Jigana mah paketrok curuk, lain "kamayalon" tapi "kamalayon", alias Basa
Sunda Rujak Bebek. Basa Sunda nu dicampur aduk jeung basa Malayu alias
Indonesia.

2011/7/15 oman abdurahman <[email protected]>

> **
>
>
> Nuhun, seratan Kang Dadan S parantos diposting ka ieu milist. Aya hiji
> kecap anu kuring kerung ngamaknaanana, nepi ka ayeuna, nyaeta kecap
> "kamayalon" sakumaha dina padalisan kaopat samemeh akhir, dina eta seratan
> kang Dadan. Naon hartina "kamayalon"? atawa, eta kecap salah nulis, anu
> sakuduna mah "kamayalon" asal kecap tina "kamalayuan" anu hartina sareng
> jeung geus loba kaasupan Bahasa Melayu?.
>
>
> manar
>
>
>
>
> 2011/7/15 MRachmat Rawyani <[email protected]>
>
>> **
>>
>>
>> Tah, mun tulisan dihandap mah, rada pikahartieun. Runtut, sistimatis,
>> kronologis jeung aya "bau-bau" akademis.
>>
>> mrachmatrawyani
>>
>>
>> ------------------------------
>> *From:* Ki Hasan <[email protected]>
>> *To:* Ki Sunda <[email protected]>
>> *Cc:* Baraya Sunda <[email protected]>
>> *Sent:* Thu, July 14, 2011 3:20:49 PM
>>
>> *Subject:* [kisunda] Re: Kongres Bahasa Sunda IX
>>
>>
>>
>> Bahasa Sunda dari Kongres ke Kongres
>>
>> Kategori: Artikel 
>> Indonesia<http://galuh-purba.com/category/artikel-indonesia/>| Diterbitkan 
>> pada: 14-07-2011 |
>>
>> *Oleh DADAN SUTISNA*
>>
>>
>>
>> DI antara bahasa-bahasa ibu di Indonesia, bahasa Sunda paling sering
>> dikongreskan. Bahkan, intensitasnya akan menyamai Kongres Bahasa Indonesia,
>> karena sama-sama diselenggarakan sembilan kali. Bahasa lain yang kerap
>> mengadakan kongres adalah bahasa Jawa (lima kali) dan bahasa Bali (lima
>> kali).
>>
>>
>> Kongres Bahasa Sunda (KBS) diprakarsai oleh Lembaga Bahasa dan Sastra
>> Sunda (LBBS). Sebelum kemerdekaan, masyarakat pendukung bahasa Sunda juga
>> pernah menyelenggarakan kongres, yaitu tahun 1914, 1918, 1922, 1926, dan
>> 1929. Kemudian pada tahun 1952, inohong Sunda menyelenggarakan Konferensi
>> Bahasa Sunda di Bandung yang menjadi cikal bakal lahirnya LBSS. Jadi, jika
>> dihitung dengan masa sebelum kemerdekaan, bahasa Sunda telah 14 kali dibahas
>> dalam suatu kongres.
>>
>>
>> Penyelenggaraan KBS dilatari oleh permasalahan bahasa Sunda, yang kemudian
>> diperbincangkan untuk mencari titik temu dan kesepakatan. Hasil kongres
>> selanjutnya dituangkan dalam keputusan atau rekomendasi, agar dilaksanakan
>> oleh pihak-pihak pembuat kebijakan serta masyarakat pendukung bahasa Sunda.
>>
>>
>> Isu yang selalu mengemuka dari setiap penyelenggaraan KBS adalah upaya
>> menyesuaikan bahasa Sunda dengan perkembangan zaman. Agar bahasa Sunda 
>> *ngindung
>> ka waktu*, hasil Konferensi Bahasa Sunda tahun 1952 merekomendasikan
>> dibentuknya suatu badan untuk memelihara bahasa dan sastra Sunda. Kemudian
>> berdirilah LBSS. Salah satu kegiatan yang tertuang dalam anggaran dasar LBSS
>> adalah menyelenggarakan KBS.
>>
>> Sejak pendiriannya, LBSS telah delapan kali mengadakan KBS, dan tahun ini
>> yang kesembilan. KBS I sampai IV diadakan di Bandung, yaitu tahun 1954,
>> 1956, 1958, dan 1961. Dari empat kongres tersebut, rekomendasi yang paling
>> nyata adalah dibukanya Jurusan Sastra Sunda di Unpad dan UPI, penyusunan
>> pedoman ejaan bahasa Sunda dan penyusunan Kamus Umum Bahasa Sunda. Selain
>> itu, diterbitkan pula buku-buku yang berkaitan dengan bahasa dan sastra
>> Sunda.
>>
>>
>> Selama 27 tahun, sejak 1961, LBSS tidak mengadakan kongres. Atas dorongan
>> dari beberapa tokoh pemuda, antara lain Acil Bimbo dan Uu Rukmana, tahun
>> 1988 LBSS menyelenggarakan KBS V di Cipayung Bogor. Maman Sumantri, Ketua
>> LBSS pada periode 1984-1988, menyebutkan bahwa KBS V merupakan upaya untuk
>> merumuskan kembali bahasa Sunda dalam menyongsong abad XXI. Selanjutnya,
>> LBBS menyelenggarakan kembali KBS VII di Gedung Merdeka tahun 1993, KBS VII
>> di Garut tahun 2001, dan KBS VIII di Subang tahun 2005.
>>
>>
>>
>> *Rekomendasi dan Realisasi*
>>
>> Penyelenggaraan KBS bertujuan untuk menemukan solusi, kesepakatan,
>> kebijakan, dan strategi berkaitan dengan permasalahan bahasa, sastra, dan
>> aksara Sunda. Meski demikian, kongres-kongres sebelumnya kerapkali mendapat
>> sorotan tatkala dipandang sebagai acara rutin yang bersifat seremonial. Hal
>> ini lantaran beberapa rekomendasi kongres, belum juga dilaksanakan hingga
>> datang kongres berikutnya.
>>
>>
>> Kegiatan rutin pada setiap KBS pada dasarnya sama, yaitu membentuk
>> panitia, mengundang pemakalah, mempresentasikan makalah, dan kemudian
>> menyusun rekomendasi. LBSS sebagai lembaga yang memprakarsai
>> terselenggaranya KBS, kemudian mengadakan sosialisasi hasil kongres kepada
>> pihak-pihak yang memiliki kebijakan, agar dapat dirasakan oleh masyarakat.
>>
>>
>> Adanya KBS semestinya membawa iklim yang lebih baik agar bahasa Sunda
>> berkembang dan digunakan di tengah masyarakat Sunda. Betapa tidak, pada
>> setiap KBS, para ahli bahasa Sunda mengemukakan gagasan dan solusi, mencari
>> titik temu, merancang strategi, hingga tercapai kesepatan. Lembaran
>> rekomendasi yang tertuang dalam keputusan kongres, merupakan agenda untuk
>> mengembangkan bahasa Sunda di masa depan.
>>
>> Setiap bahasa ibu di Indonesia, memiliki permasalahan yang sama, yaitu
>> merasakan kemunduran, sulit mengimbangi perkembangan zaman, dan serangan
>> kosakata dari bahasa nasional dan asing. Masalah-masalah inilah yang
>> seringkali dibahas pada seminar, kongres, saresehan, atau perbincangan di
>> antara pemerhati bahasa. Kebijakan UNESCO tentang pencanangan Hari Bahasa
>> Ibu Internasional, mungkin memberi semangat untuk memperkuat eksistensi
>> bahasa ibu. Tetapi hal itu tidak serta-merta menjadikan bahasa Sunda lebih
>> berkembang.
>>
>>
>> Bahasa Sunda, sebagai bahasa ibu terbesar kedua di Indonesia, tentunya
>> memiliki kesempatan yang besar untuk tetap hidup di masyarakat. Sayangnya,
>> tak pernah ada data yang akurat tentang jumlah penutur bahasa Sunda. Tahun
>> 1992, Maman Sumanti dalam *Media Informasi* LBSS VI menyebutkan jumlah
>> penutur bahasa Sunda sebanyak 20 juta. *Summer Institute of Linguistics 
>> *mencatat
>> ada 27 juta pengguna bahasa Sunda pada tahun 2005. Tahun 2011 entah berapa.
>> Bahkan BPS Jawa Barat pun tidak mencatatnya. Pentingnya data penutur bahasa
>> Sunda, bukan hanya persoalan statistik, tetapi menjadi rujukan agar
>> kebijakan tentang bahasa Sunda tidak salah sasaran.
>>
>>
>> Isu lainnya tentang bahasa Sunda adalah masalah kemurnian bahasa. Sekitar
>> satu abad silam,  R.H. Muhamad Musa (1822-1886) menganggap bahasa Sunda
>> tidak murni lagi karena sudah berbaur dengan kata-kata dari bahasa Arab,
>> Jawa, dan Melayu. Demikian pula R. Satjadibrata, tahun 1950-an menyebutkan
>> struktur bahasa Sunda sudah simpang siur dan *kamayalon*. Bagaimana
>> dengan saat ini? Ya, tentu harus ada rujukan untuk masyarakat tentang bahasa
>> Sunda yang “baik dan benar”. Jika kata-kata dari bahasa lain dianggap tidak
>> tepat, tentu harus ada alternatif yang tertuang dalam kamus.
>>
>>
>> Satu-satunya sumber rujukan masyarakat tentang bahasa Sunda adalah kamus
>> yang sesuai dengan *pajamaman*. Untuk pangsa generasi muda, diperlukan
>> pula kamus yang lebih mendekati keseharian mereka, kamus praktis dan
>> terbenam dalam piranti teknologi.
>>
>>
>> Hal lain yang perlu dilakukan dalam pengembangan bahasa adalah merancang
>> komputansi linguistik untuk bahasa Sunda, seperti yang banyak digunakan pada
>> bahasa-bahasa asing. Teknologi semantik, sebagai suatu kemajuan dari ilmu
>> komputer, dapat digunakan untuk menganalisa bahasa Sunda.
>>
>>
>> Semoga hasil dari KBS IX di Bogor pada Juli 2011 mendatang, dapat
>> menghasilkan produk kamus yang tidak hanya bersifat
>> konvensional-tradisional, tetapi dapat memiliki aksesibilitas global agar
>> dapat digunakan oleh segenap masyarakat dengan mudah.***
>>
>>
>>
>> *Dimuat di Khazanah Pikiran Rakyat, 26 Juni 2011
>> *
>>
>>
>> **
>>
>> *http://galuh-purba.com/bahasa-sunda-dari-kongres-ke-kongres/*
>>
>

Kirim email ke