On Thu, 19 Aug 1999, Yap C. Young wrote:
> Satu lagi bukti teganya seseorang menghukum berdasar kecurigaan. Sementara
> yang fakta kesalahannya bertubi-tubi muncul dibela dengan : Bukan hanya dia
> yang salah. MUNGKIN dia juga salah.
> Ini namanya logika menang-menangan.
Bukan membela bung, Tapi itu murni penilaian orang awam yang suka menonton
pra-masa-pasca kampanye. Faktanya PDIP memang mendapat dukungan terbesar,
konsekuansinya adalah massa kampanye yang membludak untuk partai "merah".
Nah, logika saya begini : PDIP itu bisa membangun POSKO-POSKO, cetak
bendera, cetak poster, cetak plakat, dst. tentunya punya dana berlebih,
bahkan PDIP telah melakukan itu sebelum masa kampanye. Sementara partai
lain belum melakukan itu, termasuk Golkar. Bahkan Golkar sendiri sampai
pasca kampanye tidak menunjukkan suatu "kesemarakan". Logika saya ini
ternyata sudah dijawab dengan dukungan luas terhadap PDIP.
Penjahat sekalipun mesti dibuktikan dulu kejahatannya. Bukan dengan
memvonis yang bukan-bukan tanpa ada rasa keadilan dan pengadilan.
> Memang PDIP nampaknya mampu menghimpun dana lumayan besar, baik yang melalui
> account perjuangan yang menerima sumbangan sukarela, maupun uang pribadi
> yang dibelanjakan langsung oleh para pendukung PDIP untuk mendukung
> pemenangan PDIP. Tetapi berapapun besarnya dapat dijamin bukan mencuri dana
> rakyat, atau korupsi. Jadi apakah perlu diusili hanya karena yang lain nggak
> mampu begitu?
> Bukankah sekarang saatnya yang lain belajar dari success story ini?
>
Justru disinilah letak permasalahannya, PDIP itu memang mendapatkan
dukungan luas. Tapi apakah kita semua melupakan bahwa masih banyak
saudara-2x kita yang "berhutang" pada Golkar, sehingga Golkar pun masih
mendapatkan dukungan yang cukup signifikan, terutama diluar P. Jawa.
Jadi apakah bijak untuk mengatakan bahwa peringkat Golkar yang nomer dua
dalam pemilu itu adalah kesalahan?
> Ini salah satu model politik belah bambu. Sudah kehabisan akal??
> Memang yang paling dikhawatirkan banyak pihak adalah kalau Megawati jadi
> Presiden maka KKN jadi disikat beneran, bukan sekedar konsumsi media seperti
> selama ini. Sayang, yang beginian nggak bakal mempan.
> Kerjasama dengan siapapun bagi PDIP boleh saja, tetapi kalau harus ganti
> Capres, nggak bakalan dah. Dan nampaknya PDIP berani membayar keyakinan ini
> dengan harga berapapun, misalnya harus terpaku jadi oposisi. Menjadi oposisi
> bagi Pemerintah yang korup, kolutif dan nepotis juga posisi yang terhormat
> kok. Juga nggak masalah kalau semua yang mengaku reformis meninggalkannya.
> Bertahan pada prinsip kadang memang pahit, tetapi terhormat.
Sekarang ini saya lebih senang menatap sistem pemerintahan Indonesia baru
daripada sekedar mempermasalahkan jargon-jargon politk reformis, KKN, dsb.
Apakah mau "Musyawarah untuk Mufakat" ataukah "Plurarisme".
Faktanya, partai-2x Islam mempertanyakan Megawati dari segi gender,
kemampuan dll.
> Ok, sebagai closing, saya ingin menyampaikan kepada Anda : Belum terlambat
> kok kembali keposisi normal. Lihatlah sesuatunya dengan mata hati sambil
> menyadari bahwa tidak perlu mengorbankan kredibilitas Anda dengan ngotot
> membela yang salah. Nampaknya sih banyak yang mengharap agar Anda yang
> membawa atribut ITB pada user-name itu mampu berpendapat obyektip. Bukan
> sekedar ikut arus atau sekedar melawan arus.
>
Dengan menggunakan logika bebek, saya itu adalah unit terkecil dari
"gerombolan" dan saya tidak ikut gerombolan itu.
Harap anda jeli untuk membedakan antara saya sebagai "Non gerombolan"
dengan "gerombolan" itu, sebagaimana saya tidak pernah melihat domain
address pada e-mail anda. Bisa saja saya menggunkan e-mail gratisan, tapi
saya tidak mau. Saya tidak pernah bahagia dengan memojokkan PDIP dan
"agak" membela P. Golkar atau P. apalah.
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!