Tah, mun tulisan dihandap mah, rada pikahartieun. Runtut, sistimatis, 
kronologis 
jeung aya "bau-bau" akademis.

mrachmatrawyani





________________________________
From: Ki Hasan <[email protected]>
To: Ki Sunda <[email protected]>
Cc: Baraya Sunda <[email protected]>
Sent: Thu, July 14, 2011 3:20:49 PM
Subject: [kisunda] Re: Kongres Bahasa Sunda IX

  
Bahasa Sunda dari Kongres ke Kongres
Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 14-07-2011 | 
Oleh DADAN SUTISNA
 
DI  antara bahasa-bahasa ibu di Indonesia, bahasa Sunda paling sering  
dikongreskan. Bahkan, intensitasnya akan menyamai Kongres Bahasa  Indonesia, 
karena sama-sama diselenggarakan sembilan kali. Bahasa lain  yang kerap 
mengadakan kongres adalah bahasa Jawa (lima kali) dan bahasa  Bali (lima kali).

Kongres  Bahasa Sunda (KBS) diprakarsai oleh Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda  
(LBBS). Sebelum kemerdekaan, masyarakat pendukung bahasa Sunda juga  pernah 
menyelenggarakan kongres, yaitu tahun 1914, 1918, 1922, 1926, dan  1929. 
Kemudian pada tahun 1952, inohong Sunda menyelenggarakan  Konferensi Bahasa 
Sunda di Bandung yang menjadi cikal bakal lahirnya  LBSS. Jadi, jika dihitung 
dengan masa sebelum kemerdekaan, bahasa Sunda  telah 14 kali dibahas dalam 
suatu 
kongres.

Penyelenggaraan  KBS dilatari oleh permasalahan bahasa Sunda, yang kemudian  
diperbincangkan untuk mencari titik temu dan kesepakatan. Hasil kongres  
selanjutnya dituangkan dalam keputusan atau rekomendasi, agar  dilaksanakan 
oleh 
pihak-pihak pembuat kebijakan serta masyarakat  pendukung bahasa Sunda.

Isu  yang selalu mengemuka dari setiap penyelenggaraan KBS adalah upaya  
menyesuaikan bahasa Sunda dengan perkembangan zaman. Agar bahasa Sunda ngindung 
ka waktu,  hasil Konferensi Bahasa Sunda tahun 1952 merekomendasikan 
dibentuknya  
suatu badan untuk memelihara bahasa dan sastra Sunda. Kemudian  berdirilah 
LBSS. 
Salah satu kegiatan yang tertuang dalam anggaran dasar  LBSS adalah 
menyelenggarakan KBS.
Sejak  pendiriannya, LBSS telah delapan kali mengadakan KBS, dan tahun ini  
yang 
kesembilan. KBS I sampai IV diadakan di Bandung, yaitu tahun 1954,  1956, 1958, 
dan 1961. Dari empat kongres tersebut, rekomendasi yang  paling nyata adalah 
dibukanya Jurusan Sastra Sunda di Unpad dan UPI,  penyusunan pedoman ejaan 
bahasa Sunda dan penyusunan Kamus Umum Bahasa  Sunda. Selain itu, diterbitkan 
pula buku-buku yang berkaitan dengan  bahasa dan sastra Sunda.

Selama  27 tahun, sejak 1961, LBSS tidak mengadakan kongres. Atas dorongan dari 
 
beberapa tokoh pemuda, antara lain Acil Bimbo dan Uu Rukmana, tahun  1988 LBSS 
menyelenggarakan KBS V di Cipayung Bogor. Maman Sumantri,  Ketua LBSS pada 
periode 1984-1988, menyebutkan bahwa KBS V merupakan  upaya untuk merumuskan 
kembali bahasa Sunda dalam menyongsong abad XXI.  Selanjutnya, LBBS 
menyelenggarakan kembali KBS VII di Gedung Merdeka  tahun 1993, KBS VII di 
Garut 
tahun 2001, dan KBS VIII di Subang tahun  2005. 

 
Rekomendasi dan Realisasi
Penyelenggaraan  KBS bertujuan untuk menemukan solusi, kesepakatan, kebijakan, 
dan  strategi berkaitan dengan permasalahan bahasa, sastra, dan aksara Sunda.  
Meski demikian, kongres-kongres sebelumnya kerapkali mendapat sorotan  tatkala 
dipandang sebagai acara rutin yang bersifat seremonial. Hal ini  lantaran 
beberapa rekomendasi kongres, belum juga dilaksanakan hingga  datang kongres 
berikutnya. 



Kegiatan  rutin pada setiap KBS pada dasarnya sama, yaitu membentuk panitia,  
mengundang pemakalah, mempresentasikan makalah, dan kemudian menyusun  
rekomendasi. LBSS sebagai lembaga yang memprakarsai terselenggaranya  KBS, 
kemudian mengadakan sosialisasi hasil kongres kepada pihak-pihak  yang memiliki 
kebijakan, agar dapat dirasakan oleh masyarakat.

Adanya  KBS semestinya membawa iklim yang lebih baik agar bahasa Sunda  
berkembang dan digunakan di tengah masyarakat Sunda. Betapa tidak, pada  setiap 
KBS, para ahli bahasa Sunda mengemukakan gagasan dan solusi,  mencari titik 
temu, merancang strategi, hingga tercapai kesepatan.  Lembaran rekomendasi yang 
tertuang dalam keputusan kongres, merupakan  agenda untuk mengembangkan bahasa 
Sunda di masa depan.
Setiap  bahasa ibu di Indonesia, memiliki permasalahan yang sama, yaitu  
merasakan kemunduran, sulit mengimbangi perkembangan zaman, dan serangan  
kosakata dari bahasa nasional dan asing. Masalah-masalah inilah yang  
seringkali 
dibahas pada seminar, kongres, saresehan, atau perbincangan  di antara 
pemerhati 
bahasa. Kebijakan UNESCO tentang pencanangan Hari  Bahasa Ibu Internasional, 
mungkin memberi semangat untuk memperkuat  eksistensi bahasa ibu. Tetapi hal 
itu 
tidak serta-merta menjadikan  bahasa Sunda lebih berkembang.

Bahasa  Sunda, sebagai bahasa ibu terbesar kedua di Indonesia, tentunya  
memiliki kesempatan yang besar untuk tetap hidup di masyarakat.  Sayangnya, tak 
pernah ada data yang akurat tentang jumlah penutur bahasa  Sunda. Tahun 1992, 
Maman Sumanti dalam Media Informasi LBSS VI menyebutkan jumlah penutur bahasa 
Sunda sebanyak 20 juta. Summer Institute of Linguistics mencatat  ada 27 juta 
pengguna bahasa Sunda pada tahun 2005. Tahun 2011 entah  berapa. Bahkan BPS 
Jawa 
Barat pun tidak mencatatnya. Pentingnya data  penutur bahasa Sunda, bukan hanya 
persoalan statistik, tetapi menjadi  rujukan agar kebijakan tentang bahasa 
Sunda 
tidak salah sasaran. 



Isu lainnya tentang bahasa Sunda adalah masalah kemurnian bahasa. Sekitar satu 
abad silam,  R.H.  Muhamad Musa (1822-1886) menganggap bahasa Sunda tidak murni 
lagi  karena sudah berbaur dengan kata-kata dari bahasa Arab, Jawa, dan  
Melayu. 
Demikian pula R. Satjadibrata, tahun 1950-an menyebutkan  struktur bahasa Sunda 
sudah simpang siur dan kamayalon.  Bagaimana dengan saat ini? Ya, tentu harus 
ada rujukan untuk masyarakat  tentang bahasa Sunda yang “baik dan benar”. Jika 
kata-kata dari bahasa  lain dianggap tidak tepat, tentu harus ada alternatif 
yang tertuang  dalam kamus.

Satu-satunya sumber rujukan masyarakat tentang bahasa Sunda adalah kamus yang 
sesuai dengan pajamaman.  Untuk pangsa generasi muda, diperlukan pula kamus 
yang 
lebih mendekati  keseharian mereka, kamus praktis dan terbenam dalam piranti 
teknologi.

Hal  lain yang perlu dilakukan dalam pengembangan bahasa adalah merancang  
komputansi linguistik untuk bahasa Sunda, seperti yang banyak digunakan  pada 
bahasa-bahasa asing. Teknologi semantik, sebagai suatu kemajuan  dari ilmu 
komputer, dapat digunakan untuk menganalisa bahasa Sunda. 



Semoga  hasil dari KBS IX di Bogor pada Juli 2011 mendatang, dapat menghasilkan 
 
produk kamus yang tidak hanya bersifat konvensional-tradisional, tetapi  dapat 
memiliki aksesibilitas global agar dapat digunakan oleh segenap  masyarakat 
dengan mudah.***
 
Dimuat di Khazanah Pikiran Rakyat, 26 Juni 2011 


http://galuh-purba.com/bahasa-sunda-dari-kongres-ke-kongres/

 

Kirim email ke