Ada dua point untuk sementara yang ingin saya sampaikan,
Pertama, apakah Bung Yap setuju bahwa ada dasarnya manusia
terlahir berbeda? Dengan kata lain ada individual diffrences?
Adakah hubungannya dengan DNA?
Ke dua, Baramuli juga termasuk dalam responsible adult bukan?
salam
----- Original Message -----
From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 24 September 1999 05:56
Subject: [Kuli Tinta] Bermain dengan type-X
Suatu hari bung Aswat menulis:
Seandainya BungYap bisa membentuk tim yang self managed dan
terdiri dari
manusia type X[McGregor] dengan disain organisasi yang Mekanik
serta
Kepemimpinan yangberorientasi pada output [Blake ang Mouton] maka
itu akan
menjadi sebuahdisertasi yang menjungkalkan banyak teori yang
telah ada.
Dan ketika itu saya menjawab:
Ah, masa sih nggak bisa? Bukankah kita boleh memandang setiap
anggota tim
kita sebagai the responsible adult? Yang type-X sekalipun.
Cobalah mas,
nggak besar kok risikonya, tetapi sangat besar manfatnya.
Terutama pada
alignment, paradigm-shift. Tetapi supaya message ini nggak
terlalu panjang
(hemat bandwidth), insya Allah akan saya tulis dalam message lain
saja ya.
Memenuhi janji saya, inilah kisahnya yang saya susun secara
sambil lalu:
Saya memang tidak pernah mengukur apakah seseorang termasuk type
X atau Y.
Bagi saya, menjalankan usaha adalah bekerja sama dengan manusia.
Ini
diantaranya karena secara alami kemampuan manusia itu terbatas,
sehingga
untuk mencapai hasil yang lebih besar, orang harus bekerja sama.
Saya tidak pernah memandang rendah teori recruitment, business
feasibility,
manajemen, human relation atau lainnya, tetapi memandangnya tak
lebih dari
referensi. Hubungan antar orang itu lebih menjadi perhatian,
walaupun saya
sadar sifatnya sangat situasional. Ya, barangkali kategorinya :
difficult
but possible.
Ada 3 prinsip dasar yang saya anut dalam setiap menjalankan
usaha.
Namanya : demokrasi, transparansi dan bagi hasil.
Dengan demokrasi, saya lebih banyak mendengar daripada
berceritera. Situasi
yang saya hadapi biasanya ada sekelompok kecil teman yang ingin
bekerja.
Saya tanya, usaha apa yang mereka inginkan. Mereka yang diskusi,
merumuskan
apa usahanya, apa produknya, bagaimana peluang pasarnya, dari
mana mendapat
sumber atau bahannya, peralatannya, lokasinya, kapasitasnya,
perbandingannya
dengan usaha lain, dan sebagainya. Saya lebih banyak mendengar
sambil
melontar beberapa pertanyaan untuk mengutuhkan bangunan
perencanaan atau
visi mereka. Ini berlangsung sampai perumusan aturan main dan
segala aspek
yang normatif harus dipertimbangkan dalam menjalankan usaha.
Dalam situasi demikian, biasanya semua bersaing kontribusi
positip. Bahkan
mereka juga memilih pemimpinnya. Atau setidaknya siapa
mengerjakan atau
bertanggung jawab tentang apa.
Dengan demikian selain demokrasi sudah sekalian tercover masalah
transparansi, tentang siapa bisa apa atau siapa tahu apa.
Situasinya biasanya menyenangkan, karena keterpaduan dan rasa
kesejiwaan
tumbuh seiring berlangsungnya brainstorming itu. Kalau ternyata
dalam tim
itu masih dirasa ada ketimpangan, dibicarakan juga cara
mengatasinya.
Hasil session macam ini diantaranya adalah system.
Tidak selalu saya menjadi pemimpin dalam usaha itu. Pendeknya
saya hanya
salah satu peserta, nggak lebih.
Lalu kalau kami sepakat untuk menjalankannya, disamping fungsi
saya dalam
tim, saya juga berperan sebagai conselor, karena kebetulan saya
dapat
menjalankan peran itu, dan sekaligus harus mempertanggung
jawabkan secara
hukum.
Apa saja yang dilakukan oleh siapa saja, terekam dengan baik
dalam sistem
pencatatan, sebagai bahan review atas kegiatan pada sesuatu
bulan, disamping
untuk memenuhi ketentuan peraturan tentang usaha.
Data base itulah yang menjadi ujung tombak transparansi pada fase
pelaksanaan. Dan setiap orang dapat menilai validitasnya, dalam
diskusi yang
secara berkala diadakan. Tentu saja diskusi macam itu juga
sekaligus
membahas perobahan yang perlu dilaksanakan, dan macam macam acara
berbagi
pengalaman. Jangan dibayangkan hal itu selalu terjadi diruang ber
AC hotel
berbintang. Tempatnya mereka pilih sendiri, waktunya saya yang
menentukan.
Bisa dipantai, bisa digunung, bisa dikebun raya, bisa juga di...
karaoke.
Mengapa setiap orang berkepentingan pada diskusi macam itu?
Karena data yang
dibahas itu diantaranya akan merumuskan unit apa menghasilkan
berapa dalam
periode itu, lalu... ini yang penting, berapa jumlah uang yang
menjadi hak
masing-masing unit atau individu dalam rangka bagi hasil itu.
Ini bukan bagi hasil murni, karena tentu saja mereka berhak gaji.
On top
dari gaji itulah diberikan sejumlah uang, yang dihitung secara
proporsional
berdasarkan produktivitas pada periode itu.
Dengan pola sederhana ini, masalah type X atau Y jadi nggak
penting lagi.
Bahkan saya juga tidak perlu membuat peraturan apapun. Mereka
yang
menentukan aturan mainnya. Aturan itu nggak mungkin disepakati
mereka kalau
nggak fair. Ya, mungkin fairness ini juga kata kuncinya. Karena
control
system juga menggunakan basis fairness ini. Dan kalau ditempat
lain atasan
mengawasi bawahan, maka pada umumnya yang berlaku dilingkungan
saya dibalik,
bawahan mengawasi atasan. Karena atasan itu sendiri juga dipilih
oleh
bawahan. Setiap 6 bulan, ada semacam performance appraisal bagi
para
pemimpin unit yang dibuat dengan cara menyebarkan angket kepada
bawahannya.
Sejauh ini, dengan cara ini, belum saya dapati pemimpin unit yang
curang,
karena dia tahu, sedikit saja dia melakukan hal yang kurang baik,
pasti akan
dilengserkan anak buahnya pada sesi performance appraisal
berikutnya.
Tetapi kalau memang ada yang curang, dan karena itu harus
dikeluarkan,
itupun dilakukan dalam diputuskan rame rame melalui diskusi yang
sehat.
Dilingkungan saya hanya kecurangan yang menjadi penyebab
dikeluarkannya
seseorang. Kalau cuma bodoh atau malas, masih banyak maaf, karena
akan
dipacu dan dibantu rame-rame.
Yang tidak menjadi pimpinan-pun nggak bisa main-main. Dorongan
bagi hasil
atau mungkin lebih tepatnya bonus tadi, menjadikan setiap anggota
tim saling
mengawasi, saling mengingatkan, bahkan saling membantu agar hasil
kerja tim
lebih baik dan lebih besar. Melihat akuntan menyetir forklift
sama sekali
bukan pemandangan aneh disini. Juga insinyur pertambangan yang
kerjanya
lebih banyak ngurusin perbankan. Tergantung.
Dari nilai budaya kita, rasanya model begini nggak susah
diterapkan.
Ditempat lain juga sama, karena sifat azasi manusia kan pada
dasarnya sama.
Demokrasi esensinya memanusiakan manusia dan memberi hasil
terbaik.
Transparansi meningkatkan saling percaya dan meningkatkan
kinerja. Dan
profit sharing meningkatkan kualitas demokrasi dan transparansi
kearah yang
lebih produktif. Tapi itu baru kata saya. Anda tentu punya
pendapat atau
pengalaman yang lebih baik.
Mari berbagi.
Yap
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!