----- Original Message -----
From: Abdur Rahim <[EMAIL PROTECTED]>
Mengendalikan atau dikendalikan ? [Pikiran orang yg underestimate, walau
kebenarannya masih dimungkinkan]
beDoer
_____________________________________________________________________
Om beDoer,
Yang satu kata kerja aktif yang lain pasif yang membutuhkan obyek. Bahasa
Inggirs tidak membedakan di dan ter namun bhs Indonesia membedakannya. Oleh
karena itu, kata kerja "dikendalikan" harus diikuti kalimat "oleh siapa">
Marilah PDIP itu kita lihat sebagai sebuah sistem. Sebagai orang luar dan
pengamat maka paling banter kita melihat input dan outputnya. Proses
didalamnya sama sekali kita tidak mengetahui. Meskipun demikian, kita masih
mungkin mendekatinya secara teoritik sehimgga serpihan mozaik informasi
input dan output itu mungkin untuk memprediksi proses didalamnya..
Didalam organisasi ada tingkatan sistem, kelompok, dan individu. Serang
pemimpin organisasi bermain didalam tingkat kelompok untuk membangun
komunikasi didalam organisasi. Didalam tingkat kelompok ini seorang pemimpin
berhadapan dengan struktur kelompok internal dimana konflik, politik dan
interes menjadi sandangan seorang pemimpin membangun komunikasi anar
elompok dan individu. Persepsi individu atau kelompok yang berbeda mengenai
arah dan sasaran organisasi menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak
berhasil membangun komunikasi itu. Dalam hal ini, AT, AR dan HBB bisa
menjadi contoh. Sedang seperti Bung Yap menulis, Gus Dur adalah contoh yang
berhasil.
Seandainya benar bahwa Mega dikendalikan oleh individu atau kelompok maka
pertanyaannya tentu "siapa?" mengingat didalam tubuh PDIP itu terdiri dari
individu-individu yang memiliki integritas dan kemandirian luar biasa. Dan,
juga bukan tidak mustahil kalau terdapat struktur kelompok disana. (ini yang
membuat saya agak galau teradap PDIP setelah Mega), Artinya, pembuatan
keputusan di dalam organsiasi itu bukan merupakan hal yang mudah. Usaha
untuk mempengaruhi satu kelompok atau individu belum tentu akan dengan mudah
diterima oleh individu atau kelompok lain.
Benar, pendidikan Mega secara formal kalah dengan DH, KKG, FT, TS, atau LS,
namun dalam proses pembuatan keputusan yang rasional Mega harus
memperhatikan, mengkaji, dan menimbang seluruh masukan dan perbedaan
pendapat stafnya, yang nota bene memiliki pendidikan lebih tinggi, sebelum
sebuah kepuytusan harus diambil. Inilah hakekat kepemimpinan dalam
organisasi.
Jadi, seandainya proses itu baru berjalan satu atau dua bulan maka tentu
saja argumentasi ini sangat lemah. Bahkan seandainya Mega berhasil digertak
oleh Milier ketika kongres di Surabaya itu seperti diungkakan oleh KKG
semalam maka Mega memang bukan seorang pemimpin! Namun, proses itu sudah
berjalan cukup lama dan konsistensi proses kepemimpinan itu terlihat dengan
jelas dan seakan menjadi magnet yang luar biasa untuk menarik simpati.
Paling sedikit saya mempunyai confession secara langsung dari MB dalam
sebuah seminar mengapa ia bergabung dengan PDIP, dan secara tidak langsung
dengan KKG melalui beberapa tayangan TV termasuk dalam debat pidato Presiden
tadi malam yang ditayangkan oleh RCTI. Confession tu adalah bagian dari
mozaik informasi yang bisa memberi gambaran power Mega didalam mengendalikan
organisasi PDIP termasuk mengendalikan stafnya. Bagaimanapun juga,
confession itu memperkuat analisis saya.
*pengendalian dalam tulisan ini adalah sebuah proses untuk merencanakan,
mendistribusikan wewenang, kekuasaan, dan tanggung jawab organisasi dan
melakukan monitoring terhadap proses itu serta melakukan follow up bila
proses tidak berjalan seperti yang direncanakan.
Om be Doer, yang menjawab ini mustinya Bung Yap.
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!