Pak Kun dan milisser KOL yang berbahagia Menyambung diskusi yang ditawarkan Pak Kun dari analisa beliau atas "mutu lulusan" sekarang, dan kemudian saya posting di milis IGI (Ikatan Guru Indonesia), ada tanggapan seperti di bawah.
* Salam kenal Pak Pur, Saya tergelitik untuk menanggapi kiriman email bapak:* * *"Entah ada kesepakatan darimana, ataukah karena tuntutan persyarakat akreditasi, maka waktu tempuh para sarjana dalam sepuluh tahun terakhir ini relatif cepat, rata-rata 4-5 tahun. Bahkan ada yang lebih cepat dari itu. Sementara itu lulusan jaman sebelumnya sekitar 6-7 tahun" * * *Saya jadi bertanya2. Sebenarnya yg penting kuantitas atau kualitas ya Pak? Kalau lama belajar di perpanjang apakah akan menjamin bahwa lulusan akan lebih baik? Kalau lama tapi materi yg diberikan tdk menjawab tantangan pendidikan di lapangan yg ada sekarang, saya pikir hasilnya akan sama saja. Saya tdk pernah mengikuti perkuliahan di ikip jadi saya kurang tahu bagaimana perkuliahan berjalan. Yg saya ingat waktu saya kuliah dosen saya kebanyakann hanya 'lecturing'. Komunikasinya satu arah. Kalau di bidang pendidikan hal yg sama dilakukan, saya pikir itu akan sgt berpengaruh terhadap lulusannya. Walaupun misalnya saat itu dosen memberi kuliah ttg pembelajaran aktif tp kalau mahasiswa hanya diceramahi tanpa dosen memberi contoh bagaimana caranya dan mahasiswa juga tdk mencoba mempraktekannya, saya pikir hasilnya tdk akan maksimal. Sama seperti dikuliahi bagaimana cara berenang tp siswa tdk dilatih utk masuk air dan berenang. Saat diuji siswa yg kuat hafalannya akan dg mudah menjelaskan cara berenang. tp pada saat dia hrs terjun ke air ia akan panik krn tdk bisa berenang. * * *"Berikutnya, ada kecenderungan pemberian nilai dari dosen semakin murah. Jarang sekali ditemukan dosen memberikan nilai D dan E, yang dulu sudah biasa diterima oleh para mahasiswa" * * *Kalau banyak mahasiswa dapat nilai D atau E, yang bermasalah mahasiswanya atau dosennya? Assessment itu kan mengukur apakah siswa sudah mengerti atau belum. Kalau byk yang tdk mengerti berarti ada masalah dg metode penyampaiannya shg hrs diperbaiki. Setahu saya assessment adalah ajang guru/dosen utk berefleksi mengenai materi yg diajarnya, bukan ajang utk 'menjatuhkan' siswa.* * *"Tak jarang para sarjana baru ini sering bertanya ke HRD yang mewawancarai mereka, "di sana ada sinyal hand phone, gak?". Sungguh pertanyaan yang mengarah ketidaksiapan dalam suasana lingkungan yang jauh dari keramaian." * * *Guru memang profesi yg dianggap mulia dan kadang juga merupakan 'panggilan jiwa'. Tapi kita juga harus ingat bahwa manusia adalah makhluk sosial yang butuh orang lain dan butuh juga kenyamanan. Kalau dia harus ditugaskan di daerah yang baru apalagi terpencil, pastinya dia akan kangen rumah. Hp merupakan sarana yg bisa menghubungkan dia yg berada di drh baru yg serba asing (bisa secara bahasa, budaya, dll) dg rumah (tempat/org2 yang merupakan daerah nyaman baginya). Setiap orang perlu adaptasi. Dan adaptasi akan lbh mudah dilalui jika ada dukungan dari keluarga/teman/pacar/org yg dekat walaupun mereka berada nun jauh di sana. * * *"Yah, fasilitas teknologi seperti hand phone, laptop, internet (facebook, email, dll), dugem (dunia gemerlap : mall, diskotik, cafe, dll), TV, dan motor; yang didukung oleh suasana kota yang serba ada untuk memenuhi kebutuhan hidup" * * *Menurut saya guru juga harus bisa mengikuti perkembangan zaman. Anak2 di Indonesia kan tdk semua nya berasal dr daerah terpencil. Anak kotanya juga byk. Anak2 ini sgt akrab dg fasilitas di atas. Kl gurunya tdk tahu apa2 bisa dianggap kuno dan ketinggalan jaman. Jika guru sudah tdk 'dianggap', siswa akan cenderung menarik diri atau bahkan meremehkan gurunya. Saat mengajar bukankah kita juga hrs bisa mengerti dan bicara dg 'bahasa' murid juga. How can we teach students if we cannot reach them? Di samping itu guru juga jd lbh mudah membimbing mengenai baik buruknya segala fasilitas itu kl cukup mengenalnya. (Terus terang saya skg 'terpaksa berkenalan' dg Jason Beiber krn kebanyakan murid saya kena demam Beiber. Paling tdk sy cek juga lirik lagunya pantes ga ya utk anak2 seusia ini? Video klip nya parah ga? Asiknya jd nyambung kalau sedang ngobrol sama anak.) Ini pendapat saya ya Pak Pur. Maaf kalau ada yg kurang berkenan. Salam Eka* Beliau ini pastilah seorang guru yang cukup beruntung, (sepertinya) kuliah bagus dan mengajar bagus pula. Monggo silakan diperpanjang diskusinya. Mohon maaf kagem Pak Kun, beliau salah sebut email dari saya, padahal pada postingan awal, saya sudah sampaikan kalau postingan tsb adalah hasil analisa Pak Kun, yang saya ambil dari milis ini. Salam PakPur

