Wah ini baru refleksi sekaligus pembelajaran beneran. Mimpi apa Boss?
Selintas saya dengan di radio, salah satu ciri leadership yang sangat basic 
adalah tenang menghadapi hingar bingar, lalu muncul dengan solusi 'what is 
right', bukan 'what is popular'. Karena itu bahkan Suharto-pun nampak 
mengkilap citranya, karena mampu menjaga 'kapan harus bicara dan apa yang 
perlu diucapkan'. Bukan bergaya sibuk yang ujung-ujungnya bingung sendiri 
pada tingkah laku dan ucapannya sendiri. Nggak tahulah, bener nggak sih?
Tentang 'beda pendapat' ditubuh PDIP mengingatkan pada negara 'kecil' 
Jepang.
Leadershipnya dibidang otomotif dan elektronik nggak terbantahkan lagi 
didunia. Apa yang terjadi sebenarnya? Kompetisi domestik mereka luar biasa. 
Didalam Negeri Perusahaan global itu cakar-cakaran. Tetapi begitu keluar 
pagar, kompaknya bukan main. Keberhasilan MITI? Entahlah, faktanya, 'sang 
Guru' Amrikpun sering harus meminta belas kasihan pada anak asuhnya ini.

Saya melihat model itu pada PDIP dan PBB disini. Dalamnya sama sekali nggak 
kompak. Tapi mereka mampu mendemonstrasikan 'unity in diversity' dalam arti 
sesungguhnya. Dan rating pemimpinnya menanjak terus kayak dollar kesapu Bank 
Bali.

Nuansanya beda banget dengan PAN. Budaya 'kompak semu' sering 
didemonstrasikan, plus improvisasi dengan seni 'amat tinggi', sehingga 
sering membingungkan semua pihak. Termasuk membingungkan pendukungnya 
sendiri. Setidaknya masih diperlukan waktu untuk melihat hasil PAN pada 
Pemilu berikutnya, untuk mengenali pola kepemimpinan yang sesuai bagi 
Indonesia.

Kalau PKB sih jangan ditanya. Satu Nusa Satu Bangsa beneran mereka. Satu 
dimulut, satu dihati. Orang bilang berkat kepiawaian Gus Dur. Yang masih 
perlu dilihat, seberapa besar kontribusi Matori?

Selamat menikmati 54 tahun MERDEKA!!!!

Yap



>From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [Kuli Tinta] Siapa yang bingung ?
>Date: Mon, 16 Aug 1999 20:42:34 +0700
>
>Kalau kita mengamati berita sejak sebelum pemilu, selama pemilu dan sesudah
>pemilu hingga saat ini  maka saya melihat sebuah kekurangajaran di kubu 
>Mega
>didalam bereaksi.
>
>Dengan politk diamnya, Mega membangun sebuah model komunikasi politik yang
>berbeda dengan para pesaingnya. Dihujat, difitnah, digembosin, digenderin,
>digoblokin, disumpahin tetap saja diam tidak bereaksi. Orang semakin
>penasaran. Didalam negeri tidak pernah berbicara namun dengan koran asing
>berbicara. Dikatakan sebagai ibu rumah tangga namun blusak-blusuk dalam
>berbagai acara dengan pejabat negara sahabat tanpa banyak yang menetahui.
>Apakah itu bukan sebuah kekurangajaran. Emangnye kenape dengan ibu rumah
>tangga, demikian Mega bertanya. "Nylekethe" bukan?
>
>Ketika Mega menyampaikan pidato politiknya, TV swasta berlomba untuk
>menyiarkan dan mengulangnya karena pidato itu layak jual. Apakah hal itu
>bukan merupakan sebuah kekurangajaran kalau Presiden Habibie yang syah
>sebagai presiden justru tidak memperoleh sambutan seperti ketika Mega
>menyampaikan pidato politik itu.
>
>Ketika partai Islam membentuk poros tengah dengan motor AR dan kemudian
>menjagokan dengan penuh optimisme Gus Dur sebagai Calon Presiden, kubu Mega
>tidak bereaksi negatif apalagi merasa digembosin. Apakah bukan sebuah
>kekuarangajaran pula kalau beberapa saat kemudian Mega dan Akbar bertemu
>dan pertemuan itu membuat lawan politiknya harus membuat kalkulasi baru.
>Padahal dalam pertemuan itu, Mega tidak menanggapi bola yang dilempar oleh
>Akbar sehingga beberapa hari kemudian Akbar menyatakan kekesalannya.
>
>Setelah PKB menyatakan secara resmi mempersilahkan partai pemenang pemilu,
>yaitu PDIP untuk memegang kekuasaan pemerintah yad maka Mega kemudian
>mendatangi PKB. Tentu saja hal ini membuat lawan-lawan politiknya semakin
>belingsatan.
>
>Kekurangajaran perilaku politik Mega adalah ketidakbiasaannya dan
>kesabarannya serta keberaniannya untuk berperilaku beda dengan mainstream
>para analis dan pelaku politik. Kita boleh saja menilai Mega tidak mampu,
>namun kalau kita mau jujur untuk melihat fakta-fakta yang muncul berkaitan
>dengan tindakan dan keputusannya maka sebenarnya suatu sikap yang
>underestimate terhadap Mega memang harus harus dibayar tidak murah. Harga
>yang paling murah adalah belingsatan atau tidak konsisten.
>
>Mengenai kekurangajaran itu, bagi saya indikatornya sederhana.  Didalam
>teori kepemimpinan, dibutuhkan power yang diatas rata-rata untuk bisa
>menarik dan mengendalikan orang-orang seperti KKG, MB, DH,  FT, LS, TS, AL,
>AP, dll dalam sebuah organisasi. Saya percaya bahwa pertentangan dan
>perbedaan pendapat di tubuh PDIP tidak kecil. Namun, itu tidak pernah 
>keluar
>dan menjadi besar. Masih ingat kasus kaset Theo dan kasus fixed rate itu?
>
>��
>
>
>______________________________________________________________________
>If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
>To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke