Bung Yap, ijinkanlah saya menanggapi tangapan Bung terhadap Profesor Komkom.

Ketercengangan para akademisi Amerika pada fenomena Jepang [Indianapolis
1996, POMS] adalah bahwa temuan-temuan itu terjadi justru di lapangan dan
bukan melalui research yang metodik. Orang Amerika yang bahkan banyak
meneliti fenomena mereka.

Kita memiliki Borobudur, mungkinkah candi itu dibangun tanpa dukungan Iptek
yang memadai? Namun apa yang kita warisi?

Karya sastra dan budaya tidak terdokumentasikan sehingga kita seperti asing
mengenal sastra dan budaya sendiri. Di Solo banyak manuscript kuno yang
disusun kembali oleh bule-bule.

Namun, pada saat yang sama kita demikan terpukau dengan peradaban asing.
Demikian pula dibidang manajemen dan kepemimpinan yang baru saja kita
diskusikan.

Kebiasaan untuk tidak memetri (merawat dan melestarikan) temuan-temuan
secara tertulis agar bisa menjadi bahan kajian bagi orang lain sehingga kita
lebih tertarik untuk mengkaji hasill karya bangsa lain tampaknya belum
banyak berubah

Ketika kita berbicara kepemimpinan, para doktor kampus itu demikian piawai
berbicara mengenai kepemimpinan bangsa asing namun tidak untuk menelaah
model-model bangsanya sendiri. Jadinya kita bingung. Konsep kepemimpinan Ki
Hadjar dewantoro: "Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri
handayani" sebenarnya merupakan konsep yang universal dan sangat mapan untuk
menganilisis kasus kepemimpinan bahkan saat ini. Kita bisa menggunakannya
sebagai pisau analisis terhadap berbagai pemimpin dunia. Namun, cukup
banyakkah yang mengetahuinya? Coba aja tanya kepada mhs S1 manajemen. Kita
simak bagaimana tanggapan publik kepada Mandela dalam kasus istrinya. Juga,
kita bisa melihat bagaimana tanggapan publik terhadap misal Mr. AM, atau
bahkan Pak Harto. Keteladanan adalah universal dan kehalian, kekuasaan, atau
kekayaan tidak perlu ditunjukan karena publik mencatat.

Nah, atas dasar pemikiran tu, saya memang ingin menggali lebih banyak model
manajemen Bung Yap. Ky'zen yang menjadi roh manajemen Jepang itu dilandasi
oleh semanagt trust dan sebenarnya hidup dalam masyarakat kita.  Paling
sedikit, pengalaman Bung Yap menyiratkan hal  itu. Saya hanya khwatir bahwa
Bung Yap juga masih merupakan bagian dari budaya masa lalu dimana
gending-gending jawa dipeajari secara turun temurun sehinga kalau satu
rantai lepas maka punahlah budaya itu. Mungkin saya salah namun saya melihat
Bung Yap merancukan antara proses bisnis dengan proses pembuatan keputusan.


Selamat bermalam minggu juga

��
(It is fatal to enter any war without the will to win)

----- Original Message -----
From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 21 August 1999 16:29
Subject: Re: [Kuli Tinta] PENGENDALIAN


Yaaah, diuji lagi. Ok, Professor apakah begini kira-kira?

Secara sederhana saya berpihak pada teori Y. Setiap orang adalah baik,
kecuali membuktikan diri sebaliknya. Pandangan ini membuat hidup lebih
nyaman. Nggak curiga melulu bawaannya. Tapi juga bukan memberat ke trial and
error. Semuanya serba taylor-made, sesuai situasinya, berdasarkan 3 faktor
pembatas : democracy, transparency dan profit sharing. Tentu sangat berbeda
bentukan kelompok tukang batu dengan tukang insinyur. Tapi keterwakilan
dirinya sama.
Apa sih yang lebih sakti dari control by peer?

