 2010 20:27:32
Subject: Re: [kendal-online] Misteri PEMANASAN GLOBAL

  
Akunya yang awam ilmu kimia, pernah mendapat penjelasan dari dosen-dosen tanah 
di UGM. 
tanah sawah bisa aja menyumbang gas methan tapi kemungkinannya sangat kecil. 
terjadinya apabila genangan air tidak mengalir dan kondisinya reduksi (tanpa 
O2) tinggi.
dengan berseloroh beliau bilang "kalo ada bangkai di sawah, tergenang lama 
tanpa mengalir, itu baru mengeluarkan gas methan".
lha sawah-sawah kita kan umumnya sirkulasi air sangat baik, bahkan genangan air 
selalu berjalan dari petak ke petak.

argumen yang lebih tepat adalah genangan sawah di daerah rawa karena sirkulasi 
air sangat jarang.

Aku lihat laporan KLH RI yang membuat analisis tandingan dari analisis peneliti 
barat, agar biang kerok pemanasan global tidak melulu yang disalahkan negara 
tropis.

Coba deh kalo ke bandara Jogja, di bagian pengambilan barang/tas, ada iklan 
besar bahwa pertanian dan peternakan lebih besar dalam menyebabkan pemanasan 
global dibandingkan cerobong asap industri.
naluriku mengatakan ini pemelintiran data ilmiah, cuma aku gak tau argumen data 
pendukungnya hehhee....

 

--- On Thu, 4/22/10, ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk> wrote:


