From: Hercule Poirot <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thursday, May 27, 1999 11:00 AM
Maaf Ikut bergabung =)
>Tindakan Golkar pasca reformasi, sempat membuat saya gembira.
>Apalagi setelah orang-orang yang dulu 'menciumi' tangan
>Soeharto terdepak sejak munaslub Golkar yang lalu. Kelompok
>yang dimotori Edi Seodrajat, setelah kalah dalam bersaing
>dengan kelompok Akbar, mendirikan partai sendiri. Bila memang
>yang mereka cari adalah memperbaiki Golkar setelah dihujat
>sana-sini, tentunya mereka bertahan di Golkar dengan melakukan
>perbaikan dari dalam shg rakyat terbuka hatinya bahwa Golkar
>telah melakukan metamorphosa.
Nah ini yang saya pertanyakan sama golkar sekarang + Habibie...
Apa betul ini dilakukan untuk mengisi alam reformasi dengan tindakan baru..
Ataukah dilakukan Golkar dan Habibie hanya untuk bertahan dan berusaha
meraih simpati dari Rakyat. ?
Menurut saya betul tidaknya golkar tidak bisa dilihat sekarang, andaikan
Misalnya Golkar mendapatkan kursi pemerintahan kembali, maka oleh kita
bisa dilihat...Apakah benar-benar bisa melaksanakan janji-janjinya yang
disebut
sebagai Golkar Baru itu...
Sebagai contoh, Kasus Soeharto sampai kini masih terkatung-katung, dan dulu
Habibie menjanjikan bahwa Kasus ini bisa selesai sebelum Pemilu.. Selesai
bagaimana
yang dimaksud ?
>Individu spt Try Seotrisno, mencium-cium tangan Soeharto meski
>jadi sudah jadi Pangab [bikin malu aja], sekarang berteriak-teriak
>lantang soal reformasi adalah pemain "lenong" yang kahabisan
>penonton.
Betul... Payah tuh :(
Bagaimana kasus Tanjung Priuk pa Try ?
>Marilah kita lihat Golkar secara adil. Dosa masa lalu Golkar memang
>masih melekat di pundak mereka yang sekarang meneruskan kepemimpinan.
>Tapi saya menaruh penghargaan yang tinggi thd mereka yang meski
>dihujat sana-sini tetap bertahan untuk melakukan perbaikan dari
>dalam.
Bagaimana dengan tingkatan non-elit, seperti pejabat desa, Lurah dsb.
Didaerah saya
(kampung asal saya) ternyata masih banyak kecurangan-kecurangan.., Yang
notabene
mereka membela Golkar. Sebagai contoh, ada seorang KADES yang desanya
mendapat
bantuan JPS. Bayangkan bagaimana bilangnya sama rakyat di desanya
(pendidikan SD),
"Kita telah mendapat bantuan dana JPS, ini merupakan pemberian pemerintah
dan oleh
karena itu kita harus menuruti pemerintah untuk memilih Partai X,
mengertilah
saudara-sudara". Wah, kata saya kalo begini terus bagaimana, sementara di
tibgkat elit
sudah/mulai 'menyuarakan' Reformasi, ditingkat bawahnya masih ada yang
mempraktekan
hal-hal seperti itu...
>Lihatlah orang Golkar spt Marzuki Darusman, lihat juga yang lain
>spt Adi Sasono [yg dianugerahi gelar the most dangerous man].
>Dan juga yang lain. Tekad mereka untuk menegakkan keadilan nampak
>dari kegiatannya sehari-hari.
Yah setuju, Kalo Golkar 100% kayak Marzuki dan Adi, kayaknya bisa
percaya deh... Tapi berapa persen yang kayak mereka ?
Tapi lagi, mudah-mudahan yang namanya pak Marzuki dan Adi itu
bener-bener seperti itu kelakuannya bukan semata-mata taktik politik
belaka.
>Golkar sebagai orospol di bawah Soeharto memang amat sangat amburadul.
>Tapi mari kita lihat Golkar yang sekarang. Pintu demokrasi dibuka.
>Usaha perbaikan ekonomi terlihat membaik [nilai rupiah menguat,
>laju inflasi ditekan, bahkan sempat minus], kebebasan pers dibuka,
>hampir semua tapol napol politik dilepas. Pegawai negeri diancam
>akan dipecat kalau memihak partai Golkar [ancaman Mendagri]. Usulan
>RUU agar pemilu berdasarkan sistem distrik berasal dari pemerintah
>[ini menjamin wakil terpilih benar-benar dikenal pemilih dan berjuang
>untuk daerah yang dipilihnya; tapi ditolak parpol lain kawatir tak
>kebagian kursi]. Bahkan akhir-akhir ini Habibie meluncurkan ide
>sangat cemerlang. Golonga WNI diakui sebagaimana suku bangsa yang
>lain plus segala atribut dan budaya yang dimilikinya. Habibie juga
>mencetuskan pemilihan president secara langsung dan amandment UUD'45.
>Habibie memberikan opsi menarik untuk teman-teman di TimTim.
Mudah-mudahan dilakukan bukan karena terpaksa dan karena hanya ingin
mempertahankan diri saja ...
>Pemikiran dan tindakan Habibie bersama Golkar diatas menunjukkan
>adanya langkah-langkah reformasi yang positif. Mengapa orang tidak
>mau mengakui bahwa hal-hal di atas adalah langkah reformatif. Orang
>masih saja berpikir dengan pola lama, bahwa Golkar adalah status
>quo yang buruk dan harus dihajar, disingkirkan. Padahal, apa yang
>dilakukan Golkar dengan Habibie pada tahun pertama itu sungguh
>prestasi luar biasa. Mengapa kita menutup mata thd kenyataan ini???
Ya, yang bener walaupun dilakukan siapa saja, yah tetap bener.
Tapi masalahnya ini kan jelang Pemilu, kita tidak tahu kalo misalnya
Golkar Menang lagi, akankah terus berlanjut.. Ataukah mereka akan berkata
"Tuh khan, ternyata rakyat itu mendukung Golkar....Mana kaum reformis ?"
Hal itu dialami saya sendiri di desa saya, Mereka tidak mengerti politik,
dan
banyak diantara rakyat desanya yang berkata (karena digembosi KADES nya) :
"Ah.. Reformasi, bikin rakyat menderita saja... Ada-ada aja mahasiswa.."
Mereka banyak yang menyalahkan mahasiswa, Kenapa ?, Yah itu mereka tidak
tahu
apa yang sebenranya terjadi, mereka tidak tahu utang BAPAK kita yang udah
lengser
dan persoalan-persoalan tingkat tinggi politik lainnya.
>Saya memisahkan Golkar saat di bawah Soeharto dan kroconya, dan
>Golkar di bawah Akbar Tanjung. Secara organisasi...mereka juga sudah
>berbeda. Yang pertama Golkar [Soeharto], yang satu adalah
>Partai Golkar [Akbar Tanjung].
Tingkat elite to ..
Bagaimana di tingkat menengahnya, kayak kabupaten, kecamatan, desa,
kayaknya
orangnya masih yang itu-itu aja deh..CMIIW.
>Kalau di kalangan masyarakat ada yang berpendapat bahwa mereka
>harus memilih Golkar karena listrik, jalan, dsb ini dibangun oleh
>Golkar, masyarakat tsb yang perlu disadarkan lewat pendidikan
But, masih banyak yang kayak gitu tuh, di daerah pedesaan, perkebunan..
dll.
Sebagai contoh, selama 20 tahun sejak saya Taman Kanak-kanak, saya hidup
didaerah perkebunan di Jawa Barat, Wah, Tau deh yang namanya kecurangan
Golkar...
>Demikian tanggapan saya saudara Iwans, mohon dikoreksi kalau
>ada yang keliru. Saya sendiri hanya melihat partai-partai lewat
>pemberitaan. Saudara yang di tanah air bisa melihat dengan mata
>kepala sendiri mungkin punya cara pandang yang beda.
>Terima kasih.
Sama-sama mohon dikoreksi, terimakasih.
Mohon maaf bila ternyata pendapat saya kurang berkenan...
Yang penting boleh beda khan... Tapi tetep bersatu.
>Note:
>Tanggapan ini mohon tidak disikapi sebagai upaya kampanye Golkar.
>Frankly, saya don't care partai apa yang akan menang. Saya hanya
>melihatnya dengan kaca mata akademis [tak memihak].
Sama saya juga, tapi saya sedikit peduli siapa yang menang..he..he..
Wassalam,
Wawan P. Siswoyo
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!