Saudara Iwan, ada beberapa hal yang membuat saya sepakat dengan
apa yang saudara sampaikan. Golkar secara institusi memang pernah
bikin orang lain babak-belur.

Tapi mari kita lihat dengan hati tanpa memihak. Dalam artian,
meski kita mendukung Megawati, Amien Rais, atau Hamzah Haz,
dalam melihat Golkar kali ini mari kita berpikir "ala cende-
kiawan". Berani mengatakan benar kalau memang benar.

Tindakan Golkar pasca reformasi, sempat membuat saya gembira.
Apalagi setelah orang-orang yang dulu 'menciumi' tangan
Soeharto terdepak sejak munaslub Golkar yang lalu. Kelompok
yang dimotori Edi Seodrajat, setelah kalah dalam bersaing
dengan kelompok Akbar, mendirikan partai sendiri. Bila memang
yang mereka cari adalah memperbaiki Golkar setelah dihujat
sana-sini, tentunya mereka bertahan di Golkar dengan melakukan
perbaikan dari dalam shg rakyat terbuka hatinya bahwa Golkar
telah melakukan metamorphosa.

Individu spt Try Seotrisno, mencium-cium tangan Soeharto meski
jadi sudah jadi Pangab [bikin malu aja], sekarang berteriak-teriak
lantang soal reformasi adalah pemain "lenong" yang kahabisan
penonton.

Marilah kita lihat Golkar secara adil. Dosa masa lalu Golkar memang
masih melekat di pundak mereka yang sekarang meneruskan kepemimpinan.
Tapi saya menaruh penghargaan yang tinggi thd mereka yang meski
dihujat sana-sini tetap bertahan untuk melakukan perbaikan dari
dalam.

Lihatlah orang Golkar spt Marzuki Darusman, lihat juga yang lain
spt Adi Sasono [yg dianugerahi gelar the most dangerous man].
Dan juga yang lain. Tekad mereka untuk menegakkan keadilan nampak
dari kegiatannya sehari-hari.

Golkar sebagai orospol di bawah Soeharto memang amat sangat amburadul.
Tapi mari kita lihat Golkar yang sekarang. Pintu demokrasi dibuka.
Usaha perbaikan ekonomi terlihat membaik [nilai rupiah menguat,
laju inflasi ditekan, bahkan sempat minus], kebebasan pers dibuka,
hampir semua tapol napol politik dilepas. Pegawai negeri diancam
akan dipecat kalau memihak partai Golkar [ancaman Mendagri]. Usulan
RUU agar pemilu berdasarkan sistem distrik berasal dari pemerintah
[ini menjamin wakil terpilih benar-benar dikenal pemilih dan berjuang
untuk daerah yang dipilihnya; tapi ditolak parpol lain kawatir tak
kebagian kursi]. Bahkan akhir-akhir ini Habibie meluncurkan ide
sangat cemerlang. Golonga WNI diakui sebagaimana suku bangsa yang
lain plus segala atribut dan budaya yang dimilikinya. Habibie juga
mencetuskan pemilihan president secara langsung dan amandment UUD'45.
Habibie memberikan opsi menarik untuk teman-teman di TimTim.

Pemikiran dan tindakan Habibie bersama Golkar diatas menunjukkan
adanya langkah-langkah reformasi yang positif. Mengapa orang tidak
mau mengakui bahwa hal-hal di atas adalah langkah reformatif. Orang
masih saja berpikir dengan pola lama, bahwa Golkar adalah status
quo yang buruk dan harus dihajar, disingkirkan. Padahal, apa yang
dilakukan Golkar dengan Habibie pada tahun pertama itu sungguh
prestasi luar biasa. Mengapa kita menutup mata thd kenyataan ini???

Saya memisahkan Golkar saat di bawah Soeharto dan kroconya, dan
Golkar di bawah Akbar Tanjung. Secara organisasi...mereka juga sudah
berbeda. Yang pertama Golkar  [Soeharto], yang satu adalah
Partai Golkar [Akbar Tanjung].

Kalau di kalangan masyarakat ada yang berpendapat bahwa mereka
harus memilih Golkar karena listrik, jalan, dsb ini dibangun oleh
Golkar, masyarakat tsb yang perlu disadarkan lewat pendidikan
politik yang benar. Tapi kita tak bisa menyalahkan Partai Golkar
yang sekarang.

Demikian tanggapan saya saudara Iwans, mohon dikoreksi kalau
ada yang keliru. Saya sendiri hanya melihat partai-partai lewat
pemberitaan. Saudara yang di tanah air bisa melihat dengan mata
kepala sendiri mungkin punya cara pandang yang beda.
Terima kasih.

Note:
Tanggapan ini mohon tidak disikapi sebagai upaya kampanye Golkar.
Frankly, saya don't care partai apa yang akan menang. Saya hanya
melihatnya dengan kaca mata akademis [tak memihak].

Hercule Poirot:
      "...If we know what we are searching for,
          it is no longer mysteri..."





>From: iwans <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: [Kuli Tinta] Golkar dan Reformasi
>Date: Thu, 27 May 1999 01:29:04 +0700
>
>Ini hasil ngobrol saya di warung kopi sebelah kantor :
>
>Kalau kita bersedia bertindak adil, Reformasi tidak berarti harus Golkar
>yang kalah (saya sama sekali bukan pendukung golkar lho, dengan
>menyatakan hal itu), namun kita tetap harus berpikir positif dan
>realistik saja. Menurut saya, Golkar yang sekarang agak lebih baik dari
>Golkar yang
>lama, karena kroco-kroco Golkar sudah banyak yang keluar, seperti Hayono
>Isman, Try Soetrisno, Rudini, Edi Sudrajat, Cahyo Kumolo, dll.
>
>Mereka inilah yang dulu membesarkan Golkar, menyanjung-nyanjung Golkar
>dan Pak Harto, serta ikut andil menciptakan status quo, sekarang berlaku
>seolah-olah orang yang bersih, pro reformasi, anti status quo, dll.
>Ibarat orang lempar batu sembunyi tangan. Dari segi organisasi atau
>komunitas, mereka dapat dikategorikan sebagai "pengkhianat". Apalagi
>yang kemudian justru menyelundup dan mengungsi ke dalam tubuh organisasi
>yang pernah dikuyo-kuyo oleh tangan mereka seperti PDI Perjuangan.
>
>Mari berdiskusi ........
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
>
>



_______________________________________________________________
Get Free Email and Do More On The Web. Visit http://www.msn.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!



Kirim email ke