Oh gitu toh ?
Mega Pancen Kurang Ajar, hehehehe
S a m
(sorry One liner)
�� wrote:
>
> Kalau kita mengamati berita sejak sebelum pemilu, selama pemilu dan sesudah
> pemilu hingga saat ini maka saya melihat sebuah kekurangajaran di kubu Mega
> didalam bereaksi.
>
> Dengan politk diamnya, Mega membangun sebuah model komunikasi politik yang
> berbeda dengan para pesaingnya. Dihujat, difitnah, digembosin, digenderin,
> digoblokin, disumpahin tetap saja diam tidak bereaksi. Orang semakin
> penasaran. Didalam negeri tidak pernah berbicara namun dengan koran asing
> berbicara. Dikatakan sebagai ibu rumah tangga namun blusak-blusuk dalam
> berbagai acara dengan pejabat negara sahabat tanpa banyak yang menetahui.
> Apakah itu bukan sebuah kekurangajaran. Emangnye kenape dengan ibu rumah
> tangga, demikian Mega bertanya. "Nylekethe" bukan?
>
> Ketika Mega menyampaikan pidato politiknya, TV swasta berlomba untuk
> menyiarkan dan mengulangnya karena pidato itu layak jual. Apakah hal itu
> bukan merupakan sebuah kekurangajaran kalau Presiden Habibie yang syah
> sebagai presiden justru tidak memperoleh sambutan seperti ketika Mega
> menyampaikan pidato politik itu.
>
> Ketika partai Islam membentuk poros tengah dengan motor AR dan kemudian
> menjagokan dengan penuh optimisme Gus Dur sebagai Calon Presiden, kubu Mega
> tidak bereaksi negatif apalagi merasa digembosin. Apakah bukan sebuah
> kekuarangajaran pula kalau beberapa saat kemudian Mega dan Akbar bertemu
> dan pertemuan itu membuat lawan politiknya harus membuat kalkulasi baru.
> Padahal dalam pertemuan itu, Mega tidak menanggapi bola yang dilempar oleh
> Akbar sehingga beberapa hari kemudian Akbar menyatakan kekesalannya.
>
> Setelah PKB menyatakan secara resmi mempersilahkan partai pemenang pemilu,
> yaitu PDIP untuk memegang kekuasaan pemerintah yad maka Mega kemudian
> mendatangi PKB. Tentu saja hal ini membuat lawan-lawan politiknya semakin
> belingsatan.
>
> Kekurangajaran perilaku politik Mega adalah ketidakbiasaannya dan
> kesabarannya serta keberaniannya untuk berperilaku beda dengan mainstream
> para analis dan pelaku politik. Kita boleh saja menilai Mega tidak mampu,
> namun kalau kita mau jujur untuk melihat fakta-fakta yang muncul berkaitan
> dengan tindakan dan keputusannya maka sebenarnya suatu sikap yang
> underestimate terhadap Mega memang harus harus dibayar tidak murah. Harga
> yang paling murah adalah belingsatan atau tidak konsisten.
>
> Mengenai kekurangajaran itu, bagi saya indikatornya sederhana. Didalam
> teori kepemimpinan, dibutuhkan power yang diatas rata-rata untuk bisa
> menarik dan mengendalikan orang-orang seperti KKG, MB, DH, FT, LS, TS, AL,
> AP, dll dalam sebuah organisasi. Saya percaya bahwa pertentangan dan
> perbedaan pendapat di tubuh PDIP tidak kecil. Namun, itu tidak pernah keluar
> dan menjadi besar. Masih ingat kasus kaset Theo dan kasus fixed rate itu?
>
> ��
>
> ______________________________________________________________________
> If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
> To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!