-----Original Message-----
From:   Abdur Rahim [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Sent:   04 Agustus 1999 5:42
To:     [EMAIL PROTECTED]
Cc:     [EMAIL PROTECTED]
Subject:        Re: [Kuli Tinta] Pendapat Rakyat Ingusan


> PDIP menang pemilu. Sudah pasti memang demikian, karena faktanya suara
> yang diraih PDIP di Pemilu memang yang terbesar. Argumen apapun akan
> mentah berhadapan dengan fakta ini. Dan rasanya tidak ada politisi yang
> menyangkal fakta ini, kecuali memang dia berani 'mati'.
> 
> Megawati menjadi presiden. Hal ini bukan suatu implikasi dari menangnya
> PDIP di Pemilu. Sayang memang Pemilu kita hanya memilih anggota MPR, bukan
> memilih Presiden (suka atau tidak demikianlah faktanya). Namun dengan
> persentase suara yang paling banyak, kemungkinan Megawati menjadi presiden
> tentu juga paling besar. Tapi tidak tertutup kemungkinan Megawati gagal
> menjadi presiden. Dan hal ini tidak dapat dikatakan pemaksaan kehendak.
> Sebenarnya lidah ini malas mengatakan bahwa hal ini konstitusional (bosen
> banget), tapi memang demikian halnya. Fakta ini juga belum bisa diubah.
> 
> Apapun yang terjadi hendaknya semua pihak mempersiapkan diri dan
> lingkungannya. Menjadi presiden ataupun menjadi oposisi toh katanya sama2
> terhormat, & sama2 bisa mengabdi pada bangsa ini. Jadi yang punya akses ke
> mana2, baik ke kalangan elite maupun ke masyarakat, tolong persiapkan
> mereka untuk menerima kekalahan maupun kemenangan dalam pemilihan
> Presiden nanti. Bukankah ada do'anya (siapa ya, udah lupa gue), "terhadap
> segala sesuatu, jadikan kita bersyukur".
> 
> Jadi stop aja pembicaraan 33,3 % , tunggu SU MPR dan terima hasilnya. Atau
> mungkin pembicaraan 33,3 % di sini bagian dari psy war, atau strategi
> kampanye salah satu capres. Rasanya tidak. So.... udah lah, dibolak-balik
> memang demikian faktanya. Kalau kalangan elite masih melakukan manuver2,
> hal itu memang strategi mereka mengkampanyekan capres tertentu. 
> Kalau kita memang bagian dari strategi itu, pantes aja diskusi masalah
> 33,3 persen tidak kunjung berakhir di milis ini.
> 
> beDoer 
> ----------------------------------------------------------------------
> 

Elit2 politik, terutama dari poros tengah itu kan tetap berpandangan bahwa kemenangan 
PDI-P dalam Pemilu, bukan otomatis bahwa Mega harus jadi Presiden krn pertarungan
masih ada satu ronde lagi, yaitu di MPR.  Pemilu adalah satu hal dan SU MPR adalah 
hal lain.  Keduanya tidak berkaitan secara konsekuensial.  Jadi upaya untuk
pertarungan di MPR ini memang dimungkinkan oleh konstitusi, yaitu UUD 45 
itu sendiri.

Ironisnya, Amien Rais dkk. yang katanya ngotot memperjuangkan amandemen UUD 45 ternyata
memakai UUD 45 yg nota bene kata mereka tidak demokratis itu, yg hendak mereka 
amandemen,
ketika dipandang menguntungkan posisi mereka.  Kalau UUD 45 tsb. tidak menguntungkan
posisi mereka, saya yakin, AR akan berkata lain.  

Ironis sekali .......................

______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke