Surat Tanpa Nama dari Pembantai Rawagede
  Radio 
Nederland<http://www1.kompas.com/printnews/xml/2011/09/15/12311965/Surat.Tanpa.Nama.dari.Pembantai.Rawagede#>
Pemakaman korban pembantaian Rawagede, Karawang, Jawa Barat oleh tentara
Belanda pada tahun 1947.
 Kamis, 15 September 2011 | 12:31 WIB

*DEN HAAG, KOMPAS.com *— Sebuah surat tanpa nama pengirim tiba di tangan
Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) di Belanda. Surat itu bukan
disampaikan lewat pos, melainkan diberikan seseorang yang mengaku menerima
dari seorang veteran perang. Isinya menunjukkan sebuah guratan penyesalan
seorang tentara Belanda yang diduga ikut dalam proses pembunuhan warga
Rawagede.

Seberapa jauh surat ini orisinal, tidak ada yang tahu. Sang penyampai dan
sang penulis tetap ingin tidak diketahui. Berikut adalah versi lengkap surat
itu sebagaimana dilansir Radio Nederland, Selasa (13/9/2011).
                                               *Wamel  Rawa Gedeh *

*Namaku tidak bisa aku sebutkan, tapi aku bisa ceritakan kepada Anda apa
yang sebenarnya terjadi di desa RAWA GEDEH.*

* Anda tahu, antara tahun 1945 – 1949, kami mencoba merebut kembali jajahan
kami di Asia Tenggara. Untuk itu dari tahun 1945 sampai 1949,  sekitar
130.000 tentara Belanda dikirim ke bekas Hindia Belanda, sekarang Indonesia.
Di sana terjadi berikut ini:*

* Di Jawa Barat, timur Batavia, di daerah Krawang, ada desa Rawa Gedeh. Dari
arah Rawa Gedeh tentara Belanda ditembaki. Maka diputuskanlah untuk
menghajar desa ini untuk dijadikan pelajaran bagi desa-desa lain.*

* Saat malam hari Rawa Gedeh dikepung. Mereka yang mencoba meninggalkan
desa, dibunuh tanpa bunyi (diserang, ditekan ke dalam air sampai tenggelam;
kepala mereka dihantam dengan popor senjata dll)*

* Jam setengah enam pagi, ketika mulai siang, desa ditembaki dengan mortir.
Pria, wanita dan anak-anak yang mau melarikan diri dinyatakan patut dibunuh:
semuanya ditembak mati. JUMLAHNYA RATUSAN.*

* Setelah desa dibakar, tentara Belanda menduduki wilayah itu. Penduduk desa
yang tersisa lalu dikumpulkan, jongkok, dengan tangan melipat di belakang
leher. Hanya sedikit yang tersisa. Rawa Gedeh telah menerima 'pelajarannya'.
*

* Semua lelaki ditembak mati – kami dinamai 'Angkatan Darat Kerajaan'. Semua
perempuan ditembak mati – padahal kami datang dari negara demokratis. Semua
anak ditembak mati – padahal kami mengakunya tentara yang kristiani.

Pekan adven 1947   *

*Sekarang aku siang malam teringat Rawa Gedeh, dan itu membuat kepalaku
sakit dan air mataku terasa membakar mata, terutama kalau aku teringat
anak-anak yang tangannya masih terlalu pendek untuk melipat tangan di
belakang leher, dan mata mereka terbelalak, ketakutan dan tak faham.*

* Aku tidak bisa menyebut namaku, karena informasi ini tidak disukai
kalangan tertentu.*

* Tapi mungkin dari Wamel, justru dari Wamel, akan muncul inisiatif. Aku
tidak tahu bagaimana.*

Wamel merupakan sebuah desa di Provinsi Gerderland, Belanda timur. Desa ini
pada tanggal 20 September 1944 diserbu tentara Jerman. Sebanyak 14 warga
sipil tewas dibunuh secara keji oleh tentara Jerman. Sekarang di sana
dibangun monumen peringatan. Uniknya, di antara nama-nama yang tercantum
pada monumen, terdapat satu nama korban kekejaman perang di Hindia Belanda.

*Dapatkan artikel ini di URL:*
http://www.kompas.com/read/xml/2011/09/15/12311965/Surat.Tanpa.Nama.dari.Pembantai.Rawagede

Kirim email ke