Ikut nimbrung ah.....
Perkembangan politik adalah sangat cair sehingga butuh improvisasi dan manuver 
yang cerdas. Tidak dipungkiri apapun parpolnya tentunya mempunyai tujuan untuk 
meraih kekuasaan dan mendapat dukungan sebanyak-banyaknya. Yang sebenarnya 
perlu dilakukan sekarang ini adalah pembatasan parpol sehingga tidak terlalu 
banyak uang negara yg terserap untuk kegiatan parpol. Terkait komentar Pak Kun 
tentang blunder atau tidak saya menganalisisas sebagai berikut:
 
1. Sebelum munas PKS, banyak kalangan dari eksternal dan bahkan internal 
parpolpun merasa tidak sreg jika munas diadakan di Ritz carlton karena simbol 
amerika dan katanya mahal. Namun ternyata gejolak bisa diredam karena kekuatan 
PKS terletak pada ketaatan pada pemimpin sehingga setelah dijelaskan tidak ada 
perdebatan yg panjang. Selain harga yg murah krn habis di bom, bisa menampung 
4000 org dan juga untuk menunjukkan kepada masyarakat dunia bahwa PKS layak 
diperhitungkan (terbukti berbagai media asing byk yg memberitakan).
2. PKS telah melakukan demokrasi secara murah. Disinyalir harga hotel tersebut 
adalah 10 Milyar. Dengan kader yg terbiasa iuran jika di DKI saja ada 100ribu 
kader dikali 100ribu maka sdh terkumpul 5 milyar (analisis dr kompas). 
Pemilihan Ketua PKS tidak perlu huru hara seperti partai lain. Bayangkan dengan 
partai lain jika ingin jadi ketua umum harus membayar DPD sebanyak 300 DPD 
dikali per DPD 100 juta maka uang yg hrs dikumpulkan 30Milyar. Belum nyewa 
gedungnya. Bandingkan saja????
3. Menurut saya keterbukaan PKS berbeda apa yang dilakukan PAN. Waktu itu 
kekuatan PAN hanya terletak pada figur Amien Rais sehingga tidak bisa 
berkembang. Lain halnya kekuatan PKS terletak pada kaderisasi anggota yang 
cukup kuat yang terus dibina tiap minggu, bulan dan tidak ada putusnya. Dari 
survey pemilih PKS adalh 60% kader sehingga untuk berpindah kelain hati 
sepertinya susah. Saya yakin PKS punya mekanisme sendiri dalam era keterbukaan 
ini yang mengatur keanggotaan muslim maupun non muslim. Bukannya islam 
mengajarkan bahwa non muslim juga harus dirangkul jika mereka kooperatif, tidak 
memerangi islam dan mau membayar zakat. Politik islam nasionalis menurut 
perkembangan politik indonesia sampai sekarang tidak dapat membawa partai islam 
untuk menang, sehingga perlu strategi untuk mencairkan dikotomi tersebut.
4. Yang terkait parameter blunder atau tidak saya pikir 2014 kita semua bisa 
melihat. PKS bisa saja ditinggalkan jika anggota legislatif dan pemerintah dari 
PKS tidak bekerja secara profesional. PKS bisa ditinggalkan jika mereka tidak 
membela lagi kepentingan rakyat.
 
Kurang lebihnya mohon maaf jika analisisnya salah...
Salam,
ANton - Sukorejo
 


--- On Sat, 6/19/10, muhamad kundarto <[email protected]> wrote:


From: muhamad kundarto <[email protected]>
Subject: [kendal-online] PKS blunder?
To: "milist alumni" <[email protected]>, "kendal online" 
<[email protected]>
Date: Saturday, June 19, 2010, 12:05 AM


  








Beberapa hari yang lalu muncul gerakan masif untuk anti facebook, karena 
perangkat ini dianggap sebagai hasil karya orang yahudi dan diyakini sebagian 
penghasilannya disetorkan ke Israel, yang notabene sedang disorot dunia karena 
menyerang Kapal Mavi (berisi relawan kemanusiaan) . Gerakan itu mendorong agar 
orang-orang menutup akun FB dan pindah ke FB lain yang namanya berbeda dan 
jelas pembuatnya berbeda. Entah kalo isinya mirip atau kagak.... :)
 
Fenomena di atas ini banyak yang meng-amini, tapi banyak pula yang tidak 
ikut-ikutan. Gerakan itu mirip dengan "gerakan anti produk amerika" manakala 
ada kebijakan negara USA yang dianggap kontroversi.
 
Jika melongok ke gerakan Partai, saya menilai PKS merupakan partai yang 
mengandalkan gerakan eklusif dari dukungan golongan tertentu. Basis massanya 
pun mengakar sampai mahasiswa. Namun sangat kaget ketika ada agenda pertemuan 
PKS yang "lain dari biasanya". Satu, pertemuan dilaksanakan di hotel milik luar 
negeri. Sampai ada foto unik di dalam ruang buang air untuk pria ditambahkan 
ember-ember. Dua, PKS membuka diri untuk pengurus dan keanggotaan non muslim, 
padahal partai ini sebelumnya identik dengan partai islam; sekarang jadi partai 
Nasionalis-Religius . Yang saya tanggapi nomor dua saja, karena yang paling 
krusial.
 
Saya jadi ingat gerakan partai PAN, dimana saat awal berdirinya sangat 
bergantung pada massa muhammadiyah dan ketokohan Amien Rais. Namun dengan 
gerakan PAN sebagai partai nasionalis religius, dimana beberapa tokoh teras PAN 
adalah non muslim, maka sebagian anggotanya merasa tidak nyaman dan tidak puas. 
Kemudian waktu itu munculah PKS, yang diyakini mampu menyedot sebagian besar 
massa PAN. Analisis perolehan pemilu cenderung hasil total partai-partai islam 
jumlahnya relatif sama, walaupun jumlah partainya berbeda. Mungkin inilah salah 
satu alasan PKS, agar bisa memenangkan pemilu, membuat terobosan baru dengan 
membuka diri untuk golongan lain. Tentu saja manuver ini akan berhadapan dengan 
Partai Demokrat, PDIP, dan Golkar yang sejak doeloe bernafas Nasionalis.
 
Tulisan ini sekedar pendahuluan yang menarik untuk didiskusikan, karena boleh 
jadi kita termasuk massa fanatik salah satu partai di atas. Namun agar 
diskusinya fokus, hanya satu pertanyaan yang perlu dijawab, Apakah manuver PKS 
dari partai religius ke nasionalis-religius ini merupakan langkah maju ataukah 
malah blunder?
Dilihat dari karakter dasar kaum fanatis yang tidak mau campur dengan kaum lain 
di luar golongannya, menurut saya, langkah ini malah menuju ke jalan blunder 
(baca: gerakan mundur).
Silahkan bagaimana pendapat anda....... yuk diskusi..... ...
 
 
catt :
mohon koreksi jika ada kutipan fakta di atas yang kurang pas 








      

Kirim email ke