Saudara Wawan,
Apa yang dilakukan Habibie memang bermaksud untuk
memperpanjang masa jabatannya. Namun demikian, kalau
apa yang dilakukan itu tidak "break any law", dan
apa yang dilakukan itu menguntungkan bangsa Indonesia,
mau tak mau harus diakui sebagai prestasi positif.
Lihatlah partai-partai lain. Mereka juga mulai obral
janji. Tujuannya juga sama dengan apa yang dilakukan
Habibie, untuk dapat kursi. Contoh: Amien Rais janji
akan membuka sekolah Cina kalau jadi presiden. Janji
itu diucapkan di Hong Kong, salah satu tujuan
politisnya adalah menarik simpati warga Cina.
Yang demikian sih sah-sah saja dalam kampanye.
Habibie, juga harus disikapi demikian. Sah-sah saja
Habibie membuat gebrakan agar mendapat simpati rakyat.
Saya melihatnya dari dua sudut. Pertama, cara. Kedua
manfaat. Kalau caranya bernar (tidak melanggar hukum),
dan manfaatnya untuk bangsa Indonesia, itu berarti yang
kita tunggu-tunggu. Mengapa kita tak mau menghargainya
hanya karena dilakukan oleh Habibie?
Siapa pun yang melakukan perbaikan untuk Indonesia akan
saya hargai. Saya tidak peduli apakah tindakan itu
dilakukan oleh PDI Perjuangan, PBB, PK, PAN, PKB, Partai
Kristen Demokrat, PRD, PDR, PARI...as long as itu berman-
faat bagi bangsa Indonesia dan ditempuh dengan cara yang
tidak melanggar hukum...itulah yang jempol. Kita harus
mau mengakui dan menerimanya.
Tentang masyarakat di kalangan bawah yang menganggap
Golkar berjasa kepada mereka, kita tak bisa salahkan
persepsi mereka. Kita punya kewajiban politik menyadarkan
mereka bahwa...fasilitas itu datang bukan dari partai
tertentu (termasuk Golkar), tapi dari negara. Juga
berarti dari bapak-bapak sendiri.
Bila masyarakat memutuskan milih Golkar karena mereka
merasa berhutang pada Golkar, ini bukan salah Akbar
Tanjung dan Partai Golkarnya. Partai Golkar baru bisa
disalahkan apabila mereka mempengaruhi rakyat atau
mengarahkan rakyat untuk mengambil kesimpulan spt itu.
Tentang sikap rakyat yang membenci reformasi, ini juga
jangan disikapi secara linear. Rakyat kecil terutama
di pedesaan atau mereka yang kurang educated, melihat
sesuatu hanya dari hasil (akibat suatu proses) yang
mereka rasakan.
Mereka hanya menyaksikan bahwa sejak masa reformasi,
banyak gedung dibakar, banyak kerusuhan, rakyat jadi
susah cari makan. Sebelum masa reformasi, mereka hidup
tenang. Inilah yang mereka lihat. Cara mereka mengambil
kesimpulan sangat simple. Sebelum dan setelah reformasi.
Mereka memang tidak sempat berpikir bahwa karena reformasi,
kehidupan berpolitik bangsa Indonesia membaik, pintu
demokrasi terbuka, pers punya kebebasannya.........
Mereka memang tak sempat berpikir ke sana. Itulah sebabnya
di beberapa daerah, nama Amien Rais justru dibenci oleh
rakyat kecil (kunjungi www.amanat.org or: come.to/p-a-n).
Mereka berpikir, gara-gara Amien Rais dan reformasi,
kehidupan menjadi sulit. Ini yang ada di kepala mereka.
Oleh karena itu, apa yang kita dengar ini hendaknya menjadi
masukan bagi kita semua. Bahwa, ternyata, apa yang kita
perjuangkan untuk rakyat...tidak selamanya diterimanya
dengan senang hati. Mungkin kiat yang perlu dikemabangkan
pada masa datang adalah...bagaimana melakukan perbaikan
tanpa mengorbankan perasaan rakyat, masa depan rakyat,
dan mata pencaharian rakyat.
Saudara Iwans yang melempar ide kok terus diam.
Enggak fair dong. Ngajak diskusi kemudian malah
ditinggal tidur :)
Salam,
Hercule Poirot:
"...If we know what we are searching for,
it is no longer mysteri..."
>From: "Wawan P. Siswoyo" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [Kuli Tinta] Golkar dan Reformasi
>Date: Thu, 27 May 1999 10:29:23 +0700
>
>From: Hercule Poirot <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Thursday, May 27, 1999 11:00 AM
>
>
>
>Maaf Ikut bergabung =)
>
> >Tindakan Golkar pasca reformasi, sempat membuat saya gembira.
> >Apalagi setelah orang-orang yang dulu 'menciumi' tangan
> >Soeharto terdepak sejak munaslub Golkar yang lalu. Kelompok
> >yang dimotori Edi Seodrajat, setelah kalah dalam bersaing
> >dengan kelompok Akbar, mendirikan partai sendiri. Bila memang
> >yang mereka cari adalah memperbaiki Golkar setelah dihujat
> >sana-sini, tentunya mereka bertahan di Golkar dengan melakukan
> >perbaikan dari dalam shg rakyat terbuka hatinya bahwa Golkar
> >telah melakukan metamorphosa.
>
>
>Nah ini yang saya pertanyakan sama golkar sekarang + Habibie...
>Apa betul ini dilakukan untuk mengisi alam reformasi dengan tindakan baru..
>Ataukah dilakukan Golkar dan Habibie hanya untuk bertahan dan berusaha
>meraih simpati dari Rakyat. ?
>Menurut saya betul tidaknya golkar tidak bisa dilihat sekarang, andaikan
>Misalnya Golkar mendapatkan kursi pemerintahan kembali, maka oleh kita
>bisa dilihat...Apakah benar-benar bisa melaksanakan janji-janjinya yang
>disebut
>sebagai Golkar Baru itu...
>Sebagai contoh, Kasus Soeharto sampai kini masih terkatung-katung, dan dulu
>Habibie menjanjikan bahwa Kasus ini bisa selesai sebelum Pemilu.. Selesai
>bagaimana
>yang dimaksud ?
>
> >Individu spt Try Seotrisno, mencium-cium tangan Soeharto meski
> >jadi sudah jadi Pangab [bikin malu aja], sekarang berteriak-teriak
> >lantang soal reformasi adalah pemain "lenong" yang kahabisan
> >penonton.
>
>
>Betul... Payah tuh :(
>Bagaimana kasus Tanjung Priuk pa Try ?
>
> >Marilah kita lihat Golkar secara adil. Dosa masa lalu Golkar memang
> >masih melekat di pundak mereka yang sekarang meneruskan kepemimpinan.
> >Tapi saya menaruh penghargaan yang tinggi thd mereka yang meski
> >dihujat sana-sini tetap bertahan untuk melakukan perbaikan dari
> >dalam.
>
>
>Bagaimana dengan tingkatan non-elit, seperti pejabat desa, Lurah dsb.
>Didaerah saya
>(kampung asal saya) ternyata masih banyak kecurangan-kecurangan.., Yang
>notabene
>mereka membela Golkar. Sebagai contoh, ada seorang KADES yang desanya
>mendapat
>bantuan JPS. Bayangkan bagaimana bilangnya sama rakyat di desanya
>(pendidikan SD),
>"Kita telah mendapat bantuan dana JPS, ini merupakan pemberian pemerintah
>dan oleh
>karena itu kita harus menuruti pemerintah untuk memilih Partai X,
>mengertilah
>saudara-sudara". Wah, kata saya kalo begini terus bagaimana, sementara di
>tibgkat elit
>sudah/mulai 'menyuarakan' Reformasi, ditingkat bawahnya masih ada yang
>mempraktekan
>hal-hal seperti itu...
>
> >Lihatlah orang Golkar spt Marzuki Darusman, lihat juga yang lain
> >spt Adi Sasono [yg dianugerahi gelar the most dangerous man].
> >Dan juga yang lain. Tekad mereka untuk menegakkan keadilan nampak
> >dari kegiatannya sehari-hari.
>
>
>Yah setuju, Kalo Golkar 100% kayak Marzuki dan Adi, kayaknya bisa
>percaya deh... Tapi berapa persen yang kayak mereka ?
>Tapi lagi, mudah-mudahan yang namanya pak Marzuki dan Adi itu
>bener-bener seperti itu kelakuannya bukan semata-mata taktik politik
>belaka.
>
> >Golkar sebagai orospol di bawah Soeharto memang amat sangat amburadul.
> >Tapi mari kita lihat Golkar yang sekarang. Pintu demokrasi dibuka.
> >Usaha perbaikan ekonomi terlihat membaik [nilai rupiah menguat,
> >laju inflasi ditekan, bahkan sempat minus], kebebasan pers dibuka,
> >hampir semua tapol napol politik dilepas. Pegawai negeri diancam
> >akan dipecat kalau memihak partai Golkar [ancaman Mendagri]. Usulan
> >RUU agar pemilu berdasarkan sistem distrik berasal dari pemerintah
> >[ini menjamin wakil terpilih benar-benar dikenal pemilih dan berjuang
> >untuk daerah yang dipilihnya; tapi ditolak parpol lain kawatir tak
> >kebagian kursi]. Bahkan akhir-akhir ini Habibie meluncurkan ide
> >sangat cemerlang. Golonga WNI diakui sebagaimana suku bangsa yang
> >lain plus segala atribut dan budaya yang dimilikinya. Habibie juga
> >mencetuskan pemilihan president secara langsung dan amandment UUD'45.
> >Habibie memberikan opsi menarik untuk teman-teman di TimTim.
>
>
>Mudah-mudahan dilakukan bukan karena terpaksa dan karena hanya ingin
>mempertahankan diri saja ...
>
> >Pemikiran dan tindakan Habibie bersama Golkar diatas menunjukkan
> >adanya langkah-langkah reformasi yang positif. Mengapa orang tidak
> >mau mengakui bahwa hal-hal di atas adalah langkah reformatif. Orang
> >masih saja berpikir dengan pola lama, bahwa Golkar adalah status
> >quo yang buruk dan harus dihajar, disingkirkan. Padahal, apa yang
> >dilakukan Golkar dengan Habibie pada tahun pertama itu sungguh
> >prestasi luar biasa. Mengapa kita menutup mata thd kenyataan ini???
>
>
>Ya, yang bener walaupun dilakukan siapa saja, yah tetap bener.
>Tapi masalahnya ini kan jelang Pemilu, kita tidak tahu kalo misalnya
>Golkar Menang lagi, akankah terus berlanjut.. Ataukah mereka akan berkata
>"Tuh khan, ternyata rakyat itu mendukung Golkar....Mana kaum reformis ?"
>Hal itu dialami saya sendiri di desa saya, Mereka tidak mengerti politik,
>dan
>banyak diantara rakyat desanya yang berkata (karena digembosi KADES nya) :
>"Ah.. Reformasi, bikin rakyat menderita saja... Ada-ada aja mahasiswa.."
>Mereka banyak yang menyalahkan mahasiswa, Kenapa ?, Yah itu mereka tidak
>tahu
>apa yang sebenranya terjadi, mereka tidak tahu utang BAPAK kita yang udah
>lengser
>dan persoalan-persoalan tingkat tinggi politik lainnya.
>
> >Saya memisahkan Golkar saat di bawah Soeharto dan kroconya, dan
> >Golkar di bawah Akbar Tanjung. Secara organisasi...mereka juga sudah
> >berbeda. Yang pertama Golkar [Soeharto], yang satu adalah
> >Partai Golkar [Akbar Tanjung].
>
>
>Tingkat elite to ..
>Bagaimana di tingkat menengahnya, kayak kabupaten, kecamatan, desa,
>kayaknya
>orangnya masih yang itu-itu aja deh..CMIIW.
>
> >Kalau di kalangan masyarakat ada yang berpendapat bahwa mereka
> >harus memilih Golkar karena listrik, jalan, dsb ini dibangun oleh
> >Golkar, masyarakat tsb yang perlu disadarkan lewat pendidikan
>
>
>But, masih banyak yang kayak gitu tuh, di daerah pedesaan, perkebunan..
>dll.
>Sebagai contoh, selama 20 tahun sejak saya Taman Kanak-kanak, saya hidup
>didaerah perkebunan di Jawa Barat, Wah, Tau deh yang namanya kecurangan
>Golkar...
>
> >Demikian tanggapan saya saudara Iwans, mohon dikoreksi kalau
> >ada yang keliru. Saya sendiri hanya melihat partai-partai lewat
> >pemberitaan. Saudara yang di tanah air bisa melihat dengan mata
> >kepala sendiri mungkin punya cara pandang yang beda.
> >Terima kasih.
>
>
>Sama-sama mohon dikoreksi, terimakasih.
>Mohon maaf bila ternyata pendapat saya kurang berkenan...
>Yang penting boleh beda khan... Tapi tetep bersatu.
>
> >Note:
> >Tanggapan ini mohon tidak disikapi sebagai upaya kampanye Golkar.
> >Frankly, saya don't care partai apa yang akan menang. Saya hanya
> >melihatnya dengan kaca mata akademis [tak memihak].
>
>Sama saya juga, tapi saya sedikit peduli siapa yang menang..he..he..
>
>Wassalam,
>Wawan P. Siswoyo
>
>
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
>
>
>
>
_______________________________________________________________
Get Free Email and Do More On The Web. Visit http://www.msn.com
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!