Anda makin tidak terkendali. Yang saya ingin ingatkan adalah salah
menggunakan nama institusi seperti itu untuk pendapat pribadi yang
sangat memihak. Akan kasihan teman-teman sekerja saudara lain, yang tak
seaspirasi namun tak bisa menjangkau komputer dan main internet.
Lebih-lebih jika itu akan mempengaruhi langkah bisnis institusi di mana
saudara dan teman-teman lain itu mencari nafkah.

Mungkin apa yang aku bilang ini berlebihan. Tetapi menjadi tidak
berlebihan kiranya, jika ternyata memang 'DIS sedang ada di belakang
saudara, dan menyarankan untuk meneruskan perjuangan', sehingga jelas
bagi saya, media apa yang selama ini saya baca.

Segera setelah saya membalas e-mail saudara ini akan saya reproduksi
balasan e-mail Anda ini agar lebih banyak orang tahu mengenai 'visi
politik Jawa Pos Grup' seperi yang saudara bilang 'Jawa Pos itu biru.
PAN itu biru. Jadi wajar sekali kalau Jawa Pos punya simpatisan PAN
paling banyak'. Sebuah penyederhanaan yang sangat keterlaluan untuk
sekelas 'wartawan JP' yang selama ini saya kagumi.

Dengan lebih banyak yang tahu soal 'visi resmi politik JP' tersebut,
saya berharap :

- menambah pelanggan, karena cocok
- berhenti berlangganan, karena tidak setuju (bukan tak cocok)
kebijakan partisan dari sebuah harian umum.

Sebaiknya sdr. Dahlan Iskan tak merasa dirinya terlalu tinggi, untuk
sekedar memberikan pernyataan mengenai 'Malam ini Pak Dahlan
senyum-senyum tuh di belakang saya. Katanya : Teruskan perjuanganmu Nak
...... hehehehe'. 

Saya tahu, bagaimana demokratisnya suasana di internal JP Grup. Saya
pernah blusukan juga di kantornya. Saya ingat betul, teriakan 'Dopping
!! Dopping !!' ketika Soeharto menyatakan dirinya bersedia jadi
presiden lagi, tahun 1992 lalu. Saya juga banyak baca memo-memo yang
ditempel di papan pengumuman di ruang redaksi mereka. Sebuah cerminan
demokrasi yang menyenangkan. Tetapi sebaik mereka keluar dengan nama
resmi, maka kepemihakan mereka tak aku lihat. Profesional sekali.

Sikap Anda sangat kekanak-kanakan, sangat ter-obsesi oleh sikap 'sak
enak-e' sdr. Dahlan Iskan seperti kebanyakan selebriti (tapi itu wajar,
dia memang orang besar sekali. Lha saudara?) Inilah yang saya
sayangkan. Jangan abaikan 'peringatan' saya, yang sebenarnya melihat
dari sudut pandang profesi semata.

Saran saya, pakailah alamat e-mail yang tidak pakai alamat perusahaan
seperti ini. Nanti membuat bingung untuk yang mau pasang iklan, lho.

GIGIH

--- Harian Glodok Standard <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Saya tegaskan ya Bung Daniel, Bung Gigih dan para
> pembela Megawati
> yang (mungkin) ikut tusuk jari nyumbang darah ....
> 
> Sekali lagi, apa yang saya tulis adalah komentar
> pribadi saya. Dan dari
> dulu anda berdua kan sudah tahu kalau saya memang
> pribadi yang ndak suka
> Megawati. Mosok anda berdua ndak perhatikan sih
> posting-posting saya
> terdahulu. 
> 
> Mungkin alamat email ini yang bikin anda bingung ya
> ? Hahahaha.
> 
> Ya memang ini alamat email kantor saya yang baru.
> Dulu biasanya saya
> pakai alamat [EMAIL PROTECTED] Dan saya sudah
> unsubscribe dengan alamat
> itu. Khusus untuk domain indoglobal.com, saya
> subscribe dengan alamat
> standard ini.
> 
> Sekali lagi Bung,
> Ini opini pribadi saya, nggak ada sangkut pautnya
> dengan lembaga saya.
> Kecuali kalau memang anda juga melontarkan opini di
> forum ini mewakili
> lembaga atau kelompok tertentu di belakang anda.
> Kenapa anda mesti
> curiga dengan itu ?
> 
> Kalau kolega saya Mas Satrio Arismunandar juga bisa
> menulis dengan
> alamat drnet (dari Majalah DR), kenapa saya ndak
> boleh ? 
> 
> Jadi Bung Daniel dan Bung Gigih, teruskan tusuk jari
> anda sampai
> berdarah buat memperjuangkan Megawati. Saya sedari
> semula kan sudah
> menyerukan agar kita jadi oposisi saja !
> 
> So, hidup Oposisi !
> 
> Ck, ck, ck. Sampai ditembuskan ke [EMAIL PROTECTED]
> (Dahlan Iskan) dan
> [EMAIL PROTECTED] segala macam. Memangnya apa yang
> anda harapkan dengan
> itu ? Agar saya dipecat ? Hahahaha. Malam ini Pak
> Dahlan senyum-senyum
> tuh di belakang saya. Katanya : Teruskan
> perjuanganmu Nak ......
> hehehehe.
> 
> Oh ya. Jawa Pos itu biru. PAN itu biru. Jadi wajar
> sekali kalau Jawa Pos
> punya simpatisan PAN paling banyak. Simpatisan Mega
> juga ada tapi kumpul
> di anak perusahaannya Jawa Pos : Rakyat Merdeka. PKB
> juga ada. PPP nggak
> sedikit. Kalau Golkar ? Ya, meski sedikit tetap ada
> juga.
> 
> Udah ah, mau bobok !
> 
> 
> 
> Iwan Samariansyah 
> 
> > Saya bingung juga. Apakah e-mail ini merupakan
> suatu kebijakan dari Glodok
> > Standard sebagai suatu media, ataukah merupakan
> suatu pernyataan pribadi?
> > Kalau ini merupakan suatu pernyataan Glodok
> Standard sebagi sebuah media,
> > teramat sangat disayangkan. Kecuali Glodok
> Standart telah menempatkan
> > dirinya sebagai suatu harian partisan yang
> anti-Mega. Lebih baik ini terus
> > terang dinyatakan daripada pura-pura menjadi media
> umum tetapi wataknya
> > partisan.
> > 
> > Membaca opini Bung Gigih yang cenderung pro-Mega,
> saya kira apa yang
> > diutarakan masih dalam batas-batas beropini dan
> berpolemik secara wajar.
> > Tidak perlu Anda ejek dengan kata-kata pelecehan
> yang kurang sopan seperti
> > di bawah ini. Jika Anda tidak setuju dengan Mega
> itu merupakan hak asasi
> > Anda, tetapi kalau mau berpolemik, ya berpolemik
> lah dengan wajar. Atau ini
> > memang merupakan kebijakan umum dan cara-cara dari
> awak Jawa Pos Grup yang
> > konon turut kecewa berat dengan kekalahan telak
> Amien Rais atas PDIP?
> > 
> > Saya merasa heran inikan sikap dewasa dari bangsa
> ini? Apalagi kalau
> > wartawan pun ternyata punya sikap seperti ini?
> Setiap kali orang berbicara
> > pro-Mega atau cenderung ke arah itu selalu
> dilecehkan dengan kata2 seperti
> > di atas. Lihat saja, Bung Wimar yang mengatakan
> MPR harus memperhatikan
> > aspirasi rakyat yang tercermin dalam hasil pemilu
> saja, habis diteror
> > karena dianggap pernyataan itu pro-Mega. Bahkan
> tuduhan2 seperti
> > mengkultuskan Mega pun selalu tak lupa diucapkan.
> Sekarang ini bahkan
> > menganggap sikap pro Mega seolah-olah menganggap
> Mega seperti sebuah
> > 'agama' baru.
> > 
> > Padahal puluhan buku, sampai dengan diterbitkan
> komik khusus tentang Amien
> > Rais sama sekali tidak dianggap seperti itu.
> > 
> > Bagaimana kita bida dewasa, kalau setiap kali rang
> yang tidak sependapat
> > dengan kita selalu dilecehkan bahkan diteror?
> > 
> > At 01:02 29/06/99 +0700,  Harian Glodok Standard
> <[EMAIL PROTECTED]>
> >  wrote:
> > >Ck .. ck .. ck
> > >
> > >Heboh benar membela Megawati ! Satu hari dapat
> posting dari Gigih sampai
> > >empat kali. Isinya : Maju Tak Gentar Membela
> Megawati !
> > >
> > >Fanatik ! Nggak kalah seperti agama ! Atau memang
> ada agama baru ?
> > >Namanya Megawati, hehehe.
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >GIGIH NUSANTARA wrote:
> > >>
> > >> Formula
> > >>
> > >> Berbagai hujatan, olokan, sinisan,
> obral-ketakutan, seolah-olah, dan
> > >> lain sebagainya, begitu banyak disebar di
> milis, kumpul-kumpul,
> > >> ceramah, kalau ditimbang, lebih banyak dan
> berat yang mengarah ke
> > >> PDI-Perjuangan (dhi. Megawati) di banding ke
> arah yang lain.
> > >>
> > >> Jika kita coba pelajari bagaimana bentuk
> hujatan, olokan, sinisan,
> > >
> > 
> > Daniel H.T.
> > 
> >
>
______________________________________________________________________
> > To subscribe, email:
> [EMAIL PROTECTED]
> > To unsubscribe, e-mail:
> [EMAIL PROTECTED]
> > 
> > Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> 
>
______________________________________________________________________
> To subscribe, email:
> [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail:
> [EMAIL PROTECTED]
> 
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 

_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke