Pak Kun, terima kasih yang sebesar-besarnya atas perkenannya untuk menulis
tanggapan yang jitu ;)
Mohon izin saya sampaikan kembali ke milis ikatan guru indonesia, siapa tahu
Pak Kun dan milisser KOL tertarik untuk membaca-baca beberapa pendapat kami.

Matur nuwun sanget.

Salam

PakPur
(pernah jadi guru)
(skrg : simpatisan dunia pendidikan)

Pada 1 Juli 2010 07:45, muhamad kundarto <[email protected]> menulis:

>
>
> Tanggapan saya tulis warna biru, langsung dibawahnya ya Pak. biar mudah
> membedakan
>
>
> --- On *Wed, 6/30/10, PakPur <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: PakPur <[email protected]>
> Subject: Re: [kendal-online] Masalah MENTAL pada lulusan terkini
> To: [email protected]
> Date: Wednesday, June 30, 2010, 11:23 PM
>
>
> Pak Kun dan milisser KOL yang berbahagia
>
> Menyambung diskusi yang ditawarkan Pak Kun dari analisa beliau atas "mutu
> lulusan" sekarang, dan kemudian saya posting di milis IGI (Ikatan Guru
> Indonesia), ada tanggapan seperti di bawah.
>
> *Salam kenal Pak Pur,
>
> Saya tergelitik untuk menanggapi kiriman email bapak:*
> *
>
> *"Entah ada kesepakatan darimana, ataukah karena tuntutan persyarakat
> akreditasi, maka waktu tempuh para sarjana dalam sepuluh tahun terakhir ini
> relatif cepat, rata-rata 4-5 tahun. Bahkan ada yang lebih cepat dari itu.
> Sementara itu lulusan jaman sebelumnya sekitar 6-7 tahun"
> *
> *
> *Saya jadi bertanya2. Sebenarnya yg penting kuantitas atau kualitas ya
> Pak? Kalau lama belajar di perpanjang apakah akan menjamin bahwa lulusan
> akan lebih baik? Kalau lama tapi materi yg diberikan tdk menjawab tantangan
> pendidikan di lapangan yg ada sekarang, saya pikir hasilnya akan sama saja.
> Saya tdk pernah mengikuti perkuliahan di ikip jadi saya kurang tahu
> bagaimana perkuliahan berjalan. Yg saya ingat waktu saya kuliah dosen saya
> kebanyakann hanya 'lecturing'. Komunikasinya satu arah. Kalau di bidang
> pendidikan hal yg sama dilakukan, saya pikir itu akan sgt berpengaruh
> terhadap lulusannya. Walaupun misalnya saat itu dosen memberi kuliah ttg
> pembelajaran aktif tp kalau mahasiswa hanya diceramahi tanpa dosen memberi
> contoh bagaimana caranya dan mahasiswa juga tdk mencoba mempraktekannya,
> saya pikir hasilnya tdk akan maksimal. Sama seperti dikuliahi bagaimana cara
> berenang tp siswa tdk dilatih utk masuk air dan berenang. Saat diuji siswa
> yg kuat hafalannya akan dg mudah menjelaskan cara berenang. tp pada saat dia
> hrs terjun ke air ia akan panik krn tdk bisa berenang.
> *
> **
> Tanggapan :
> 1. Lama belajar, secara tidak langsung, berkaitan dengan waktu extra untuk
> mahasiswa menempa diri dalam kegiatan non akademik. Pendidikan saat ini
> terkesan sangat berjejal, bahkan liburan ada semester pendek, sehingga waktu
> mereka untuk magang, softskill, olahraga, seni dan organisasi sering tidak
> ada lagi.Uraian saya bukan berarti "kuliah makin lama makin baik" tapi
> diartikan "kuliah dan penempaan diri dapat berimbang dalam waktu yang
> cukup".
> 2. Kuliah sekarang juga cenderung sangat minim praktek, sehingga makin jauh
> dari "standard skill" yang diinginkan user. Makanya mahasiswa yang sempat
> magang dan ikut ngabdi dalam proyek dosen (baca: intinya belajar melayani
> dengan bekerja sebaik2nya) akan cenderung lebih siap memasuki dunia kerja,
> karena dia lebih dulu sudah "belajar bekerja".
>
>  *
>
> *"Berikutnya, ada kecenderungan pemberian nilai dari dosen semakin murah.
> Jarang sekali ditemukan dosen memberikan nilai D dan E, yang dulu sudah
> biasa diterima oleh para mahasiswa"
> *
> *
> *Kalau banyak mahasiswa dapat nilai D atau E, yang bermasalah mahasiswanya
> atau dosennya? Assessment itu kan mengukur apakah siswa sudah mengerti atau
> belum. Kalau byk yang tdk mengerti berarti ada masalah dg metode
> penyampaiannya shg hrs diperbaiki. Setahu saya assessment adalah ajang
> guru/dosen utk berefleksi mengenai materi yg diajarnya, bukan ajang utk
> 'menjatuhkan' siswa.***
> **
> **
>  Tanggapan :
> Tidak sesederhana itu, ini bukan mengupas Dosen yg perlu killer. Tapi ada
> kecenderungan memberi nilai terlalu murah. Dulu, waktu banyak dosen terbang
> atau dosen dari perguruan tinggi lain (biasanya dari PTN ternama), penilaian
> cenderung lebih obyektif karena dosen tersebut tanpa beban. Walau memang ada
> dosen killer spesialis E dan D, sehingga nilai C sudah berkah. Tetapi
> sekarang sejak banyak dosen diampu oleh staf PT sendiri, ada rasa iba yang
> malah jadi kurang profesional, misalnya "kasihan dia kalo diberi nilai
> jelek, nanti bisa repot pas nyari kerja". Ada benarnya, karena saringan
> seleksi IPK > 2,75 adalah mutlak. Tapi harusnya "rasa kasihan" itu juga
> dilengkapi dengan "kasihan kalo mereka keburu lulus tanpa ada pengalaman dan
> skill yang memadai". Artinya kurikulum harus menampung itu.
> Banyak lho, para lulusan baru ternyata tidak bisa membuat surat lamaran
> kerja, KO di wawancara, dan tidak bisa presentasi. Nah Lho?!!
>
> "Tak jarang para sarjana baru ini sering bertanya ke HRD yang mewawancarai
> mereka, "di sana ada sinyal hand phone, gak?". Sungguh pertanyaan yang
> mengarah ketidaksiapan dalam suasana lingkungan yang jauh dari keramaian."
> *
> *
> *Guru memang profesi yg dianggap mulia dan kadang juga merupakan
> 'panggilan jiwa'. Tapi kita juga harus ingat bahwa manusia adalah makhluk
> sosial yang butuh orang lain dan butuh juga kenyamanan. Kalau dia harus
> ditugaskan di daerah yang baru apalagi terpencil, pastinya dia akan kangen
> rumah. Hp merupakan sarana yg bisa menghubungkan dia yg berada di drh baru
> yg serba asing (bisa secara bahasa, budaya, dll) dg rumah (tempat/org2 yang
> merupakan daerah nyaman baginya). Setiap orang perlu adaptasi. Dan adaptasi
> akan lbh mudah dilalui jika ada dukungan dari keluarga/teman/ pacar/org yg
> dekat walaupun mereka berada nun jauh di sana.
> *
> **
> **
>
>  Tanggapan :
> Ini bukan soal mereka sebagai makhluk sosial, namun tuntutan pekerjaan di
> lokasi terpencil menuntut kesiapan mental yang luar biasa tahan banting.
> Misalnya di tengah perkebunan sawit yang luasnya ribuan hektar dan jauh dari
> kota, atau lokasi pertambangan yang berada di bawah tanah atau jauh dari
> keramaian kota.
> Banyak bukti sarjana sekarang tidak siap untuk 'menderita' karena tuntutan
> pekerjaan. Mereka lebih memilih kerja di kota. Kenapa? karena tanpa sadar
> tubuhnya sudah termanjakan oleh fasilitas teknologi yang banyak diperkotaan.
>
> "Yah, fasilitas teknologi seperti hand phone, laptop, internet (facebook,
> email, dll), dugem (dunia gemerlap : mall, diskotik, cafe, dll), TV, dan
> motor; yang didukung oleh suasana kota yang serba ada untuk memenuhi
> kebutuhan hidup"
> *
> *
> *Menurut saya guru juga harus bisa mengikuti perkembangan zaman. Anak2 di
> Indonesia kan tdk semua nya berasal dr daerah terpencil. Anak kotanya juga
> byk. Anak2 ini sgt akrab dg fasilitas di atas. Kl gurunya tdk tahu apa2 bisa
> dianggap kuno dan ketinggalan jaman. Jika guru sudah tdk 'dianggap', siswa
> akan cenderung menarik diri atau bahkan meremehkan gurunya. Saat mengajar
> bukankah kita juga hrs bisa mengerti dan bicara dg 'bahasa' murid juga. How
> can we teach students if we cannot reach them?
> Di samping itu guru juga jd lbh mudah membimbing mengenai baik buruknya
> segala fasilitas itu kl cukup mengenalnya. (Terus terang saya skg 'terpaksa
> berkenalan' dg Jason Beiber krn kebanyakan murid saya kena demam Beiber.
> Paling tdk sy cek juga lirik lagunya pantes ga ya utk anak2 seusia ini?
> Video klip nya parah ga? Asiknya jd nyambung kalau sedang ngobrol sama
> anak.)*
> ****
>
> Tanggapan :
> Ini tidak terkait dengan perilaku guru/dosen. Kupasan saya terkait hubungan
> antara kebiasaan saat kuliah dengan lingkungan baru di dunia kerja.
> Benar, guru harus menyelami gaulnya si murid.
> Tapi sangat menarik mencermati betapa kendaraan (motor. mobil) dan hand
> phone dari si murid kebanyakan lebih mewah dari para gurunya hehehehe.
> Kenapa, karena guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
> disebut pahlawan biar bangga dan gak nuntut kompensasi jasa hehehhehehe
> (guyonan di kalangan pendidik)
>
> Horma saya
>
> Muhamad Kundarto
> [email protected]
> http://mkundarto.wordpress.com
>
>
>
>
>
>  
>

Kirim email ke