Ke Mana Uang Rp 10,2 Miliar untuk Rawagede?
  Radio 
Nederland<http://www1.kompas.com/printnews/xml/2011/09/15/1031219/Ke.Mana.Uang.Rp.10.2.Miliar.untuk.Rawagede.#>
Pemakaman korban Rawagede, Karawang, Jawa Barat.
 Kamis, 15 September 2011 | 10:31 WIB
*Kementrian Kerja Sama Pembangunan Belanda telah mengalokasikan 850.000 euro
atau setara Rp 10.2 miliar) untuk Rawagede (sekarang Balongsari). Namun
sampai kini, tidak ada buktinya. Ke mana dana itu disalurkan? *

Pada awal 2009 Bert Koenders, waktu itu menjabat sebagai Menteri Kerja Sama
Pembangunan Belanda, mengalokasikan 850.000 euro untuk Balongsari, (atau
dulu desa Rawagede).

Menurut *Radio Nederland,* Selasa (13/9/2011), dana ini tidak boleh disebut
ganti rugi atau kompensasi untuk pembunuhan massal yang dilakukan tentara
Belanda pada 1947 di Rawagede. Karena jika dana itu disebut ganti rugi atau
kompensasi, itu berarti Belanda mengakui kesalahan mereka, hal yang ditolak
negara kincir angin ini selama hampir 64 tahun. Jadi, sebutlah itu bagian
dari dana kerja sama pembangunan, dan tidak hanya untuk Rawagede, tetapi
juga untuk wilayah sekitarnya.

Dari 850.000 euro itu rencananya akan dibangun sebuah sekolah dan pasar di
Rawagede. Dan rumah sakit di Balongsari juga akan diperbesar.

Dua setengah tahun kemudian, masih belum ada rencana yang terwujud. Di
pinggir desa terhampar sawah seluas satu hektar, menunggu untuk dibangun
SMK. Rancangannya, menurut otoritas setempat, sudah selesai. Mereka tinggal
menunggu dana turun.

Jika dana turun, sekolah akan langsung dibangun, kata Sukarman, ketua
yayasan lokal yang sebelumnya pernah membangun sekolah di Rawagede. Sekolah
yang dibagun yayasannya berdiri di seberang sawah, dan sekarang punya
delapan ratus siswa. “Sekolah itu kami bangun dalam waktu tiga bulan. Bank
Dunia memberikan uang kepada yayasan kami, dan semua langsung kami urus,”
kata Sukarman kepada Radio Nederland.

*Depdagri*

Nyatanya, prosesnya sangat berbeda dengan uang Belanda. Dana Belanda bukan
untuk Rawagede. Bahkan bukan untuk Karawang, kabupaten yang menaungi
Rawagede. Dana kerja sama pembangunan tersebut diberikan ke Kementrian Dalam
Negeri di Jakarta. Merekalah yang akan memutuskan siapa yang boleh membangun
sekolah, dan kapan.

Menurut *Radio Nederland*, Belanda punya MOU, semacam perjanjian, dengan
Kemendagri Indonesia. Sebagian kecil dana akan ditransfer bulan Desember
mendatang. Otoritas setempat sama sekali belum dihubungi Jakarta dan sama
sekali tidak jelas apakah dan kapan proyek ini akan dimulai.

Kedutaan Besar Belanda di Jakarta membela diri. Birokrasi yang
berbelit-belit ini harus ditempuh atas alasan “ketelitian”. Proyek ini harus
“berkesinambungan” dan karena itulah sejak awal harus didiskusikan dengan
semua pihak dengan seksama. Dan “ketelitian butuh waktu,” kata wakil duta
besar Belanda Annemieke Ruigrok. Menurutnya “kementrian dalam negeri sibuk
menyelesaikan rincian terakhir.” Apa artinya, tidak jelas.

Yang jelas, tidak ada “perundingan” terjadi. Walau rencana pemerintah
setempat sudah selesai sejak dua tahun lalu, kementrian sama sekali belum
menghubungi mereka.

Tidak semua dana dari menteri Koenders ada di Jakarta. 254.500 euro
disalurkan ke yayasan Belanda Hivos, yang mempergunakan dana tersebut untuk
kredit mikro di Rawagede. Ratusan orang di desa, dan ratusan lain di desa
sekitar, memanfaatkan pinjaman tersebut. Total 106.533 euro telah
dikeluarkan. Dari keseluruhan dana Koenders, cuma itulah yang benar-benar
sampai ke rakyat.

Hivos mendirikan koperasi yang sekarang memiliki 1247 anggota. Mereka juga
mengalokasikan sekitar 50.000 euro untuk toko organik yang dikelola koperasi
tersebut. Tokonya belum ada, ketua koperasi Riyadi mengakui. Sampai sekarang
koperasi hanya berbisnis tabung gas. Selain itu 50.000 euro yang mereka
terima juga digunakan untuk “biaya operasional” koperasi dan gaji karyawan.

*Radio Nederland *menanyakan masalah ini kepada Harry van Bommel, anggota
parlemen Belanda dari partai sosialis SP, yang berkunjung ke Rawagede tahun
2009, bersama Menteri Luar Negeri Belanda ketika itu, Maxime Verhagen. "Dana
sudah disediakan. Bahwa dana itu belum dipakai, merupakan masalah. Masalah
ini pertama dirasakan masyarakat setempat, karena mereka dijanjikan pelbagai
fasilitas, yang hingga sekarang belum ada. Pemerintah Belanda harus
menghubungi pihak kedubes Belanda di Jakarta, atau di tingkat bilateral,
menghubungi kementerian luar negeri Indonesia, untuk menanyakan seberapa
cepat masalah ini bisa diatasi."

*Dapatkan artikel ini di URL:*
http://www.kompas.com/read/xml/2011/09/15/1031219/Ke.Mana.Uang.Rp.10.2.Miliar.untuk.Rawagede
.

Kirim email ke