Kalau kita mengamati berita sejak sebelum pemilu, selama pemilu dan sesudah
pemilu hingga saat ini  maka saya melihat sebuah kekurangajaran di kubu Mega
didalam bereaksi.

Dengan politk diamnya, Mega membangun sebuah model komunikasi politik yang
berbeda dengan para pesaingnya. Dihujat, difitnah, digembosin, digenderin,
digoblokin, disumpahin tetap saja diam tidak bereaksi. Orang semakin
penasaran. Didalam negeri tidak pernah berbicara namun dengan koran asing
berbicara. Dikatakan sebagai ibu rumah tangga namun blusak-blusuk dalam
berbagai acara dengan pejabat negara sahabat tanpa banyak yang menetahui.
Apakah itu bukan sebuah kekurangajaran. Emangnye kenape dengan ibu rumah
tangga, demikian Mega bertanya. "Nylekethe" bukan?

Ketika Mega menyampaikan pidato politiknya, TV swasta berlomba untuk
menyiarkan dan mengulangnya karena pidato itu layak jual. Apakah hal itu
bukan merupakan sebuah kekurangajaran kalau Presiden Habibie yang syah
sebagai presiden justru tidak memperoleh sambutan seperti ketika Mega
menyampaikan pidato politik itu.

Ketika partai Islam membentuk poros tengah dengan motor AR dan kemudian
menjagokan dengan penuh optimisme Gus Dur sebagai Calon Presiden, kubu Mega
tidak bereaksi negatif apalagi merasa digembosin. Apakah bukan sebuah
kekuarangajaran pula kalau beberapa saat kemudian Mega dan Akbar bertemu
dan pertemuan itu membuat lawan politiknya harus membuat kalkulasi baru.
Padahal dalam pertemuan itu, Mega tidak menanggapi bola yang dilempar oleh
Akbar sehingga beberapa hari kemudian Akbar menyatakan kekesalannya.

Setelah PKB menyatakan secara resmi mempersilahkan partai pemenang pemilu,
yaitu PDIP untuk memegang kekuasaan pemerintah yad maka Mega kemudian
mendatangi PKB. Tentu saja hal ini membuat lawan-lawan politiknya semakin
belingsatan.

Kekurangajaran perilaku politik Mega adalah ketidakbiasaannya dan
kesabarannya serta keberaniannya untuk berperilaku beda dengan mainstream
para analis dan pelaku politik. Kita boleh saja menilai Mega tidak mampu,
namun kalau kita mau jujur untuk melihat fakta-fakta yang muncul berkaitan
dengan tindakan dan keputusannya maka sebenarnya suatu sikap yang
underestimate terhadap Mega memang harus harus dibayar tidak murah. Harga
yang paling murah adalah belingsatan atau tidak konsisten.

Mengenai kekurangajaran itu, bagi saya indikatornya sederhana.  Didalam
teori kepemimpinan, dibutuhkan power yang diatas rata-rata untuk bisa
menarik dan mengendalikan orang-orang seperti KKG, MB, DH,  FT, LS, TS, AL,
AP, dll dalam sebuah organisasi. Saya percaya bahwa pertentangan dan
perbedaan pendapat di tubuh PDIP tidak kecil. Namun, itu tidak pernah keluar
dan menjadi besar. Masih ingat kasus kaset Theo dan kasus fixed rate itu?

��


______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke