No .. no ...

Profesi itu ada etikanya
Dan seorang wartawan harus obyektif dan mendasarkan tulisannya pada
fakta-fakta.

Apa yang saya tulis disini adalah opini dan bukan fakta.
Harap dibedakan satu sama lain.
Dan harap jangan salah tangkap,

Thanks atas atensi anda,

Iwan

Jopie J Bambang wrote:
> 
> Bagus Bung Iwan...
> Tetaplah berfikir obyektif.
> 
> Posting saya untuk anda yang lalu lebih menyoroti anda sebagai wartawan -
> bukan alamat e-mail anda.
> Jika anda sebagai pribadi tidak suka (bukan antipati - seperti anda tulis)
> Megawati & begitu kentara dalam setiap posting anda yang acapkali sinis
> apakah anda akan tetap bisa bersikap obyektif saat berperan sebagai
> wartawan?
> 
> -----Original Message-----
> 
> Mung kin anda benar !
> 
> Saya terlalu capek dan terlalu stress !
> Makasih !
> 
> Tetap berfikir merdeka !
> 
> Iwan
> 
> Daniel H.T. wrote:
> >
> > At 18:02 30/06/99 +0700, Harian Glodok Standard <[EMAIL PROTECTED]>
> >  wrote:
> >
> > Senang juga berdebat dengan Anda, Bung! Kalau nggak ada orang seperti Anda
> > suasana milis ini bisa rada datar.
> >
> > >Catat ya Bung :
> > >
> > >Saya tidak antipati terhadap sesuatu !
> > >Kalau persepsi itu yang anda tangkap, itu urusan anda
> > >Saya cuma tidak suka denga Megawati yang jadi Presiden.
> > >Dan itu tanggung jawab saya pribadi !
> >
> > Anda bilang saya tidak antipati terhadap siapapun, kemudian diteruskan
> > "saya tidak suka dengan Megawati ..." Nah, kalau "tidak suka" itu apa
> bukan
> > antipati juga?
> >
> > Memang itu tanggung jawab Anda pribadi, kami harus menghargainya. Sama
> > halnya Anda sepatutnya menghargai sikap dan pendirian kami.
> >
> > Saya ingin tanya juga, apakah sampai ada diterbitkan buku komik khusus
> > Amien Rais itu bukan mengarah kepada pengkultusan individu juga? Anda
> pasti
> > menjawabnya "tidak!" Karena yang dijadikan komik khusus itu Amien Rais.
> > Coba, kalau Mega ...?
> >
> > >
> > >Dan anda benar, saya tidak menangani rubrik apapun di Jawa Pos.
> > >Saya mengasuh hampir semua rubrik di Glodok Standard, koran bayi yang
> > >baru berusia satu bulan !
> > >Di sela-sela kerja yang meletihkan, saya ikutan milis ini.
> >
> > Ada dua kemungkinan yang membuat Anda seperti ini:
> > - Karena hampir menjadi "penguasa tunggal" sebagai pengasuh hampir semua
> > rubrik di Glodok Standard (GS), Anda cenderung bersikap "diktator." Merasa
> > paling berkuasa di GS
> > maka Anda merasa berhak mengatasnamakan media tersebut. Anda tidak bisa
> > membedakan antara GS sebagai sebuah institusi media dengan Anda sebagai
> > pribadi. Untung saya nggak langganan GS, kalau langganan melihat
> > pengasuhnya seperti ini saya mungkin langsung berhenti langganan.:)
> >
> > - Anda terlalu banyak kerja (over). Sehingga capek.
> >
> > >
> > >Tapi posting anda itu tidak akan mengubah sikap saya !
> > >Saya tidak suka Megawati.
> >
> > Sekali lagi, di atas tadi Anda mengatakan "saya tidak anti siapapun." Lalu
> > apa bedanya "saya tidak suka Megawati" dengan "saya antipati dengan
> Megawati?"
> >
> > Saya kira bukan maksud saya dan teman2 untuk mengubah pendirian Anda. Sama
> > sekali tidak. Yang kami pertanyakan adalah kok bisa-bisanya Anda
> > mengatasnamakan, atau mungkin lebih tepat menggunakan nama institusi untuk
> > e-mail pribadi Anda? Sehingga asumsi orang adalah itu pendapat institusi
> > tersebut (Jawa Pos Grup). Padahal sebagai sebuah media umum seharusnya
> > memberitakan secara obyektif. Kecuali berpihak pada rakyat, berpihak
> kepada
> > keadilan. Tetapi bukan berpihak dalam berpolitik (berpihak pada salah satu
> > partai dan mengecam partai yang lain). Lain hal lagi kalau itu pribadi
> > masing2 wartawannya. Kecuali koran Anda adalah koran partisan. Seperti
> > tabloid Amanah (PAN), atau Demokrat (PDIP.
> >
> > >Dan maaf untuk Bung Martin, saya terlalu sibuk untuk punya dua email.
> > >Apalagi yang beralamatkan di yahoo atau hotmail.
> > >Memang ada etika milis yang melarang orang pakai alamat email perusahaan
> > >untuk keperluan posting pribadi ?
> > >Kalau memang ada, beritahukan saya !
> >
> > Pertanyaan buat Anda, pantaskah Anda menggunakan nama GS untuk kepentingan
> > pribadi Anda. Misalnya dengan memakai  kop surat GS, stempel GS untuk
> > membeli/kredit barang-barang keperluan pribadi Anda?
> >
> > Saya harap Anda tidak seperti Ghalib (bukan soal korupsinya), yang tidak
> > merasa bersalah untuk membuka rekening organisasi (PGI) dengan memakai
> nama
> > pribadinya.
> >
> > Apakah pantas seorang pejabat menggunakan kop surat dan stempel
> > departemennya untuk kepentingan2 pribadinya?
> >
> > >Ringkas kata,
> > >Nggak usah ribut apa kata saya !
> > >Saya cuma sendirian disini. Dan teman di sebelah saya bahkan pemuja
> > >Megawati. Tetapi kami berdua tengah malam sering ngopi sama-sama ....
> > >Jadi nggak usah terlalu kebakaran jenggot seperti Gigih Nusantara, orang
> > >yang begitu gigih memuja Megawati dan menghujat Amien Rais
> > >habis-habisan.
> >
> > Lho, kalau Anda memuja Amien  Rais dan menghujat Mega habis-habisan kok
> > boleh-boleh saja?
> >
> > Kalau suatu ketika kita minum kopi bersama, Anda bersedia nggak?
> >
> > >
> > >Edan !
> > >
> >
> > Lucunya, saya juga menganggap Anda edan.
> >
> > ---
> > P.S.
> > Soal wartawan D&R, saya belum pernah baca tuh postingnya.
> >
> > Daniel H.T.
> >
> > ______________________________________________________________________
> > To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> 
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> 
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke