Saya tegaskan ya Bung Daniel, Bung Gigih dan para pembela Megawati
yang (mungkin) ikut tusuk jari nyumbang darah ....
Sekali lagi, apa yang saya tulis adalah komentar pribadi saya. Dan dari
dulu anda berdua kan sudah tahu kalau saya memang pribadi yang ndak suka
Megawati. Mosok anda berdua ndak perhatikan sih posting-posting saya
terdahulu.
Mungkin alamat email ini yang bikin anda bingung ya ? Hahahaha.
Ya memang ini alamat email kantor saya yang baru. Dulu biasanya saya
pakai alamat [EMAIL PROTECTED] Dan saya sudah unsubscribe dengan alamat
itu. Khusus untuk domain indoglobal.com, saya subscribe dengan alamat
standard ini.
Sekali lagi Bung,
Ini opini pribadi saya, nggak ada sangkut pautnya dengan lembaga saya.
Kecuali kalau memang anda juga melontarkan opini di forum ini mewakili
lembaga atau kelompok tertentu di belakang anda. Kenapa anda mesti
curiga dengan itu ?
Kalau kolega saya Mas Satrio Arismunandar juga bisa menulis dengan
alamat drnet (dari Majalah DR), kenapa saya ndak boleh ?
Jadi Bung Daniel dan Bung Gigih, teruskan tusuk jari anda sampai
berdarah buat memperjuangkan Megawati. Saya sedari semula kan sudah
menyerukan agar kita jadi oposisi saja !
So, hidup Oposisi !
Ck, ck, ck. Sampai ditembuskan ke [EMAIL PROTECTED] (Dahlan Iskan) dan
[EMAIL PROTECTED] segala macam. Memangnya apa yang anda harapkan dengan
itu ? Agar saya dipecat ? Hahahaha. Malam ini Pak Dahlan senyum-senyum
tuh di belakang saya. Katanya : Teruskan perjuanganmu Nak ......
hehehehe.
Oh ya. Jawa Pos itu biru. PAN itu biru. Jadi wajar sekali kalau Jawa Pos
punya simpatisan PAN paling banyak. Simpatisan Mega juga ada tapi kumpul
di anak perusahaannya Jawa Pos : Rakyat Merdeka. PKB juga ada. PPP nggak
sedikit. Kalau Golkar ? Ya, meski sedikit tetap ada juga.
Udah ah, mau bobok !
Iwan Samariansyah
> Saya bingung juga. Apakah e-mail ini merupakan suatu kebijakan dari Glodok
> Standard sebagai suatu media, ataukah merupakan suatu pernyataan pribadi?
> Kalau ini merupakan suatu pernyataan Glodok Standard sebagi sebuah media,
> teramat sangat disayangkan. Kecuali Glodok Standart telah menempatkan
> dirinya sebagai suatu harian partisan yang anti-Mega. Lebih baik ini terus
> terang dinyatakan daripada pura-pura menjadi media umum tetapi wataknya
> partisan.
>
> Membaca opini Bung Gigih yang cenderung pro-Mega, saya kira apa yang
> diutarakan masih dalam batas-batas beropini dan berpolemik secara wajar.
> Tidak perlu Anda ejek dengan kata-kata pelecehan yang kurang sopan seperti
> di bawah ini. Jika Anda tidak setuju dengan Mega itu merupakan hak asasi
> Anda, tetapi kalau mau berpolemik, ya berpolemik lah dengan wajar. Atau ini
> memang merupakan kebijakan umum dan cara-cara dari awak Jawa Pos Grup yang
> konon turut kecewa berat dengan kekalahan telak Amien Rais atas PDIP?
>
> Saya merasa heran inikan sikap dewasa dari bangsa ini? Apalagi kalau
> wartawan pun ternyata punya sikap seperti ini? Setiap kali orang berbicara
> pro-Mega atau cenderung ke arah itu selalu dilecehkan dengan kata2 seperti
> di atas. Lihat saja, Bung Wimar yang mengatakan MPR harus memperhatikan
> aspirasi rakyat yang tercermin dalam hasil pemilu saja, habis diteror
> karena dianggap pernyataan itu pro-Mega. Bahkan tuduhan2 seperti
> mengkultuskan Mega pun selalu tak lupa diucapkan. Sekarang ini bahkan
> menganggap sikap pro Mega seolah-olah menganggap Mega seperti sebuah
> 'agama' baru.
>
> Padahal puluhan buku, sampai dengan diterbitkan komik khusus tentang Amien
> Rais sama sekali tidak dianggap seperti itu.
>
> Bagaimana kita bida dewasa, kalau setiap kali rang yang tidak sependapat
> dengan kita selalu dilecehkan bahkan diteror?
>
> At 01:02 29/06/99 +0700, Harian Glodok Standard <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> >Ck .. ck .. ck
> >
> >Heboh benar membela Megawati ! Satu hari dapat posting dari Gigih sampai
> >empat kali. Isinya : Maju Tak Gentar Membela Megawati !
> >
> >Fanatik ! Nggak kalah seperti agama ! Atau memang ada agama baru ?
> >Namanya Megawati, hehehe.
> >
> >
> >
> >
> >GIGIH NUSANTARA wrote:
> >>
> >> Formula
> >>
> >> Berbagai hujatan, olokan, sinisan, obral-ketakutan, seolah-olah, dan
> >> lain sebagainya, begitu banyak disebar di milis, kumpul-kumpul,
> >> ceramah, kalau ditimbang, lebih banyak dan berat yang mengarah ke
> >> PDI-Perjuangan (dhi. Megawati) di banding ke arah yang lain.
> >>
> >> Jika kita coba pelajari bagaimana bentuk hujatan, olokan, sinisan,
> >
>
> Daniel H.T.
>
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!