Tanggapan saya tulis warna biru, langsung dibawahnya ya Pak. biar mudah 
membedakan 

--- On Wed, 6/30/10, PakPur <[email protected]> wrote:


From: PakPur <[email protected]>
Subject: Re: [kendal-online] Masalah MENTAL pada lulusan terkini
To: [email protected]
Date: Wednesday, June 30, 2010, 11:23 PM


  


Pak Kun dan milisser KOL yang berbahagia

Menyambung diskusi yang ditawarkan Pak Kun dari analisa beliau atas "mutu 
lulusan" sekarang, dan kemudian saya posting di milis IGI (Ikatan Guru 
Indonesia), ada tanggapan seperti di bawah.


Salam kenal Pak Pur,

Saya tergelitik untuk menanggapi kiriman email bapak:


"Entah ada kesepakatan darimana, ataukah karena tuntutan persyarakat 
akreditasi, maka waktu tempuh para sarjana dalam sepuluh tahun terakhir ini 
relatif cepat, rata-rata 4-5 tahun. Bahkan ada yang lebih cepat dari itu. 
Sementara itu lulusan jaman sebelumnya sekitar 6-7 tahun"


Saya jadi bertanya2. Sebenarnya yg penting kuantitas atau kualitas ya Pak? 
Kalau lama belajar di perpanjang apakah akan menjamin bahwa lulusan akan lebih 
baik? Kalau lama tapi materi yg diberikan tdk menjawab tantangan pendidikan di 
lapangan yg ada sekarang, saya pikir hasilnya akan sama saja. Saya tdk pernah 
mengikuti perkuliahan di ikip jadi saya kurang tahu bagaimana perkuliahan 
berjalan. Yg saya ingat waktu saya kuliah dosen saya kebanyakann hanya 
'lecturing'. Komunikasinya satu arah. Kalau di bidang pendidikan hal yg sama 
dilakukan, saya pikir itu akan sgt berpengaruh terhadap lulusannya. Walaupun 
misalnya saat itu dosen memberi kuliah ttg pembelajaran aktif tp kalau 
mahasiswa hanya diceramahi tanpa dosen memberi contoh bagaimana caranya dan 
mahasiswa juga tdk mencoba mempraktekannya, saya pikir hasilnya tdk akan 
maksimal. Sama seperti dikuliahi bagaimana cara berenang tp siswa tdk dilatih 
utk masuk air dan berenang. Saat diuji siswa yg kuat
 hafalannya akan dg mudah menjelaskan cara berenang. tp pada saat dia hrs 
terjun ke air ia akan panik krn tdk bisa berenang. 

Tanggapan :
1. Lama belajar, secara tidak langsung, berkaitan dengan waktu extra untuk 
mahasiswa menempa diri dalam kegiatan non akademik. Pendidikan saat ini 
terkesan sangat berjejal, bahkan liburan ada semester pendek, sehingga waktu 
mereka untuk magang, softskill, olahraga, seni dan organisasi sering tidak ada 
lagi.Uraian saya bukan berarti "kuliah makin lama makin baik" tapi diartikan 
"kuliah dan penempaan diri dapat berimbang dalam waktu yang cukup".
2. Kuliah sekarang juga cenderung sangat minim praktek, sehingga makin jauh 
dari "standard skill" yang diinginkan user. Makanya mahasiswa yang sempat 
magang dan ikut ngabdi dalam proyek dosen (baca: intinya belajar melayani 
dengan bekerja sebaik2nya) akan cenderung lebih siap memasuki dunia kerja, 
karena dia lebih dulu sudah "belajar bekerja".
 



"Berikutnya, ada kecenderungan pemberian nilai dari dosen semakin murah. Jarang 
sekali ditemukan dosen memberikan nilai D dan E, yang dulu sudah biasa diterima 
oleh para mahasiswa"

Kalau banyak mahasiswa dapat nilai D atau E, yang bermasalah mahasiswanya atau 
dosennya? Assessment itu kan mengukur apakah siswa sudah mengerti atau belum. 
Kalau byk yang tdk mengerti berarti ada masalah dg metode penyampaiannya shg 
hrs diperbaiki. Setahu saya assessment adalah ajang guru/dosen utk berefleksi 
mengenai materi yg diajarnya, bukan ajang utk 'menjatuhkan' siswa.
 

Tanggapan :
Tidak sesederhana itu, ini bukan mengupas Dosen yg perlu killer. Tapi ada 
kecenderungan memberi nilai terlalu murah. Dulu, waktu banyak dosen terbang 
atau dosen dari perguruan tinggi lain (biasanya dari PTN ternama), penilaian 
cenderung lebih obyektif karena dosen tersebut tanpa beban. Walau memang ada 
dosen killer spesialis E dan D, sehingga nilai C sudah berkah. Tetapi sekarang 
sejak banyak dosen diampu oleh staf PT sendiri, ada rasa iba yang malah jadi 
kurang profesional, misalnya "kasihan dia kalo diberi nilai jelek, nanti bisa 
repot pas nyari kerja". Ada benarnya, karena saringan seleksi IPK > 2,75 adalah 
mutlak. Tapi harusnya "rasa kasihan" itu juga dilengkapi dengan "kasihan kalo 
mereka keburu lulus tanpa ada pengalaman dan skill yang memadai". Artinya 
kurikulum harus menampung itu.
Banyak lho, para lulusan baru ternyata tidak bisa membuat surat lamaran kerja, 
KO di wawancara, dan tidak bisa presentasi. Nah Lho?!!

"Tak jarang para sarjana baru ini sering bertanya ke HRD yang mewawancarai 
mereka, "di sana ada sinyal hand phone, gak?". Sungguh pertanyaan yang mengarah 
ketidaksiapan dalam suasana lingkungan yang jauh dari keramaian." 


Guru memang profesi yg dianggap mulia dan kadang juga merupakan 'panggilan 
jiwa'. Tapi kita juga harus ingat bahwa manusia adalah makhluk sosial yang 
butuh orang lain dan butuh juga kenyamanan. Kalau dia harus ditugaskan di 
daerah yang baru apalagi terpencil, pastinya dia akan kangen rumah. Hp 
merupakan sarana yg bisa menghubungkan dia yg berada di drh baru yg serba asing 
(bisa secara bahasa, budaya, dll) dg rumah (tempat/org2 yang merupakan daerah 
nyaman baginya). Setiap orang perlu adaptasi. Dan adaptasi akan lbh mudah 
dilalui jika ada dukungan dari keluarga/teman/ pacar/org yg dekat walaupun 
mereka berada nun jauh di sana. 


Tanggapan : 
Ini bukan soal mereka sebagai makhluk sosial, namun tuntutan pekerjaan di 
lokasi terpencil menuntut kesiapan mental yang luar biasa tahan banting. 
Misalnya di tengah perkebunan sawit yang luasnya ribuan hektar dan jauh dari 
kota, atau lokasi pertambangan yang berada di bawah tanah atau jauh dari 
keramaian kota.
Banyak bukti sarjana sekarang tidak siap untuk 'menderita' karena tuntutan 
pekerjaan. Mereka lebih memilih kerja di kota. Kenapa? karena tanpa sadar 
tubuhnya sudah termanjakan oleh fasilitas teknologi yang banyak diperkotaan.

"Yah, fasilitas teknologi seperti hand phone, laptop, internet (facebook, 
email, dll), dugem (dunia gemerlap : mall, diskotik, cafe, dll), TV, dan motor; 
yang didukung oleh suasana kota yang serba ada untuk memenuhi kebutuhan hidup"


Menurut saya guru juga harus bisa mengikuti perkembangan zaman. Anak2 di 
Indonesia kan tdk semua nya berasal dr daerah terpencil. Anak kotanya juga byk. 
Anak2 ini sgt akrab dg fasilitas di atas. Kl gurunya tdk tahu apa2 bisa 
dianggap kuno dan ketinggalan jaman. Jika guru sudah tdk 'dianggap', siswa akan 
cenderung menarik diri atau bahkan meremehkan gurunya. Saat mengajar bukankah 
kita juga hrs bisa mengerti dan bicara dg 'bahasa' murid juga. How can we teach 
students if we cannot reach them?
Di samping itu guru juga jd lbh mudah membimbing mengenai baik buruknya segala 
fasilitas itu kl cukup mengenalnya. (Terus terang saya skg 'terpaksa 
berkenalan' dg Jason Beiber krn kebanyakan murid saya kena demam Beiber. Paling 
tdk sy cek juga lirik lagunya pantes ga ya utk anak2 seusia ini? Video klip nya 
parah ga? Asiknya jd nyambung kalau sedang ngobrol sama anak.)

Tanggapan : 
Ini tidak terkait dengan perilaku guru/dosen. Kupasan saya terkait hubungan 
antara kebiasaan saat kuliah dengan lingkungan baru di dunia kerja.
Benar, guru harus menyelami gaulnya si murid.
Tapi sangat menarik mencermati betapa kendaraan (motor. mobil) dan hand phone 
dari si murid kebanyakan lebih mewah dari para gurunya hehehehe.
Kenapa, karena guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
disebut pahlawan biar bangga dan gak nuntut kompensasi jasa hehehhehehe
(guyonan di kalangan pendidik)
 
Horma saya
 
Muhamad Kundarto
[email protected]
http://mkundarto.wordpress.com


 


      

Kirim email ke