>From: ery wijaya <muh_ery_wijaya@ yahoo.co. uk>
>Subject: Re: [kendal-online] Misteri PEMANASAN GLOBAL
>To: kendal-online@ yahoogroups. com
>Date: Thursday, April 22, 2010, 12:01 AM
>
>
>>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> 
>  >
>
> 
>>      
> 
>Pak Kun, saya coba bantu yang sedikit saya tau :D
>
>Isu sawah menjadi salah satu penyumbang gas rumah kaca itu terjadi ketika 
>revolusi hijau ada, ketika booming populasi di dunia, disertai kebutuhan padi 
>dan bahan pangan yang luar biasa, sehingga kemudian kebutuhan akan pupuk 
>buatan (artificial) sangat pesat untuk menandingi permintaan bahan pangan yang 
>tinggi ini. Di sisi lain, sawah itu kan seperti area rawa ya, padi perlu 
>genangan air untuk tumbuh dimasa2 awal, dimana pemupukan juga dilakukan 
>disaat-saat itu (koreksi saya jika salah, karna bukan orang agriculture) . 
>Genangan air dan pupuk yg berlebihan menyebabkan anaerobik (tanpa oksigen) 
>memacu bakteri methanogenic bekerja untuk mendaur ulang pupuk yang berlebihan 
>tersebut dan menghasilkan methana (CH4) ke atmosfir (tolong dicek juga
> penjelasan awam saya ini). Methana kan salah satu dari golongan gas rumah 
> kaca. Perlu diketahui, bahwa usia CH4 di atmosfir itu 24 kali lebih lama dari 
> pada karbon dioksida CO2. Sehingga efeknya berlipat 24 kali dari CO2. Itulah 
> kenapa meski jumlahnya di atmosfir tidak sebanyak CO2 tapi karna usia 
> hidupnya lebih lama maka CH4 dianggap tidak kalah bahaya dengan CO2.
>
>Isu padi dan peternakan menjadi pemicu pemanasan global itu hal yang benar, 
>tapi kalau ditujukan untuk negara berkembang saya rasa itu tidak sepenuhnya 
>benar. Mari kita tengok populasi sapi terbesar di dunia ada dimana? pasti di 
>negara maju; Australia, Amerika, New Zeland dll, kenapa? karna index konsumsi 
>protein hewani orang-orang negara maju sangat jauh lebih besar dari pada 
>kita-kita yang tinggal di negara berkembang, bahkan saking berlebihannya 
>produksi sapi mereka sampai di ekspor ke negara kita. Jadi isu 20% penyumbang 
>gas rumah kaca di negara Amerika berasal dari Sapi itu adalah
> hal yang benar :)
>
>Kalau isu pembakaran hutan itu menjadi pemicu pemanasan global bisa saya lihat 
>dari dua sisi:
>
>       1. Menurut IPCC, siklus karbon biomasa itu adalah nol, kenapa? karna 
> proses pembakaran yang menghasilkan karbon ke atmosfir dengan proses 
> penyerapan kembali karbon oleh tanaman yang baru tumbuh/ditanam sangat cepat, 
> bisa dalam hitungan dibawah 7tahun. Sehingga tidak dignifikan jika 
> dibandingkan dengan siklus CO2 (100 tahunan)
>       2. Hal yang ironis di negara-negara berkembang, khususnya Indonesia 
> yakni tanaman yang kita bakar/terbakar tidak kemudian diganti dengan 
> penanaman tanaman baru (reboisasi) atau kalau tidak mau dikatakan seperti 
> itu, proses reboisasinya sangat lambat dibandingkan dengan kebakaran hutan 
> yang terjadi. Sehingga siklus karbon menjadi tidak seimbang alias tidak 
> menjadi nol. Ini kemudian yang memacu negara-negara maju memasukkan karbon 
> hasil kebakaran hutan di Indonesia menjadi salah satu pemasok gas rumah
> kaca.Demikian opini saya sebagai orang yang awam di bidang pertanian :) saya 
> kira Pak Kun malah lebih jago. Oh iya mau nanya Pak kapan ya UPN buka 
> pendaftaran, adek saya tertarik untuk masuk di pertanian UPN. Matur nuwun
>
> Salam, 
>
>
>Ery Wijaya
>http://erywijaya. wordpress. com/
>
>
>
>
>
>
>
________________________________
From: muhamad kundarto <mask...@yahoo. com>
>To: ilmu tanah <ilmuta...@yahoogrou ps.com>; milist dosen UPN <dosen_upnjogja@ 
>yahoogroups. com>; alumni faperta <lintas_alumni_ fape...@yahoogro ups.com>; 
>kendal online <kendal-online@ yahoogroups. com>; milist alumni 
><up...@yahoogroups. com>
>Sent: Wed, 21 April, 2010 23:10:18
>Subject: [kendal-online] Misteri PEMANASAN GLOBAL
>
>  >
>
> 
>>      
> 
>Sepuluh tahun lalu, ada isue sawah sebagai penipis ozon karena dianggap 
>penyumbang gas metan. Ternyata anggapan ini hanyalah isue memojokkan terhadap 
>keberadaan padi, karena bangsa asia sudah terbiasa makanan pokoknya padi. 
>Ceritanya biar si Gandum merajai wilayah asia, khususnya dengan masuknya 
>makanan roti dan mie instan.
>Kemudian beberapa bangsa di asia membuat penelitian tandingan, yang intinya 
>sawah punya multifungsi, bukan sekedar penghasil beras belaka. Malah gerakan 
>ini terespon sampai pencanangan ketahanan pangan dengan cara membuat kawasan 
>sawah lestari.
>
>
>Nah, beberapa tahun terakhir ini kita disibukkan dengan isu pemanasan global. 
>Argumennya 100 tahun terakhir terjadi pencemaran luar biasa, sehingga suhu 
>meningkat, es mencair, permukaan laut naik, terjadi perubahan iklim, dll, 
>sehingga seluruh dunia
> diharapkan dapat
> melakukan mitigasi dan adaptasi secara global.
>Terhadap isue ini, ada 2 misteri yang menarik untuk disimak.
>
>
>Pertama, negara-negara barat seakan kompak, tentu dengan argumen hasil riset, 
>bahwa pertanian (sawah), kehutanan (pembakaran hutan) dan peternakan (kotoran 
>ternak) dianggap menjadi sumber pencemar super tinggi bagi penipisan ozon, 
>bahkan melebihi pencemaran industri negara-negara barat. Ada kesan, 
>negara-negara berkembanglah yang jadi faktor utama penyebab pemanasan global.
>
>
>Kedua, benarkah pemanasan global ini hanya karena faktor pencemaran. Isu 
>ramalan bangsa maya yang hitungan tahunnya berakhir 2012 jadi heboh setelah 
>difilmkan. Namun data yang lebih akurat dari BMKG yang menginformasikan 2012 
>dan sekitarnya (maju-mundur) akan terjadi ledakan-ledakan di permukaan 
>matahari. Ini peristiwa biasa dari matahari, secara periodik. Tapi dampaknya 
>dapat berimbas sampai bumi. Dampak ini selain
> gelombang elektromagnetik, bisa juga turut meningkatkan suhu bumi secara 
> drastis. 
>
>
>Terhadap misteri yang pertama, kita kan tahu bahwa sejak jaman nenek moyang 
>dahulu aktifitas pertanian-peternaka n-kehutanan sudah dilakukan. Kok 
>tiba-tiba diklaim sebagai penyebab utama pencemaran lingkungan?
>Misteri kedua, mungkin memang pencemaran akan menaikan suhu, tapi tidak 
>sedrastis pada kisaran 2012 ini. Jadi bisa saja karena faktor alamiah.
>
>
>Mohon yang punya data lebih akurat untuk disharing.
>Untuk menjadi pencerahan kita semua.....
>
>
>nuwun
>
>
>m Kun 
>
> 

 


      

Kirim email ke