Bahasa Sunda di Ujung Tanduk  Ditulis oleh Arief Sujatmoko pada
2011-07-13 14:11:48
 Remaja di kota besar di Jawa Barat mulai meninggalkan bahasa Sunda sebagai
bahasa sehari-hari. Hal ini dikarenakan kurikulum bahasa Sunda yang
diajarkan di sekolah menekankan pada metode hafalan. Pernyataan tersebut
diungkapkan oleh Rektor Universitas Padjadjaran Ganjar Kurnia dalam Kongres
Basa Sunda IX di Bogor, selasa (12/7).

Kurikulum bahasa Sunda di sekolah-sekolah sekarang terkesan memberatkan
siswa karena metode hafalan yang digunakan tidak membuat siswa
menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari. Selain itu, masuknya budaya
luar juga menjadi salah satu faktor berkurangnya minat remaja untuk
menggunakan bahasa daerah.

Ganjar menambahkan, dalam ranah sastra Sunda, dia tidak melihat adanya
wajah-wajah baru. "Hadiah sastra diisi oleh wajah yang sama, belum ada
regenerasi," ungkapnya. Selain itu, aksara Sunda yang juga sudah
ditinggalkan.

Menurut Ganjar, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk melestarikan
bahasa daerah tersebut, di antaranya adalah mengubah metode pengajaran
bahasa Sunda.

Sekarang, hanya pesantren yang mewajibkan anak muridnya berbahasa sunda
dalam kegiatan sehari-hari. Ganjar mengatakan bahwa pesantren adalah benteng
terakhir dalam pelestarian bahasa Sunda.

http://nationalgeographic.co.id/lihat/berita/1527/bahasa-sunda-di-ujung-tanduk

Kirim email ke