>Ketercengangan para akademisi Amerika pada fenomena Jepang [Indianapolis
>1996, POMS] adalah bahwa temuan-temuan itu terjadi >justru di lapangan dan
>bukan melalui research yang metodik. Orang >Amerika yang bahkan banyak
>meneliti fenomena mereka.
Mas, apakah saya juga bermimpi kalau akhir perjalanan masalah transportasi
dan telekomunikasi ini pada telepati?
Apakah saya juga aneh kalau berpendapat bahwa orang nggak perlu bisa nulis,
asal bisa baca?
Ini serius lho, mohon pencerahan. Karena sudah melakukannya dilapangan.
Supaya nggak kebablasan.
Sebagai contoh, untuk sebuah proyek dengan durasi 8 bulan bidang
infrastruktur yang cukup rawan complain masyarakat pengguna jalan disebuah
ibu kota Propinsi besar, saya membuka hotline 24 jam bagi
complaint-handling. Disamping tentu office works yang menanggung jawabi
bidang keuangan, sdm dan logistic management. Berapa orang dan kualifikasi
apa saja layaknya yang minimal ada di back-room itu?
Saya (atas keputusan rame-rame) hanya menempatkan seorang lulusan IAIN plus
seorang office-boy. Tetapi jangan tanya berapa gaji dan perangkat IT-nya. He
deserves to it.
Dengan gagah perkasa, boss satu ini membuat selebaran kemasyarakat yang
berpotensi terkena dampak pekerjaan ini, termasuk melalui radio swasta yang
membuka komunikasi interaktif keluhan masyarakat tentang pelayanan 24 jam
yang dia selenggarakan. Padahal kalau lihat markas dia sebenarnya : sebuah
komputer spec tinggi, fax, telepon, radio komunikasi, dapur mini, dipan,
stereo set, gitar dan TV. Diruang sebelah, ada ruang rapat dengan fasilitas
presentasi, dengan pembatas beberapa filing cabinet dan meja gambar.
Proyek itu selesai dalam durasi 6 bulan dan 2 hari, tanpa komplain yang
sempat mencuat kepermukaan. Billingnya lancar, dan internal makin kompak.
Saya berkunjung acak 54 kali dalam periode itu, untuk menemani main gitar
sembari discuss dikit dikit, karena dia dulunya musisi kampus yang lumayan
handal. Konyolnya, saya makin yakin kebenaran 3 pembatas itu. Tapi saya
nggak mau terus dibilang berpikir aneh, seperti teman-teman sekitar
mengatakannya. Karena itu saya mohon kalibrasi, biar nggak kebablasan. Boleh
kan?
>Bung Yap merancukan antara proses bisnis dengan proses pembuatan keputusan.
Sebuah closing indah.
Saya memang ingin belajar lebih banyak. Sangat boleh jadi saya masih begitu.
Tetapi supaya lebih discussable, boleh dong diekspose beberapa indikasi yang
mendorong munculnya closing itu.
Supaya lebih fokus.
Sorry mengganggu hari Minggunya.
Yap
(juga penghayat Ing-Ing-Tut diantara deru angin barat dan utara)
>From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [Kuli Tinta] PENGENDALIAN
>Date: Sat, 21 Aug 1999 21:45:22 +0700
>
>Bung Yap, ijinkanlah saya menanggapi tangapan Bung terhadap Profesor
>Komkom.
>
>Ketercengangan para akademisi Amerika pada fenomena Jepang [Indianapolis
>1996, POMS] adalah bahwa temuan-temuan itu terjadi justru di lapangan dan
>bukan melalui research yang metodik. Orang Amerika yang bahkan banyak
>meneliti fenomena mereka.
>
>Kita memiliki Borobudur, mungkinkah candi itu dibangun tanpa dukungan Iptek
>yang memadai? Namun apa yang kita warisi?
>
>Karya sastra dan budaya tidak terdokumentasikan sehingga kita seperti asing
>mengenal sastra dan budaya sendiri. Di Solo banyak manuscript kuno yang
>disusun kembali oleh bule-bule.
>
>Namun, pada saat yang sama kita demikan terpukau dengan peradaban asing.
>Demikian pula dibidang manajemen dan kepemimpinan yang baru saja kita
>diskusikan.
>
>Kebiasaan untuk tidak memetri (merawat dan melestarikan) temuan-temuan
>secara tertulis agar bisa menjadi bahan kajian bagi orang lain sehingga
>kita
>lebih tertarik untuk mengkaji hasill karya bangsa lain tampaknya belum
>banyak berubah
>
>Ketika kita berbicara kepemimpinan, para doktor kampus itu demikian piawai
>berbicara mengenai kepemimpinan bangsa asing namun tidak untuk menelaah
>model-model bangsanya sendiri. Jadinya kita bingung. Konsep kepemimpinan Ki
>Hadjar dewantoro: "Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut
>wuri
>handayani" sebenarnya merupakan konsep yang universal dan sangat mapan
>untuk
>menganilisis kasus kepemimpinan bahkan saat ini. Kita bisa menggunakannya
>sebagai pisau analisis terhadap berbagai pemimpin dunia. Namun, cukup
>banyakkah yang mengetahuinya? Coba aja tanya kepada mhs S1 manajemen. Kita
>simak bagaimana tanggapan publik kepada Mandela dalam kasus istrinya. Juga,
>kita bisa melihat bagaimana tanggapan publik terhadap misal Mr. AM, atau
>bahkan Pak Harto. Keteladanan adalah universal dan kehalian, kekuasaan,
>atau
>kekayaan tidak perlu ditunjukan karena publik mencatat.
>
>Nah, atas dasar pemikiran tu, saya memang ingin menggali lebih banyak model
>manajemen Bung Yap. Ky'zen yang menjadi roh manajemen Jepang itu dilandasi
>oleh semanagt trust dan sebenarnya hidup dalam masyarakat kita. Paling
>sedikit, pengalaman Bung Yap menyiratkan hal itu. Saya hanya khwatir bahwa
>Bung Yap juga masih merupakan bagian dari budaya masa lalu dimana
>gending-gending jawa dipeajari secara turun temurun sehinga kalau satu
>rantai lepas maka punahlah budaya itu. Mungkin saya salah namun saya
>melihat
>Bung Yap merancukan antara proses bisnis dengan proses pembuatan keputusan.
>
>
>Selamat bermalam minggu juga
>
>��
>(It is fatal to enter any war without the will to win)
>
>
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim e-mail
kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!