Ahhh..... Wiranto.....

Apa sih prestasinya? Belajar sejarah dong.....

Silahkan membuat tabulasi mengenai karakteristik mantan ajudan Pak Harto.
Silahkan membuat generalisasi dan kemudian menurunkannya ke dalam sebuah
konklusi.

----- Original Message -----
From: Sams <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 15 August 1999 16:07
Subject: Re: [Kuli Tinta] Poros bingungnya Amien Rais....? : siapa yang
bingung ?


Sekedar setor informasi secret !

TNI-nya Wiranto sepakat mendukung Golkar. Ini berarti PDIP BUKAN
pemenang Pemilu. Pemenang Pemilu adalah Golkar. Bukan dari segi moral
politik lho ya, tetapi dari sisi jumlah suara. Soalnya kalau PDIP
suaranya cuma 154, sedangkan Golkar (120) + TNI (37) maka suaranya sudah
157. Belum lagi PKB alias NU yang secara tradisional selalu bergandeng
tangan dengan tentara.

Jadilah PDIP oposisi lagi, dan mungkin bergabung dengan Poros Tengahnya
Amien Rais.

Lucu ya ?

S a m

"Yap C. Young" wrote:
>
> Nggak relevan? Relevan sekali dong. UUD bilang kekuasaan tertinggi
ditangan
> rakyat dan dilaksanakan melalui MPR. Jadi MPR harus sadar amanat itu dari
> rakyat. Bahwa mekanisme perwakilan menghasilkan hanya 60% suara rakyat
> (langsung) di MPR, ini harus disadari sebagai pembiasan (istilah halus
dari
> manipulasi atau akal akalan), dan tidak menjadi pembenar untuk membuat
> keputusan yang berbeda dari amanat rakyat sebagaimana yang tercermin dalam
> Pemilu. Apa Cak Nur bilang ketika menerima Bintang Jasa? Itulah tatacara
> demokrasi yang lazim didunia, seperti berulang saya postingkan disini
> sebelumnya.
>
> Nah karena jebakan 60% itu nggak bisa dihindari (terlanjur disahkan oleh
> Golkar dalam posisinya sebagai pemegang suara mayoritas), maka PDIP ikut
> aturan mainnya, walaupun tahu bahwa konsep itu sangat berbeda dengan
konsep
> demokrasi. Kalau kata kuncinya Matematika, maka jangan salahkan kalau PDIP
> ikutan bermain angka. Padahal matematika bukan semata permainan angka. Di
> Indonesia, demokrasi bukan berarti kekuasaan ditangan rakyat, tetapi
rakyat
> hanya 60%kuasa, yang 40% diatur atur. Dan itulah cara Golkar mengamankan
> kekuasaannya, karena sadar benar sudah sejak lama nggak disukai rakyat.
Jadi
> aturannya yang dimanipulasi.
>
> Ketika PDIP diam, Golkar offensif dengan melobi banyak parpol, selain
> dibelakang layar mengatur kesiapan UD dan UG melalui berbagai network.
> Tampaknya strategi ini save banget. Dengan dibungkus wadah silaturahmi,
> semua tokoh Parpol dengan takzimnya menghadap Hbb dan berangkulan dengan
> Akbar Tanjung. Aman dah, Menteri ditangan...
>
> Tapi begitu Mega bicara, mulai dah banyak yang belingsatan lagi. Ada yang
> bilang aroganlah, nggak ada yang barulah, dibuatkan orang lainlah. Apa
> komentar ini relevan? Lalu mengentallah Poros Tengah, yang kreator aslinya
> Hamzah Haz dengan segala justifikasi keislamannya (sensitive case!).
>
> Dengan memanfaatkan kegalauan Mas Amien, dimainkanlah sedikit trik. Sekali
> lagi Mas Amien termakan, maklum dia baru dalam tingkatan politisi kampus.
> Dia jadi paling vokal, malah secara definitip mencapreskan Gus Dur, orang
> yang sejak lama disinisinya.
>
> Gus Dur nggak mau kalah kelas. Dengan pura pura polos, dia menerima fait a
> compli Barisan Muda PAN, sementara Matori disetel pada frekuensi lain.
> Dengan langkah kuda Gus Dur ini, banyak pihak berpikir : PDIP habislah
> sudah. Poros Tengah merasa punya bargaining position lagi untuk power
> sharing dengan Golkar, atau kalau beruntung mengipas ketegangan PDIP
dengan
> Golkar, malah bisa melaju membentuk Pemerintahan. Kemungkinan terbesar
> Presidennya adalah Mas Amien. Inilah kayaknya yang tergambar dibenak Mas
> Amien sehingga dengan mudah termakan jebakan Hz.
>
> Ternyata Mega maju dengan jurus baru, bertemu Akbar. Padahal pertemuan itu
> nggak ada nilainya apa-apa, juga bukan ancang ancang koalisi. Malah dalam
> pidatonya Mega tetap cuekin Akbar, walaupun Akbar sudah begitu begging for
> coalition, karena sudah rindu menjadi Menteri lagi. Syukur bisa Wapres.
Tapi
> dasar poltik. Diluar gemanya luar biasa, dan mulailah orang sadar bahwa
> kalau mas Amien bisa kesana kemari sesukanya, bukan tidak mungkin, kalau
> dipepet terus Mega juga bisa menggandeng Golkar dengan segala kesiapan UD
> dan UGnya. Soal Hbb, kecillah. Ditembak dengan kasus Ambon, Aceh, Timtim,
> Bank Bali, Pertamina dsb tamatlah dia. Belum lagi kalau kasus HMS dan
Ghalib
> diurai total.
>
> Nah, limbung lagilah Poros Tengah, karena prospek bargaining positionnya
> terpuruk total. Sekedar penutup malu, dia menyatakan tekadnya siap menjadi
> oposisi (yang kalau mengamati actionnya selama ini, paling tidak
> diminatinya). Kalau memang benar mau jadi oposisi, ngapain selama ini
> kelimpungan kesana kemari? Duduk manis saja sudah pasti jadi oposisi
> sendiri. Lagian seberapa effektip oposisinya kalau PDIP bersatu dengan
> Golkar? Aturan mana yang tidak membolehkan? Poros mana sih yang bisa
> mengalahkan gabungan PDIP dan Golkar di MPR dan DPR sekalipun? Dan ini
pasti
> obsesi terindah fraksi TNI.
>
> Tetapi nampaknya Mega tidak senaif itu. Mega nampaknya tetap berharap
> skenario semula, PDIP+PKB+PAN plus beberapa parpol kecil lainnya,
sementara
> Golkar dipersilakan bergandengan dengan PPP dan sedikit aliansi cair
dengan
> PBB, PK plus Partai "Islam" lainnya. Biar MPR menentukan siapa memerintah,
> siapa oposisi. Dengan demikian Pemerintah tidak memegang keunggulan suara
> mutlak di DPR, yang mengakibatkan lemahnya kontrol. Dan didalam
Pemerintahan
> sendiri tetap terbentuk mozaik, yang menjadi jaminan untuk tetap berada
> dijalan yang lurus. What is the name of the game? Morale.
>
> Dengan konstelasi sekarang, peran Mas Amien tetap sentral, hanya variant
> yang dipegangnya tak sebebas dulu lagi. Maklum sudah hampir sampai akhir
> permainan. Dia masih bebas memilih posisi, tetapi kalau salah pilih, sudah
> jelas pula risiko yang bakal diterima. Tidak seperti dulu, limbung sana
> limbung sini selalu dimaklumi.
>
> Ada skenario yang lain lebih menarik lagi, dan karena itu saya mendukung
> agar Poros Tengah jalan terus. Tetapi sekali lagi, alasan dukungan saya
> sementara saya keep dulu sampai SU MPR selesai.
>
> Tentang tidak pahamnya Mega pada bagian mana UUD harus diamandemen,
rasanya
> ini cuma masalah active listening. Dari pidatonya (masih dimuat lengkap di
> detik.com), saya menangkap bahwa bagi PDIP, perobahan UUD harus tetap
> ditempatkan sebagai the last resort. Kalau masih ada upaya lain, pakai
cara
> lain dulu, kalau memang tak terhindarkan, baru boleh robah UUD. Jadi
jangan
> terlalu gampang merobah UUD. Bukankah ini sikap Negarawan dengan
> pertimbangan luas termasuk menjaga citra Indonesia dimata dunia? Bahwa itu
> dicurigai mensakralkan UUD, ya itu boleh saja. Cuma kalau UUD menjadi
> terlalu sering dirubah, apa kata dunia????
>
> Have a nice week end.
>
> Yap
> (apakah saya mirip humas pdip? Nggak dan nggak bakalan la yaooo)
>
> >From: "Abdullah Hasan" <[EMAIL PROTECTED]>
> >Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
> >To: <[EMAIL PROTECTED]>
> >Subject: Re: [Kuli Tinta] Poros bingungnya Amien Rais....? : siapa yang
> >bingung ?
> >Date: Sat, 14 Aug 1999 22:00:10 +0700
> >
> >
> >From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
> >"..Tentang ujian dan debat sebelum pengambilan suara, pertanyaannya
apakah
> >orang yang pandai debat dan bagus nilai ujiannya dijamin pasti lebih
mampu
> >menjadi Presiden? Kalau ya, mengapa banyak bintang kelas yang hanya
> >mediocre
> >saja dalam kehidupan nyata dimasyarakat? Apakah parameter dan materi
ujian
> >dan perdebatan ini dijamin sesuai dengan aspirasi rakyat? Siapa yang
> >menetapkan? Apakah mereka bebas kepentingan individu atau kelompok?
Apakah
> >ujian dan debat ini lebih tinggi kualitasnya daripada Pemilu?
> >
> >Bung Sam, ajarin kite dooong......"
> >
> >Bung Yap, sorry ya ikutan nongol , biar tambah ramai......
> >Pertanyaan yang mendasar adalah apakah kita masih mau memakai aturan main
> >yang masih ada?
> >Atau kita mau membuat variasi menambah dan membuat aturan baru ditengah
> >jalan , karena alasan ini dan itu ?. Pertanyaan anda tentang mana yang
> >lebih
> >tinggi kwalitasnya daripada pemilu sebetulnya samasekali tidak relevan.
> >Pemilu pilih apa, yang lain ( MPR ) pilih apa ?
> >
> >Dalam urusan ini, orang bakal terpaksa memasukkan PDIP kedalam Poros
> >Bingung. Mega kok masih tanya-tanya bagian mana dari UUD 45 yang harus
> >dibetulkan. Barangkali Bung Iwans tahu caranya bagaimana memberi info
Mega
> >soal ini ? . Porosnya Amin amat waras dalam bidang itu.
> >
>









______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke