Rekan netters,
Dalam permasalahan ini nampaknya Bung Daniel dan Bung Cosmas harus dengan
tenang dan hati tetap bersih tanpa melihat sesuatu dengan curiga dan apa
lagi apriori, karena melihat namanya 'Poros Tengah' apa lagi dengan
actionnya tentu yang sudah terbayangkan gerakan untuk menjegal Megawati
tentunya pikiran ini harus dibuang jauh-jauh, pemikiran ini saya tangkap
dari hasil diskusi dengan teman-teman pemilih PDI.P. Pada prinsipnya action
yang mereka lakukan tidak buruk seperti yang anda bayangkan pada dasarnya
semuanya tersebut untuk kebaikan bangsa dan negara ini.
Saya pikir action apapun yang dilakukan oleh Kubu Golkar, Poros Tengah
maupun Kubu Megawati selama masih dalam koridor konsititusi dan
perundangan-undangan dalam mencalonkan Presidennya tentunya sah-sah saja,
kecuali sudah diluar konsitutusi akan kita lawan secara bersama-sama.
Dalam hal berkenegaraan pemilihan presiden baik itu menang atau kalah
adalah masalah yang kecil dan tidak perlu dipertentangkan apalagi sampai
dengan mengorbankan darah apa lagi nyawa karena ada yang lebih penting yaitu
bagaimana meningkatkan kesejahteaan/kemakmuran serta meningkatkan kwalitas
bangsa ini agar mampu bersaing dengan bangsa lain.
Selama ini semua orang ini berpikir dan mengaku dirinya reformis padahal
kenyataanya sangat jauh dari reformis karena masih terlihat adanya unsur
pemaksaan kehendak, pada hal dalam berdemokrasi yang sehat tentunya kita
menghargai perbedaan dan pendapat orang lain.
Salam
Izrin Agus
----------
From: Cosmas Damianus Tufan
To: '[EMAIL PROTECTED]'
Cc: '[EMAIL PROTECTED]'
Subject: RE: [Kuli Tinta] Pendapat Rakyat Ingusan
Date: Wednesday, August 04, 1999 10:15AM
-----Original Message-----
From: Abdur Rahim [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: 04 Agustus 1999 5:42
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [Kuli Tinta] Pendapat Rakyat Ingusan
> PDIP menang pemilu. Sudah pasti memang demikian, karena faktanya suara
> yang diraih PDIP di Pemilu memang yang terbesar. Argumen apapun akan
> mentah berhadapan dengan fakta ini. Dan rasanya tidak ada politisi yang
> menyangkal fakta ini, kecuali memang dia berani 'mati'.
>
> Megawati menjadi presiden. Hal ini bukan suatu implikasi dari menangnya
> PDIP di Pemilu. Sayang memang Pemilu kita hanya memilih anggota MPR, bukan
> memilih Presiden (suka atau tidak demikianlah faktanya). Namun dengan
> persentase suara yang paling banyak, kemungkinan Megawati menjadi presiden
> tentu juga paling besar. Tapi tidak tertutup kemungkinan Megawati gagal
> menjadi presiden. Dan hal ini tidak dapat dikatakan pemaksaan kehendak.
> Sebenarnya lidah ini malas mengatakan bahwa hal ini konstitusional (bosen
> banget), tapi memang demikian halnya. Fakta ini juga belum bisa diubah.
>
> Apapun yang terjadi hendaknya semua pihak mempersiapkan diri dan
> lingkungannya. Menjadi presiden ataupun menjadi oposisi toh katanya sama2
> terhormat, & sama2 bisa mengabdi pada bangsa ini. Jadi yang punya akses ke
> mana2, baik ke kalangan elite maupun ke masyarakat, tolong persiapkan
> mereka untuk menerima kekalahan maupun kemenangan dalam pemilihan
> Presiden nanti. Bukankah ada do'anya (siapa ya, udah lupa gue), "terhadap
> segala sesuatu, jadikan kita bersyukur".
>
> Jadi stop aja pembicaraan 33,3 % , tunggu SU MPR dan terima hasilnya. Atau
> mungkin pembicaraan 33,3 % di sini bagian dari psy war, atau strategi
> kampanye salah satu capres. Rasanya tidak. So.... udah lah, dibolak-balik
> memang demikian faktanya. Kalau kalangan elite masih melakukan manuver2,
> hal itu memang strategi mereka mengkampanyekan capres tertentu.
> Kalau kita memang bagian dari strategi itu, pantes aja diskusi masalah
> 33,3 persen tidak kunjung berakhir di milis ini.
>
> beDoer
> ----------------------------------------------------------------------
>
Elit2 politik, terutama dari poros tengah itu kan tetap berpandangan bahwa
kemenangan
PDI-P dalam Pemilu, bukan otomatis bahwa Mega harus jadi Presiden krn
pertarungan
masih ada satu ronde lagi, yaitu di MPR. Pemilu adalah satu hal dan SU MPR
adalah
hal lain. Keduanya tidak berkaitan secara konsekuensial. Jadi upaya untuk
pertarungan di MPR ini memang dimungkinkan oleh konstitusi, yaitu UUD 45
itu sendiri.
Ironisnya, Amien Rais dkk. yang katanya ngotot memperjuangkan amandemen UUD
45 ternyata
memakai UUD 45 yg nota bene kata mereka tidak demokratis itu, yg hendak
mereka amandemen,
ketika dipandang menguntungkan posisi mereka. Kalau UUD 45 tsb. tidak
menguntungkan
posisi mereka, saya yakin, AR akan berkata lain.
Ironis sekali .......................
<<File Attachment: ATT58874.txt>>
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!