>Saudara Wawan,
>Apa yang dilakukan Habibie memang bermaksud untuk
>memperpanjang masa jabatannya. Namun demikian, kalau
>apa yang dilakukan itu tidak "break any law", dan
>apa yang dilakukan itu menguntungkan bangsa Indonesia,
>mau tak mau harus diakui sebagai prestasi positif.
Yup, saya memang menghargai apa yang dilakukan oleh Habibie dalam beberapa
hal, jadi pada dasarnya saya sependapat dengan anda :)
Saya hanya minta jangan 'melupakan' begitu saja dosa-dosa Golkar dimasa
lalu (bukan artinya menghujat, tapi untuk bahan pelajaran kemasa depan),
tapi jangan juga menutup mata terhadap kemajuan politik yang dilakukan
Golkar sekarang (Habibie). Jadi pada kesimpulan, yang benar itu benar, dan
yang salah itu salah, siapapun pelakunya.
>Lihatlah partai-partai lain. Mereka juga mulai obral
>janji. Tujuannya juga sama dengan apa yang dilakukan
>Habibie, untuk dapat kursi. Contoh: Amien Rais janji
>akan membuka sekolah Cina kalau jadi presiden. Janji
>itu diucapkan di Hong Kong, salah satu tujuan
>politisnya adalah menarik simpati warga Cina.
>Yang demikian sih sah-sah saja dalam kampanye.
Mungkin saya tidak terlalu peduli loh dengan Partai-partai lain. Mereka
baru sekarang sih kampanyenya. Tapi Golkar khan sudah dari dulu, Sudah 2
tahun saya ikut Pemilu, Dan beberapa kali pula saya ikut kampanye... Bagus
sekali mereka berpidato... Tapi ternyata pelaksanaannya itu tidak sebagus
yang mereka ucapkan. Jadi Golkar itu sudah teruji dengan
kampanye-kampanyenya dulu. Tapi entah dengan Golkar Baru ini...?
Jikalau nanti apa yang dikatakan seperti PDI.P, PKB, PAN dll, saya juga
denger kampanye mereka, tapi ternyata pelaksanaannya itu tidak sejalan
banyak penyelewengan, yah saya juga ngeh untuk ikut...
Jadi buat saya sekarang lebih baik Wait and see, Pemilu ikut, Kemudian
lihat pemerintahan nanti yang memimpin.
Kesimpualnnya, Bila dan hanya bila PDI-P menang, dan memimpin Negara, dan
ternyata dalam pemerintahannya itu tumbuh subur kembali KKN, Kemudian
Golkar menjadi Oposisi yang baik, Yah saya akan dukung Golkar dong.
Jadi siapa yang bener menurut saya itu yang harus didukung... Siapapun.
>Habibie, juga harus disikapi demikian. Sah-sah saja
>Habibie membuat gebrakan agar mendapat simpati rakyat.
>Saya melihatnya dari dua sudut. Pertama, cara. Kedua
>manfaat. Kalau caranya bernar (tidak melanggar hukum),
>dan manfaatnya untuk bangsa Indonesia, itu berarti yang
>kita tunggu-tunggu. Mengapa kita tak mau menghargainya
>hanya karena dilakukan oleh Habibie?
>
>Siapa pun yang melakukan perbaikan untuk Indonesia akan
>saya hargai. Saya tidak peduli apakah tindakan itu
>dilakukan oleh PDI Perjuangan, PBB, PK, PAN, PKB, Partai
>Kristen Demokrat, PRD, PDR, PARI...as long as itu berman-
>faat bagi bangsa Indonesia dan ditempuh dengan cara yang
>tidak melanggar hukum...itulah yang jempol. Kita harus
>mau mengakui dan menerimanya.
Yup saya sependapat dengan anda, sangat sependapat...
Saya sudah mengatakan setuju mengenai hal ini sebelumnya :)
>Tentang masyarakat di kalangan bawah yang menganggap
>Golkar berjasa kepada mereka, kita tak bisa salahkan
>persepsi mereka. Kita punya kewajiban politik menyadarkan
>mereka bahwa...fasilitas itu datang bukan dari partai
>tertentu (termasuk Golkar), tapi dari negara. Juga
>berarti dari bapak-bapak sendiri.
>
>Bila masyarakat memutuskan milih Golkar karena mereka
>merasa berhutang pada Golkar, ini bukan salah Akbar
>Tanjung dan Partai Golkarnya. Partai Golkar baru bisa
>disalahkan apabila mereka mempengaruhi rakyat atau
>mengarahkan rakyat untuk mengambil kesimpulan spt itu.
>
>Tentang sikap rakyat yang membenci reformasi, ini juga
>jangan disikapi secara linear. Rakyat kecil terutama
>di pedesaan atau mereka yang kurang educated, melihat
>sesuatu hanya dari hasil (akibat suatu proses) yang
>mereka rasakan.
Saya sama sekali tidak menyalahkan rakyat, yang saya sesalkan, kok
pendidikan politik di negara kita minim sekali. Sehingga banyak diantara
mereka salah persepsi terhadap sesuatu hal. Contohnya, mereka tidak tahu
menahu tentang masalah hutang bapak kita... Yah itu, karena mereka belum
menjadi masyarakat Informasi seperti Kita, minimal Koran MAsuk Desa. Saya
hanya mendambakan masayarakat Indonesia melek akan informasi sehingga tidak
mudah dihasut, diprovokator dan mampu berfikir jernih...
Sasaran yang harus dipenuhi, Memajukan Tingkat pendidikan Rakyat secara
bertahap.
>Mereka hanya menyaksikan bahwa sejak masa reformasi,
>banyak gedung dibakar, banyak kerusuhan, rakyat jadi
>susah cari makan. Sebelum masa reformasi, mereka hidup
>tenang. Inilah yang mereka lihat. Cara mereka mengambil
>kesimpulan sangat simple. Sebelum dan setelah reformasi.
>Mereka memang tidak sempat berpikir bahwa karena reformasi,
>kehidupan berpolitik bangsa Indonesia membaik, pintu
>demokrasi terbuka, pers punya kebebasannya.........
>
>Mereka memang tak sempat berpikir ke sana. Itulah sebabnya
>di beberapa daerah, nama Amien Rais justru dibenci oleh
>rakyat kecil (kunjungi www.amanat.org or: come.to/p-a-n).
>Mereka berpikir, gara-gara Amien Rais dan reformasi,
>kehidupan menjadi sulit. Ini yang ada di kepala mereka.
>
>Oleh karena itu, apa yang kita dengar ini hendaknya menjadi
>masukan bagi kita semua. Bahwa, ternyata, apa yang kita
>perjuangkan untuk rakyat...tidak selamanya diterimanya
>dengan senang hati. Mungkin kiat yang perlu dikemabangkan
>pada masa datang adalah...bagaimana melakukan perbaikan
>tanpa mengorbankan perasaan rakyat, masa depan rakyat,
>dan mata pencaharian rakyat.
Mudah-mudahan hal yang seperti anda ucapkan itu bisa terwujud, Indonesia
Madani.
>Saudara Iwans yang melempar ide kok terus diam.
>Enggak fair dong. Ngajak diskusi kemudian malah
>ditinggal tidur :)
PS: Mohon maaf bila ada kesalahan ketik...:)
Wassalam,
8^)
Wawan P. Siswoyo, Newbie Sekali
[EMAIL PROTECTED]
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!