Kerugian Musim Lalu Gagal Tergantikan
Kentang Cina Hajar Petani Lokal

   -
   -

 Senin, 19/09/2011 - 19:18

BANDUNG, (PRLM).- Serbuan kentang-kentang impor asal China, membuat para
petani kentang lokal asal Jabar, kian terpuruk. Harapan mereka agar kerugian
tahun lalu akibat hujan berkepanjangan bisa tertutup dengan panen tahun ini,
kandas karena pasokan kentang Cina.

Kelompok petani kentang yang juga harus gigit jari ialah kelompok petani di
wilayah Bandung selatan, seperti Pangalengan dan sekitarnya. Seperti yang
diungkapkan kelompok petani kentang saat mengadu nasib mereka ke Pemprov.
dan DPRD Jabar, Senin (19/9) siang.

Hasan Mutaqin, perwakilan kelompok petani, menjelaskan, serbuan kentang
impor asal China sudah masuk ke pasar sejak dua bulan silam. Harganya yang
sangat murah, membuat para petani terpaksa banting harga menjual kentang
lokal.

"Misalnya, kentang kualitas super yang harga biasanya Rp 7.000 per kilogram
harus kami jual dengan harga Rp 4.000. Soalnya harga kentang impor di bawah
Rp 4.000. Bahkan ada yang harganya Rp 3.000 per kilogram," kata Hasan.

Para petani, kata Hasan, sempat bernafas lega ketika harga kentang mencapai
Rp 7.000/kg. "Mudah-mudahan bisa menutup kerugian akibat gagal panen tahun
lalu karena hujan yang turun sepanjang tahun. Tahun kemarin, dari satu
hektare, kami hanya panen 10 ton. Biasanya 15 sampai 20 ton. Namun, saat
panen bagus, harga terjun bebas karena kentang China ini. Yah, akhirnya
tetap merugi," ucapnya.

Hasan menambahkan, dengan harga yang turun drastis, hasil panen tidak
memberikan pemasukan yang positif. "Hasil panen kali ini, kami hanya bisa
menjual kentang dengan kualitas super dengan harga murah. Untuk kualitas
biasa, kami sudah kesulitan menjualnya karena pasar tidak mau menerima hasil
panen kami. Mereka lebih milih produk impor," katanya.

Petani lainnya, Yayan Sopyan, berharap pemerintah segera menutup atau
mengurangi keran impor kentang asal China. Pasalnya, kalau dibiarkan, akan
berefek domino. "Tidak hanya kepada petani tapi juga supir-supir truk yang
mengangkut kentang. Belum lagi buruh-buruh angkut dan lainnya," katanya.

Sebelumnya, kata Yayan, kentang impor juga sudah masuk ke Indonesia. Kentang
itu impor dari Bangladesh. "Tapi hanya dikit. Kentang kita masih bisa
bersaing. Ketika yang masuk kentang China, efeknya menggurita. Tidak hanya
masuk ke pasar-pasar tapi juga sampai ke sentra produksi seperti
Pangalengan," ujarnya.

Karena itu, para petani kentang mendesak pemerintah agar segera melakukan
proteksi terhadap serbuan kentang impor. "Kalau tidak diproteksi, petani
kentang lokal akan tergusur seperti yang dialami petani cabai yang kewalahan
menghadapi serbuan cabai impor. Ini persoalan keberpihakan pemerintah
terhadap petani dan ribuan buruh tani yang terancam kehilangan sumber
penghasilan," ujarnya.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Pertanian Jawa Barat (Jabar) Endang Suhendar
menuturkan, kentang impor saat ini tidak bisa dihalangi. Dan Endang
menyadari, masuknya kentang impor akan berpengaruh pada kentang lokal.
"Mungkin malah bisa merugikan. Namun kami tidak bisa apa-apa. Itu kebijakan
dari pusat. Namun, aspirasi dari petani ini tentunya akan kita fasilitasi.
Kasihan petani jika terus merugi, kami tentu akan menyampaikan aspirasi ini
kepada pemerintah pusat. Dan Selasa besok, kami akan berdialog dengan petani
di Pangalengan. Salah satunya membahas soal kentang ini," katanya.
(A-128/A-88)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/159033

Kirim email ke