Suatu hari bung Aswat menulis:
Seandainya BungYap bisa membentuk tim yang self managed dan terdiri dari
manusia type X[McGregor] dengan disain organisasi yang Mekanik serta
Kepemimpinan yangberorientasi pada output [Blake ang Mouton] maka itu akan
menjadi sebuahdisertasi yang menjungkalkan banyak teori yang telah ada.
Dan ketika itu saya menjawab:
Ah, masa sih nggak bisa? Bukankah kita boleh memandang setiap anggota tim
kita sebagai the responsible adult? Yang type-X sekalipun. Cobalah mas,
nggak besar kok risikonya, tetapi sangat besar manfatnya. Terutama pada
alignment, paradigm-shift. Tetapi supaya message ini nggak terlalu panjang
(hemat bandwidth), insya Allah akan saya tulis dalam message lain saja ya�
Memenuhi janji saya, inilah kisahnya yang saya susun secara sambil lalu:
Saya memang tidak pernah mengukur apakah seseorang termasuk type X atau Y.
Bagi saya, menjalankan usaha adalah bekerja sama dengan manusia. Ini
diantaranya karena secara alami kemampuan manusia itu terbatas, sehingga
untuk mencapai hasil yang lebih besar, orang harus bekerja sama.
Saya tidak pernah memandang rendah teori recruitment, business feasibility,
manajemen, human relation atau lainnya, tetapi memandangnya tak lebih dari
referensi. Hubungan antar orang itu lebih menjadi perhatian, walaupun saya
sadar sifatnya sangat situasional. Ya, barangkali kategorinya : difficult
but possible.
Ada 3 prinsip dasar yang saya anut dalam setiap menjalankan usaha.
Namanya : demokrasi, transparansi dan bagi hasil.
Dengan demokrasi, saya lebih banyak mendengar daripada berceritera. Situasi
yang saya hadapi biasanya ada sekelompok kecil teman yang ingin bekerja.
Saya tanya, usaha apa yang mereka inginkan. Mereka yang diskusi, merumuskan
apa usahanya, apa produknya, bagaimana peluang pasarnya, dari mana mendapat
sumber atau bahannya, peralatannya, lokasinya, kapasitasnya, perbandingannya
dengan usaha lain, dan sebagainya. Saya lebih banyak mendengar sambil
melontar beberapa pertanyaan untuk mengutuhkan bangunan perencanaan atau
visi mereka. Ini berlangsung sampai perumusan aturan main dan segala aspek
yang normatif harus dipertimbangkan dalam menjalankan usaha.
Dalam situasi demikian, biasanya semua bersaing kontribusi positip. Bahkan
mereka juga memilih pemimpinnya. Atau setidaknya siapa mengerjakan atau
bertanggung jawab tentang apa.
Dengan demikian selain demokrasi sudah sekalian tercover masalah
transparansi, tentang siapa bisa apa atau siapa tahu apa.
Situasinya biasanya menyenangkan, karena keterpaduan dan rasa kesejiwaan
tumbuh seiring berlangsungnya brainstorming itu. Kalau ternyata dalam tim
itu masih dirasa ada ketimpangan, dibicarakan juga cara mengatasinya.
Hasil session macam ini diantaranya adalah system.
Tidak selalu saya menjadi pemimpin dalam usaha itu. Pendeknya saya hanya
salah satu peserta, nggak lebih.
Lalu kalau kami sepakat untuk menjalankannya, disamping fungsi saya dalam
tim, saya juga berperan sebagai conselor, karena kebetulan saya dapat
menjalankan peran itu, dan sekaligus harus mempertanggung jawabkan secara
hukum.
Apa saja yang dilakukan oleh siapa saja, terekam dengan baik dalam sistem
pencatatan, sebagai bahan review atas kegiatan pada sesuatu bulan, disamping
untuk memenuhi ketentuan peraturan tentang usaha.
Data base itulah yang menjadi ujung tombak transparansi pada fase
pelaksanaan. Dan setiap orang dapat menilai validitasnya, dalam diskusi yang
secara berkala diadakan. Tentu saja diskusi macam itu juga sekaligus
membahas perobahan yang perlu dilaksanakan, dan macam macam acara berbagi
pengalaman. Jangan dibayangkan hal itu selalu terjadi diruang ber AC hotel
berbintang. Tempatnya mereka pilih sendiri, waktunya saya yang menentukan.
Bisa dipantai, bisa digunung, bisa dikebun raya, bisa juga di... karaoke.
Mengapa setiap orang berkepentingan pada diskusi macam itu? Karena data yang
dibahas itu diantaranya akan merumuskan unit apa menghasilkan berapa dalam
periode itu, lalu... ini yang penting, berapa jumlah uang yang menjadi hak
masing-masing unit atau individu dalam rangka bagi hasil itu.
Ini bukan bagi hasil murni, karena tentu saja mereka berhak gaji. On top
dari gaji itulah diberikan sejumlah uang, yang dihitung secara proporsional
berdasarkan produktivitas pada periode itu.
Dengan pola sederhana ini, masalah type X atau Y jadi nggak penting lagi.
Bahkan saya juga tidak perlu membuat peraturan apapun. Mereka yang
menentukan aturan mainnya. Aturan itu nggak mungkin disepakati mereka kalau
nggak fair. Ya, mungkin fairness ini juga kata kuncinya. Karena control
system juga menggunakan basis fairness ini. Dan kalau ditempat lain atasan
mengawasi bawahan, maka pada umumnya yang berlaku dilingkungan saya dibalik,
bawahan mengawasi atasan. Karena atasan itu sendiri juga dipilih oleh
bawahan. Setiap 6 bulan, ada semacam performance appraisal bagi para
pemimpin unit yang dibuat dengan cara menyebarkan angket kepada bawahannya.
Sejauh ini, dengan cara ini, belum saya dapati pemimpin unit yang curang,
karena dia tahu, sedikit saja dia melakukan hal yang kurang baik, pasti akan
dilengserkan anak buahnya pada sesi performance appraisal berikutnya.
Tetapi kalau memang ada yang curang, dan karena itu harus dikeluarkan,
itupun dilakukan dalam diputuskan rame rame melalui diskusi yang sehat.
Dilingkungan saya hanya kecurangan yang menjadi penyebab dikeluarkannya
seseorang. Kalau cuma bodoh atau malas, masih banyak maaf, karena akan
dipacu dan dibantu rame-rame.
Yang tidak menjadi pimpinan-pun nggak bisa main-main. Dorongan bagi hasil
atau mungkin lebih tepatnya bonus tadi, menjadikan setiap anggota tim saling
mengawasi, saling mengingatkan, bahkan saling membantu agar hasil kerja tim
lebih baik dan lebih besar. Melihat akuntan menyetir forklift sama sekali
bukan pemandangan aneh disini. Juga insinyur pertambangan yang kerjanya
lebih banyak ngurusin perbankan. Tergantung.
Dari nilai budaya kita, rasanya model begini nggak susah diterapkan.
Ditempat lain juga sama, karena sifat azasi manusia kan pada dasarnya sama.
Demokrasi esensinya memanusiakan manusia dan memberi hasil terbaik.
Transparansi meningkatkan saling percaya dan meningkatkan kinerja. Dan
profit sharing meningkatkan kualitas demokrasi dan transparansi kearah yang
lebih produktif. Tapi itu baru kata saya. Anda tentu punya pendapat atau
pengalaman yang lebih baik.
Mari berbagi.
Yap
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!