Yap-model ? Ah, kocak juga. Saya baru sadar bahwa dimilis ini nama saya Yap.
Anyway, what is in the name.

Semler berceloteh, di Brasil sana, yang nenek moyangnya pemburu binatang
hutan, biasanya mereka berkelompok 7-10 orang. Jadi bukan konsep kapal
induk, melainkan sekoci, yang sekarang dikenali dengan Strategic Business
Unit.
Begitu mereka sepakat untuk berburu mammoth, yang punya naluri mengenali
jejak binatang buruan, akan mengerahkan kemampuannya dan menginformasikan
kepada kelompoknya. Yang tenaganya kuat, memanggul logistiknya. Yang
penembak jitu, membawa senapannya. Begitu seterusnya, tim ini terbentuk
begitu saja. Tanpa rumit berpikir piramida, lini, fungsi, matrix, network,
circle atau apapun. Organisasi terbentuk begitu saja dan diendorse rame
rame. bahkan pimpinan ekspedisi juga tidak perlu SK Pak Lurah.
Apa kira-kira situasi kejiawaan dalam tim macam ini?
Perlu baca ratusan text book untuk membentuknya. Mereka tidak butuh
sehalamanpun.
Perlu ketulusan, semangat kebersamaan, kemampuan memahami satu sama lain,
saling hormat-menghormati, tanpa suba sita dan entahlah banyak lagi deh.
Tapi mereka tak tahu itu. Terjadi begitu saja.
Apa saja yang terjadi, semua tahu. Decision maker-nya juga nggak terpaku
pada satu orang. Tergantung keputusan tentang apa. Kadang melalui perdebatan
sengit, kadang nurut begitu saja. Implementasi demokrasi dan transparansi
tanpa melalui seminar dihotel bintang lima.

Situasi berjalan begitu menyenangkan, sampai suatu hari yang dinantikan,
ketika binatang buruan dipotong rame rame dan dibagi dagingnya untuk dibawa
pulang masing-masing.
Nah, mengapa mereka mau berbuat begitu? Tanpa pamrih? Nggak dong. Mereka
ingin dapat dagingnya (selain rekreasi bersama kelompok yang menyenangkan)
dalam jumlah yang acceptably just. Profit Sharing.
Ada banyak teori compensation. Ada banyak teori komunikasi. Ada banyak teori
kebutuhan. Ada banyak teori team-work. Ada banyak teori organisasi. Ada
banyak teori manajemen. Ada banyak teori zero deffect. Ada banyak teori
effisiensi. Ada banyak teori kepemimpinan. Ada banyak teori.....Mereka tidak
tahu itu.

Rasa adil, rasa nyaman, rasa dimanusiakan lebih mewakili daripada teori
sekolahan itu......

Boleh juga sekali waktu belajar success story Yu Jum didekat Bulaksumur.

Yap.
(to me, adequate is the key. Not comprehensive)

