Nggak relevan? Relevan sekali dong. UUD bilang kekuasaan tertinggi ditangan
rakyat dan dilaksanakan melalui MPR. Jadi MPR harus sadar amanat itu dari
rakyat. Bahwa mekanisme perwakilan menghasilkan hanya 60% suara rakyat
(langsung) di MPR, ini harus disadari sebagai pembiasan (istilah halus dari
manipulasi atau akal akalan), dan tidak menjadi pembenar untuk membuat
keputusan yang berbeda dari amanat rakyat sebagaimana yang tercermin dalam
Pemilu. Apa Cak Nur bilang ketika menerima Bintang Jasa? Itulah tatacara
demokrasi yang lazim didunia, seperti berulang saya postingkan disini
sebelumnya.
Nah karena jebakan 60% itu nggak bisa dihindari (terlanjur disahkan oleh
Golkar dalam posisinya sebagai pemegang suara mayoritas), maka PDIP ikut
aturan mainnya, walaupun tahu bahwa konsep itu sangat berbeda dengan konsep
demokrasi. Kalau kata kuncinya Matematika, maka jangan salahkan kalau PDIP
ikutan bermain angka. Padahal matematika bukan semata permainan angka. Di
Indonesia, demokrasi bukan berarti kekuasaan ditangan rakyat, tetapi rakyat
hanya 60%kuasa, yang 40% diatur atur. Dan itulah cara Golkar mengamankan
kekuasaannya, karena sadar benar sudah sejak lama nggak disukai rakyat. Jadi
aturannya yang dimanipulasi.
Ketika PDIP diam, Golkar offensif dengan melobi banyak parpol, selain
dibelakang layar mengatur kesiapan UD dan UG melalui berbagai network.
Tampaknya strategi ini save banget. Dengan dibungkus wadah silaturahmi,
semua tokoh Parpol dengan takzimnya menghadap Hbb dan berangkulan dengan
Akbar Tanjung. Aman dah, Menteri ditangan...
Tapi begitu Mega bicara, mulai dah banyak yang belingsatan lagi. Ada yang
bilang aroganlah, nggak ada yang barulah, dibuatkan orang lainlah. Apa
komentar ini relevan? Lalu mengentallah Poros Tengah, yang kreator aslinya
Hamzah Haz dengan segala justifikasi keislamannya (sensitive case!).
Dengan memanfaatkan kegalauan Mas Amien, dimainkanlah sedikit trik. Sekali
lagi Mas Amien termakan, maklum dia baru dalam tingkatan politisi kampus.
Dia jadi paling vokal, malah secara definitip mencapreskan Gus Dur, orang
yang sejak lama disinisinya.
Gus Dur nggak mau kalah kelas. Dengan pura pura polos, dia menerima fait a
compli Barisan Muda PAN, sementara Matori disetel pada frekuensi lain.
Dengan langkah kuda Gus Dur ini, banyak pihak berpikir : PDIP habislah
sudah. Poros Tengah merasa punya bargaining position lagi untuk power
sharing dengan Golkar, atau kalau beruntung mengipas ketegangan PDIP dengan
Golkar, malah bisa melaju membentuk Pemerintahan. Kemungkinan terbesar
Presidennya adalah Mas Amien. Inilah kayaknya yang tergambar dibenak Mas
Amien sehingga dengan mudah termakan jebakan Hz.
Ternyata Mega maju dengan jurus baru, bertemu Akbar. Padahal pertemuan itu
nggak ada nilainya apa-apa, juga bukan ancang ancang koalisi. Malah dalam
pidatonya Mega tetap cuekin Akbar, walaupun Akbar sudah begitu begging for
coalition, karena sudah rindu menjadi Menteri lagi. Syukur bisa Wapres. Tapi
dasar poltik. Diluar gemanya luar biasa, dan mulailah orang sadar bahwa
kalau mas Amien bisa kesana kemari sesukanya, bukan tidak mungkin, kalau
dipepet terus Mega juga bisa menggandeng Golkar dengan segala kesiapan UD
dan UGnya. Soal Hbb, kecillah. Ditembak dengan kasus Ambon, Aceh, Timtim,
Bank Bali, Pertamina dsb tamatlah dia. Belum lagi kalau kasus HMS dan Ghalib
diurai total.
Nah, limbung lagilah Poros Tengah, karena prospek bargaining positionnya
terpuruk total. Sekedar penutup malu, dia menyatakan tekadnya siap menjadi
oposisi (yang kalau mengamati actionnya selama ini, paling tidak
diminatinya). Kalau memang benar mau jadi oposisi, ngapain selama ini
kelimpungan kesana kemari? Duduk manis saja sudah pasti jadi oposisi
sendiri. Lagian seberapa effektip oposisinya kalau PDIP bersatu dengan
Golkar? Aturan mana yang tidak membolehkan? Poros mana sih yang bisa
mengalahkan gabungan PDIP dan Golkar di MPR dan DPR sekalipun? Dan ini pasti
obsesi terindah fraksi TNI.
Tetapi nampaknya Mega tidak senaif itu. Mega nampaknya tetap berharap
skenario semula, PDIP+PKB+PAN plus beberapa parpol kecil lainnya, sementara
Golkar dipersilakan bergandengan dengan PPP dan sedikit aliansi cair dengan
PBB, PK plus Partai "Islam" lainnya. Biar MPR menentukan siapa memerintah,
siapa oposisi. Dengan demikian Pemerintah tidak memegang keunggulan suara
mutlak di DPR, yang mengakibatkan lemahnya kontrol. Dan didalam Pemerintahan
sendiri tetap terbentuk mozaik, yang menjadi jaminan untuk tetap berada
dijalan yang lurus. What is the name of the game? Morale.
Dengan konstelasi sekarang, peran Mas Amien tetap sentral, hanya variant
yang dipegangnya tak sebebas dulu lagi. Maklum sudah hampir sampai akhir
permainan. Dia masih bebas memilih posisi, tetapi kalau salah pilih, sudah
jelas pula risiko yang bakal diterima. Tidak seperti dulu, limbung sana
limbung sini selalu dimaklumi.
Ada skenario yang lain lebih menarik lagi, dan karena itu saya mendukung
agar Poros Tengah jalan terus. Tetapi sekali lagi, alasan dukungan saya
sementara saya keep dulu sampai SU MPR selesai.
Tentang tidak pahamnya Mega pada bagian mana UUD harus diamandemen, rasanya
ini cuma masalah active listening. Dari pidatonya (masih dimuat lengkap di
detik.com), saya menangkap bahwa bagi PDIP, perobahan UUD harus tetap
ditempatkan sebagai the last resort. Kalau masih ada upaya lain, pakai cara
lain dulu, kalau memang tak terhindarkan, baru boleh robah UUD. Jadi jangan
terlalu gampang merobah UUD. Bukankah ini sikap Negarawan dengan
pertimbangan luas termasuk menjaga citra Indonesia dimata dunia? Bahwa itu
dicurigai mensakralkan UUD, ya itu boleh saja. Cuma kalau UUD menjadi
terlalu sering dirubah, apa kata dunia????
Have a nice week end.
Yap
(apakah saya mirip humas pdip? Nggak dan nggak bakalan la yaooo)
>From: "Abdullah Hasan" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [Kuli Tinta] Poros bingungnya Amien Rais....? : siapa yang
>bingung ?
>Date: Sat, 14 Aug 1999 22:00:10 +0700
>
>
>From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
>"..Tentang ujian dan debat sebelum pengambilan suara, pertanyaannya apakah
>orang yang pandai debat dan bagus nilai ujiannya dijamin pasti lebih mampu
>menjadi Presiden? Kalau ya, mengapa banyak bintang kelas yang hanya
>mediocre
>saja dalam kehidupan nyata dimasyarakat? Apakah parameter dan materi ujian
>dan perdebatan ini dijamin sesuai dengan aspirasi rakyat? Siapa yang
>menetapkan? Apakah mereka bebas kepentingan individu atau kelompok? Apakah
>ujian dan debat ini lebih tinggi kualitasnya daripada Pemilu?
>
>Bung Sam, ajarin kite dooong......"
>
>Bung Yap, sorry ya ikutan nongol , biar tambah ramai......
>Pertanyaan yang mendasar adalah apakah kita masih mau memakai aturan main
>yang masih ada?
>Atau kita mau membuat variasi menambah dan membuat aturan baru ditengah
>jalan , karena alasan ini dan itu ?. Pertanyaan anda tentang mana yang
>lebih
>tinggi kwalitasnya daripada pemilu sebetulnya samasekali tidak relevan.
>Pemilu pilih apa, yang lain ( MPR ) pilih apa ?
>
>Dalam urusan ini, orang bakal terpaksa memasukkan PDIP kedalam Poros
>Bingung. Mega kok masih tanya-tanya bagian mana dari UUD 45 yang harus
>dibetulkan. Barangkali Bung Iwans tahu caranya bagaimana memberi info Mega
>soal ini ? . Porosnya Amin amat waras dalam bidang itu.
>
>
>
>
>
>
>______________________________________________________________________
>If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
>To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!