>From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [Kuli Tinta] PENGENDALIAN
>Date: Sat, 21 Aug 1999 08:13:39 +0700
>
>Bung Yap,
>
>Tolong dong asumsinya dikatakan agar kita tidak terjerembab kalau
>mengikuti?
>Memilih partner tidak secara random bukan?
>
>��
>(ingin mempelajari modelnya Bung Yap)
>
>
>
>----- Original Message -----
>From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Sent: 20 August 1999 22:26
>Subject: Re: [Kuli Tinta] PENGENDALIAN
>
>
>Ah semoga Anda nggak ngeledek bung Dave.
>
>Tapi kalau mau dielaborasi lebih lanjut, saya memang merasa bahagia berada
>dilingkungan ini. Sungguh.
>
>Organisasi saya secara kuat memegang hanya tiga prinsip dalam menjalankan
>usahanya : democracy, transparency dan profit sharing.
>Yang lain-lain, sejauh nggak bertentangan dengan itu: bebas saja...
>Setiap orang boleh menentukan apa yang diproduksi, kemana dijual, harga
>berapa, pilih kantor dimana, kantornya dicat warna apa, disainnya
>bagaimana,
>pakai seragam apa, kerja jam berapa sampai berapa, siapa yang dipilih
>menjadi pimpinannya, berapa masa jabatannya, bagaimana performance
>assesment-nya, siapa mau dapat gaji berapa dan seterusnya. Kebebasan
>absolut? Tidak. Batasnya ya 3 faktor itu tadi: democracy, transparency dan
>profit sharing. Dan sungguh akhirnya setiap orang mendapatkan imbalan
>sesuai
>dengan prestasinya.
>
>Fakta menunjukkan bahwa ketiga faktor pembatas itu mampu mendorong
>antusiasme untuk level produktivitas yang mampu dicapainya.
>
>Ada kebanggaan berprestasi, ada budaya malu yang otomatis timbul, dan ada
>keyakinan diri.
>
>Secara sadar kami juga menganut long life employment, sehingga ketika
>krisis
>menghantam divisi konstruksi, mereka (atas dasar demokrasi) memilih untuk
>mundur kebidang usaha agraris. Sampai sekarang. Bukan PHK solusinya.
>
>Yap
>
> >From: [EMAIL PROTECTED]
> >Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
> >To: [EMAIL PROTECTED]
> >Subject: Re: [Kuli Tinta] PENGENDALIAN
> >Date: Fri, 20 Aug 1999 08:15:25 +0700
> >
> >
> >Ada kok caranya mengkapitalisir SDM untuk bersinergi meningkatkan
> >produktivitas. Nggak perlu belajar jauh-jauh. Saya mendapatnya dari KH
> >Zainuddin MZ ketika berkisah tentang Khalifah Umar bin Chattab.
> >'Wacholichin naas sabichuluchin hazaniin' (dan pergaulilah manusia dengan
> >achlak yang baik). Itulah konsep dasar saya menghadapi dan sekaligus
> >mengkapitalisir potensi teman-teman saya, yang oleh istilah formal
>disebut
> >labor, pekerja, atau SDM. Kenapa? Karena mereka manusia.....
> >
> >Yap
> >(simplify the complicated things by discren what is inside)
> >
> >========================================
> >Berbahagialah orang yang menjadi bawahan anda bung Yap....
> >sayang saya tidak berada di perusahaan anda, mungkin kalau kita satu
> >perusahaan kita bisa menjalin hubungan antara bawahan dan atasan yang
>baik,
> >jika benar cara itu yang anda terapkan di manajement anda...
> >sangat sedikit orang-orang pintar yang mengerti ilmu management yang baik
> >menerapkan konsep-konsep seperti yang anda tulis, " Pekerja adalah
>manusia
> >yang seharusnya dihargai pula harkatnya sebagai manusia " banyak diantara
> >MM maupun SE ataupun dirut and  komisaris yang beranggapan bahwa semua
> >pekerja mereka adalah "budak-budak" perusahaan yang bisa diperas habis
> >tenaganya hanya untuk mencapai keinginan mereka... UNTUNG !!
> >Sudah banyak contoh kasusnya, di sekitar kita saja masih banyak
>temen-temen
> >yang menjadi korban PHK, tapi hak-hak mereka disunat terlebih dahulu..
> >Senang saya dapat menjadi anggota millis ini dan membaca tulisan-tulisan
> >anda bung Yap.. benar-benar menambah nuansa baru dalam alam pikiran
> >saya....
> >Keep writing nice and beuty my friend... i really enjoy it !!!
> >
> >regards..
> >
> >= dave =
> >( yang ingin menjadi lebih pintar lagi dari sekarang... )
> >
> >
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>______________________________________________________________________
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan lakukan sendiri dengan
>mengirim e-mail kosong ke;
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan
mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim e-mail 
kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!









Kirim email ke